pembelajaran-kooperatif

Banyak metode pembelajaran yang dapat dipilih untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan menarik serta hasil pembelajaran yang optimal. Setiap metode pembelajaran memiliki manfaat yang berbeda, tergantung landasan teorinya. Karena itu tidak ada the best learning method. Metode pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisinya. Setiap metode pembelajaran memiliki keuntungan dan kelemahan. Metode pembelajaran kooperatif belakangan ini diharapkan sekali dapat menjadi alternatif untuk kemajuan semua siswa.

Adalah sangat disadari bahwa tanpa kerjasama di antara anggota masyarakat, maka mereka tidak dapat survive. Karena telah terbukti bahwa masyarakat yang survive disebabkan oleh kerjasamanya di antara anggotanya. Untuk bisa siap bekerjasama, dalam masa pendidikan anak-anak perlu ditanamkan nilai-nilai sosial dan dilatih keterampilan sosial sedini mungkin. Diharapkan sekali bahwa guru mampu memanfaatkan kesempatan yang baik untuk memilih suatu metode pembelajaran yang mampu membekali keterampilan sosial.

Perlu difahami bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode belajar yang memungkinkan adanya suatu kelompok kecil. Yang masing-masing siswa sebagai anggotanya memiliki kemampuan yang berbeda bisa sharing antara satu orang dan lainnya. Mereka menggunakan berbagai variasi kegiatan belajar untuk memperbaiki pemahaman dan penguasaan mata pelajaran. Perbaikannya tidak hanya menyangkut aspek akademik saja, melainkan juga aspek sosial, bahkan juga aspek emosional.

Ada sejumlah rasional, bahwa pembelajaran kooperatif itu penting bagi pengembangan diri anak dewasa ini. Pertama, memperbaiki belajar siswa yang berdampak terhadap peningkatan prestasi akademik. Lebih banyak anak berkesempatan untuk aktif belajar dengan anak berprestasi yang ada di kelompoknya. Secara tidak langsung terjadi transfer pengetahuan lebih intens pada setiap kelompok.

Kedua, meningkatkan kecakapan sosial. Belajar kolaboratif di antara anak yang berlatar belakang berbeda, baik kemampuan, suku, agama, budaya maupun status sosial dapat meningkatkan kerjasama dan kecakapan sosial. Siswa bisa latihan berkomunikasi baik impresif maupun ekspresif. Baik komunikasi lisan maupun tulisan. Siswa bisa belajar menghargai pendapat orang lain dan toleran terhadap perbedaan pendapat. Bisa saling membantu antara satu dan lainnya. Di sini kesempatan siswa yang berpotensi tinggi sharing dan peduli untuk menfasilitasi temannya yang berpotensi di bawahnya, sehingga terhindar dari rasa sombong dan arogan serta superior.

Baca Juga:  Dorong Akselerasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Pemerintah Umumkan Keputusan Bersama Empat Menteri

Ketiga, belajar dari teman sebaya. Umumnya anak-anak memiliki keterampilan berbeda, passion dan pengetahuan. Dalam kelompok kolaboratif yang berbeda, ketika pertanyaan muncul, anak yang berbeda dapat memiliki jawaban yang berbeda dan anak dapat belajar sesuatu yang baru dari teman lainnya, tetapi juga dapat memahami pandangan yang berbeda.

Keempat, membangun kepercayaan. Untuk mencapai suatu tujuan, siswa perlu bekerjasama. Mereka dapat bekerja saja tanpa ada saling kepercayaan. Tetapi untuk suatu kolaborasi yang efektif dan mencapai tujuan bersama, mereka perlu belajar untuk saling mempercayai. Dalam pembelajaran kooperatif, antar anggota memiliki hak yang sama. Tidak ada dominasi terhadap lainnya, karena antara satu dan lainnya saling percaya. Jika ada yang tampil kurang, maka yang lainnya membantu, bukan menjatuhkan.

Kelima, lekat sekali dan semangat belajar. Di dalam suatu kelompok kecil, setiap siswa memiliki kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya. Untuk mampu melakukan sesuatu, dan didengar dapat memberikan sesuatu yang penting dan bernilai. Di sini siswa yang lemah menjadi lebih semangat, karena ada kesempatan untuk berbicara dan berpendapat. Apalagi iklim belajar dijauhkan dari sikap judgemental. Semua pendapat dihargai. Di sinilah semua siswa menjadi lebih semangat dan mencintai belajar.

Keenam, memperoleh kepercayaan. Sebagai siswa yang bekerja sebagai tim, mereka juga menerima lebih banyak bantuan, karena itu mereka memperoleh kepercayaan. Belajar kolaboratif dapat membantu siswa yang memiliki rasa malu dalam mengekspresikan dirinya yang lebih. Bahkan ada rasa keberanian untuk tampil. Di sini self esteem siswa menjadi lebih tinggi.

Pembelajaran kooperatif dapat dilakukan untuk semua pelajaran dengan kemasan yang berbeda sesuai dengan kondisi, tujuannya dan konteksnya. Pembelajaran kooperatif di samping diorientasikan untuk peningkatan pencapaian akademik untuk sasaran siswa yang lebih banyak, juga mampu meningkatkan kecakapan sosial dan emosional yang sangat diperlukan dalam kehidupan di masyarakat. Utamanya nanti jika para siswa terjun dalam dunia karir dan pekerjaannya. Di sini pembelajaran tidak hanya bermuatan hardskills saja, melainkan softskills yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia karirnya kelak. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini