Opini

Ora Obah, Ora Mamah?

Kami Pengemudi Ojek Online Tidak Takut Teroris
(Ilustrasi: Suara.com)

Pepatah Jawa berkata “ora obah ora mamah” yang artinya “tidak bergerak tidak makan”. Maksud dari bergerak disini berarti berusaha, bekerja atau kata lain yang sepadan. Berusaha, bergerak dengan maksud untuk bisa memenuhi kebutuhan manusia untuk makan, untuk memenuhi kebutuhannya.

Pepatah tersebut seakan menegaskan perihal cara bertahan manusia. Cara bertahan itu adalah dengan menggerakkan segala daya upaya agar mampu menenuhi hajat kehidupan. Hajat paling sederhana, makan misalnya. Atau untuk memenuhi keperluan manusia yang lebih besar lainnya, manusia harus bergerak untuk menggapai tujuan yang dimaksud.

Lalu, kiranya, masih relevankah pepatah Jawa di atas? Bila ditinjau dari keterpenuhan hajat atau keperluan, tanpa keluar rumah pun, kebutuhan manusia bisa terpenuhi. Mau makan, cukup pesan lewat telepon pintar. Ingin berkirim surat tanpa kertas, layanan surat elektronik siap digunakan kapan pun. Lantas, apa yang dimaksud bergerak dalam pepatah Jawa di atas?

Obah (bergerak) dalam pepatah di atas bisa dimaknai sebagai bentuk usaha seseorang. Usaha seseorang dalam memaksimalkan upayanya untuk bergerak. Bisa bergerak dalam bentuk perniagaan, berdagang misalnya. Bisa juga bergerak dalam bentuk kerja fisik atau jasa.

Tidak bisa diingkari bahwa salah satu kebutuhan primer manusia adalah makan. Untuk bisa makan, manusia perlu berupaya. Tidak peduli manusia itu berupaya dalam bentuk apa, asal tidak mencelakai manusia lain.

Orang mungkin bisa menyangkal bahwa pepatah di atas sudah tak relevan. Dengan perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, seakan manusia tak perlu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, perlu diingat. Meski teknologi sudah demikian maju, tetap terlihat adanya obah (bergerak) dalam dunia teknologi. Orang masih perlu menggerakkan jarinya untuk memesan makanan lewat telepon pintar, masih ada petugas yang bergerak untuk merawat jaringan sinyal untuk telepon pintar, masih diperlukan orang yang bergerak untuk merakit perangkat pintar, dan lainnya.

Orang boleh berpendapat bahwa nantinya manusia tak perlu repot melakukan apa pun dalam hidupnya. Teknologi akan menyediakan apa pun keperluan manusia. Manusia cukup duduk manis, menyaksikan teknologi melayani segala keperluan manusia.

Memang, ada benarnya. Namun, pandangan seperti itu seakan menafikan peran sentral manusia dibalik kecanggihan teknologi yang ada. Dan juga, pandangan seperti itu akan melahirkan kepasifan pergerakan manusia. Hingga akhirnya, cocok dengan perkataan Jawa “ora obah babar pisan” alias tidak bergerak sama sekali.
Wallahu a’lam.

Hanif Nanda Zakaria
Penulis Buku "Bang Ojol Menulis" Alumnus Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini