Setakat ini adalah ulasan atas kitab yang berjudul Adhwâ al-Sirâj fî Tarjamah Hadîts al-Mi’râj. Kitab tersebut merupakan karya terjemahan berbahasa Sunda Pegon atas kitab Hâsyiah al-Dardîr yang semula berbahasa Arab karya al-Imâm al-Dardîr (w. 1786).

Versi terjemahan berbahasa Sunda Pegon atas karya di atas diupayakan oleh KH. Muhyiddin (w. 1973), seorang ulama-pejuang asal Tatar Sunda yang juga pendiri pesantren Pagelaran di kawasan Sumedang dan Subang. KH. Muhyiddin Pagelaran juga terbilang sebagai kakek dari Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat saat ini.

Tertulis keterangan pada halaman sampul:

أضواء السراج في ترجمة حديث المعراج
ترجمة حديث معراج كو بهاس سوندا كيڠڠ نرجمهكن حج محي الدين ݢورو فاسنترين فݢلاران چي سالاك فورواكرت كرواڠ
غفر الله له ولوالديه وللمسلمين آمين

(Adhwâ al-Sirâj fî Tarjamah Hadîts al-Mi’râj [Cahaya Pelita dalam Terjemahan Hadits Isra Mi’raj] tarjamah hadits mi’raj ku bahasa Sunda, kenging nerjemahkeun Haji Muhyiddin guru Pasantren Pagelaran, Cisalak, Purwakarta, Karawang. Ghafatallâhu lahu wa li wâlidaihi wa lilmuslimîn âmîn [terjemah hadits mi’raj dalam bahasa Sunda, diterjemahkan oleh Haji Muhyiddin guru Pesantren Pagelaran, Cisalak, Purwakarta, Karawang. Semoga Allah mengampuninya, juga kedua orang tuanya dan seluruh umat Muslim. Amin])

Dalam keterangan di atas, KH. Muhyiddin disebut sebagai seorang guru pesantren Pagelaran yang teradapat di kawasan Cisalak, Purwakarta, Karawang. Pembagian wilayah administratif tersebut mungkin tampak membingungkan untuk pembaca pada masa sekarang ini. Hal ini karena kawasan Pagelaran (Cisalak) pada masa sekarang ini masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Subang. Sementara Purwakarta dan Karawang adalah masing-masing kapubaten tersendiri.

Rupanya, pada masa kolonial Hindia Belanda dulu, wilayah administratif yang disebut Kabupaten Karawang meliputi Karawang, Purwkarta dan Subang saat ini. Subang dan Purwakarta pada masa itu adalah distrik yang berada di bawah wilayah bagian Kabupaten Karawang.

* * * * *
Menariknya, kitab “Adhwâ al-Sirâj” karya KH. Muhyiddin Pagelaran ini dicetak oleh “Mathba’ah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî”, sebuah percetakan besar yang berbasis di Kairo (Mesir) milik keluarga saudagar asal Halab (Aleppo, Suriah). Percetakan “al-Halabî” telah eksis sejak paruh kedua abad ke-19 M.

Meski dicetak di Kairo, namun biaya percetakan kitab tersebut diprakarsai oleh Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Afîf, seorang saudagar pemilik Toko Kitab “Mesir” yang berbasis di Cirebon (Jawa Barat) dan juga rekanan percetakan al-Halabî untuk kawasan Melayu-Nusantara.

Saya sendiri mendapatkan kopian naskah kitab ini dari versi cetakan ketiga, bertahun 1355 Hijri/1936 Masehi. Artinya, edisi cetakan pertama dari kitab karya KH. Muhyiddin Pagelaran ini tentu telah dicetak jauh beberapa tahun sebelumnya, yang dimungkinkan antara tahun 1930-an. Jumlah keseluruhan halaman kitab pada edisi cetakan ketiga ini adalah 60 (enam puluh) halaman. Tertulis di sana:

الطبعة الثالثة
طبع على نفقة الشيخ عبد الله بن عفيف وشركاه
أصحاب المكتبة المصرية شربون جاوه
مطبعة مصطفى البابي الحلبي وأولاده بمصر
1355 هـ / 1936 م

(Cetakan ketiga, dicetak atas biaya Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Afîf dan perusahaannya. Pemilik “al-Maktabah al-Mishriyyah” di Cirebon, Jawa. [dicetak di] Percetakan Musthafâ al-Bâbî al-Halabî wa Awlâduhu di Mesir)

Saya mendapatkan naskah kopian kitab ini dari sahabat saya Alfadhil Nenden Ahmad Muhibuddin, almuni Pesantren Lirboyo (Kediri, Jawa Timur) yang juga keluarga pengasuh Pesantren Nurul Fata Cikondang (Sukabumi, Jawa Barat)

* * * * *
Dalam kata pengantarntya, KH. Muhyiddin Pagelaran mengatakan bahwa salah satu kitab rujukan terpenting untuk mengkaji peristiwa isra mi’raj di masa kenabian adalah kitab “Hâsyiah al-Dardîr” karya al-Imâm al-Dardîr (w. 1786 M). Kitab tersebut merupakan ulasan panjang (hâsyiah) atas teks “Hadîts Mi’râj” yang sebelumnya telah disusun oleh Syaikh Najm al-Dîn al-Ghîthî (w. 1576 M). Keberadaan kitab tersebut sangat populer dan tersebar luas di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. KH. Muhyiddin Pagelaran menulis:

Baca Juga:  Kitab “Campaka Mulia” (Batavia: 1897) dan Awal Mula Sejarah Percetakan Kitab-Kitab Sunda Pegon

أما بعد. مڠكا أري كتاب حديث معراج أنو مشهور نو دي ألف منفعة كو سكابيه قوم٢ مسلمين دي فولو جوا ڽايت حديث معراج كراڠن الشيخ العلامة الهمام بركة الأنام نجم الدين الغيطي أنو دي حاشية هن كو الشيخ الإمام العارف بالله أبو البركات سيدي أحمد الدردير.

(Ammâ ba’du. Mangka ari kitab “Hadîts Mi’râj” anu mashur nu di alap mangpaat ku sakabeh kaum-kaum muslimin di Pulo Jawa, nyaeta karangan Syaikh al-‘Allâmah al-Hammâm Barakah al-Anâm Najm al-Dîn al-Ghîthî, anu dihasiahan ku Syaikh al-Imâm al-‘Ârif billâh Abû al-Barakât Sayyidî Ahmad al-Dardîr//Ammâ ba’du. Maka adapun kitab “Hadîts Mi’râj” yang masyhur yang banyak diambil manfaatnya oleh para umat Muslim di Pulau Jawa, adalah karanga Syaikh al-‘Allâmah al-Hammâm Barakah al-Anâm Najm al-Dîn al-Ghîthî, yang dihâsyiah oleh Syaikh al-Imâm al-‘Ârif billâh Abû al-Barakât Sayyidî Ahmad al-Dardîr)

Selanjutnya, KH. Muhyiddin Pagelaran mengungkapkan motivasi dirinya menulis karya terjemahan ini. Disebutkannya, bahwa telah banyak beberapa kolega yang meminta dirinya untuk dapat menerjemahkan kitab “Hâsyiah al-Dardîr” ke dalam bahasa Sunda agar dapat lebih mudah difahami dan dipelajari oleh kalangan pembaca Sunda yang tidak memiliki kemampuan bahasa Arab. Tertulis di sana:

تنا مرݢ كتو سئر أنو موندوة كاكوريڠ سفيا ڽونداكن أيت كتاب موڠ كوريڠ هنت أيڠݢل ڽومڠݢاكن كانو موندوة تنا ڠيموتكن ديري نو لئن أهل كان صنعه اي. نڠيڠ لجڠ مونتڠ كاݢوستي الله سبحانه وتعالى ڽوهونكن دي تياسكن ڠالكسنكن فموندة نانو موندة إنه على كل شيئ قدير وبالإجابة جدير.

(Tina margi seueur anu mundut ka kuring supaya nyundakeun eta kitab, mung kuring henteu enggal nyumanggakeun ka nu mundutna ngemutkeun diri nu lain ahli kana shan’ah ieu. Nanging lajeng muntang ka Gusti Alloh SWT nyuhunkeun ditiasakeun ngalaksanakeun pamundutana anu mundut. Innahû ‘alâ kulli syai’in qadîr wa bil ijâbati jadîr//Oleh sebab banyak yang meminta kepada saya agar menerjemahkan kitab tersebut ke dalam bahasa Sunda, hanya saja saya tidak segera memenuhi permintaan itu, mengingat diri saya yang bukan ahli dalam upaya penerjemahan tersebut. Namun saya pun memohon kepada Allah SWT agar diberi kemampuan untuk memenuhi permintaan tersebut. Sesungguhnya Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan mampu memenuhi segala macam kehendak)

* * * * *
Dalam upaya menerjemahkan kitab “Hâsyiah al-Dardîr” ini, KH. Muhyiddin Pagelaran menuliskan teks berbahasa Arab terlebih dahulu, baru kemudian versi terjemahan bahasa Sunda sekaligus penjelasannya disusulkan setelahnya. Metode penerjemahan yang digunakan olehnya adalah metode elektik atau campuran, yang memadukan unsur tekstual dan kontekstual. Hal ini karena menurut KH. Muhyiddin Pegalaran, terdapat banyak kasus yang menuntutnya untuk tidak menerjemahkan beberapa kata berbahasa Arab secara tekstual ke dalam bahasa Sunda, guna menghindari kesalahfahaman arti dan penafsiran berulang-ulang. Karena itu, dalam beberapa kasus, ia menerjemahkannya secara maknawi dan kontekstual.

Baca Juga:  Kitab “Campaka Mulia” (Batavia: 1897) dan Awal Mula Sejarah Percetakan Kitab-Kitab Sunda Pegon

KH. Muhyiddin Pagelaran menulis:

مڠك أري ڽونداكن ننا أيت كتاب دي توليس لفظ عراب نا لجڠ دي سونداكن كو بهاس سوندا أنو لمفڠ أنو هنت كارف كان دي هرتكن دئي. تنا مرݢ كتو أيا أوݢي ترتيب نا سوندا أنو هنت مچقلكنا ترتيب عراب نا كرنا لمون نموتكن سكومها ترتيبنا نظم عرب ايت تڠتو بس سوندا تيه مينت دي سوندكن دي.

(Mangka ari nyundakeunana eta kitab ditulis lapad Arab na, lajeng disundakeun ku bahasa Sunda anu lempeng, anu henteu karep kana dihartikeun deui. Tina margi kitu aya oge tartibna Sunda anu henteu macaplakna tartib Arabna, karna lamun numutkeun sakumaha tartibna nadom Arab eta tangtu basa Sunda teh menta disundakeun deui//Maka dalam upaya menerjemahkan kitab ini ke dalam bahasa Sunda, terlebih dahulu ditulis lafazh berbahasa Arabnya, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda yang lurus, yang sekiranya tidak memerlukan penjelasan lagi. Meski demikian, terdapat pula susunan terjemahan yang berbahasa Sunda itu tidak secara harfiah [tekstual] seperti susunan berbahasa Arabnya, karena kalau hal tersebut dilakukan sebagaimana dalam menerjemahkan susunan puisi Arab, tentu saja bahasa Sundanya akan perlu penjelasan berkali-kali)

Contoh terjemahan yang dilakukan oleh KH. Muhyiddin Pagelaran dapat kita simak dalam bagian awal kitab tersebut. Tertulis di sana:

… (بينما النبي صلى الله عليه وسلم في الحجر عند البيت مضطجعا بين رجلين) دنا وقت كڠجڠ نبي صلى الله عليه وسلم دي حجر إسماعيل چكتن بيت الله أيبوك كان كيديڠ نو تڠن دنا أنتوس دوا جلم للاك. أري حجر تيه ڽائت أنو دي فݢر تي فوڠفوك كعبة بله كالير مله نو ݢنف أست تنا حجر دوݢ كان بيت ايت كابلڠ بيت الله كينيه. مڠك أري دوا للاك تييا أيت نو هج فمن كڠجڠ نبي صلى الله عليه وسلم كا٢سيه سيدنا حمزة أري نو هج دئي فترى أووانا كا٢سيه ن جعفر بن أبي طالب سم ڠهافة سرت هندف أسور

([…] dina waktu kangjeng Nabi SAW di Hijir Ismail caketna Baitullâh, ebok kana kedeng nu tengen dina antawis dua jalma lalaki. Ari Hijir Ismail teh anu di pager ti pongpok Ka’bah beulah kaler malah nu genep asta tina Hijir dugi ka Bait eta kabilang Baitullâh keneh. Mangka ari dua lalaki tea eta nu hiji paman kangjeng Nabi SAW kakasih Sayyidina Hamzah, ari nu hiji deui putra uwana kakasihna Ja’far bin Abî Thâlib sim ngahapat sarta hanap asor//[…] pada waktu Nabi SAW di Hijir Ismail dekat Baitullâh, berbaring di antara dua orang lelaki. Adapun Hijir Ismail adalah yang dipagar di pinggir Ka’bah sebelah utara, malah ruang yang berjarak enam hasta dari Hijir hingga Bait terhitung sebagai Baitullâh. Maka adapun dua orang lelaki itu, yang pertama adalah paman Nabi SAW yang bernama Hamzah, dan yang kedua adalah anak dari pamannya yang bernama Ja’far bin Abî Thâlib yang berbudi dan rendah hati)

* * * * *
Pada halaman akhir kitab, terdapat keterangan jika kitab karya terjemahan KH. Muhyiddin Pagelaran ini telah ditashih dan dikoreksi oleh seorang yang bernama Muhammad al-Indûnîsî. Di sana, disebutkan pula jika pemegang hak cetak atas karya tersebut adalah Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Afîf, pemilik toko kitab “Mesir” yang berbasis di Cirebon. Hak cetak tersebut juga dilindungi oleh undang-undang Hindia Belanda. Tercatat di sana:

Baca Juga:  Kitab “Campaka Mulia” (Batavia: 1897) dan Awal Mula Sejarah Percetakan Kitab-Kitab Sunda Pegon

يقول راجي غفران المساوي مصححه محمد الأندنوسي
فرنتوس تمت سالينان كتاب أضواء السراج في ترجمة حديث المعراج سارڠ كيڠيڠ فيتودوه الله سبحانه وتعالى. موݢي٢ اي أوسها تياس مليا دي دنيا سارڠ دي أخيرة. سارڠ چومي الشيخ عبد الله بن عفيف توكو مصر دي شربون أنجنا أنو ڠݢادوهن حق كرڠوسهاكن چتنا ايت كتاب انو فرنتوس كاسبت دي فايون. أوݢي اي كتاب٢ سدايا دي تراڠ كن ميتوروت اونداڠ٢ نݢارا هنديا ندلرن ستات بلاد 1918 نمور 8 لبت فصل 11 تينا ستات بلاد 1912 نمور 600 وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم. والحمد لله رب العالمين

(Berkata seorang yang mengharapkan ampunan Allah Sang Maha Pengampun Dosa, yaitu pentashih kitab ini yang bernama Muhammad al-Indûnîsî// Parantos tamat salinan kitab “Adhwâ al-Sirâj fî Tarjamah Hadîts al-Mi’râj” sareng kenging pituduh Allah SWT. Mugi-mugi ieu usaha tiasa mulya di dunya sareng di aherat. Sareng Cuma Syaikh ‘Abdullâb b. ‘Afîf Toko Mesir di Cirebon anjeuna anu ngagaduhan hak keur ngusahakeun cetakna ieu kitab anu parantos kasebat di payun. Oge ieu kitab-kitab sadaya diterangkeun miturut undang-undang negara Hindia Nederland statblaad 1918 pasal 11, tina statblaad 1912 nomer 600. Washallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn// telah selesai menyalin kitab “Adwâ al-Sirâj fî Tarjamah al-Isrâ wa al-Mi’râj” dengan beroleh petunjuk Allah SWT. Semoga usaha ini dapat menjadi mulia di dunia dan akhirat. Dan hanya Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Afîf Toko Mesir Cirebon yang memiliki hak untuk mencetak kitab ini, sebagaimana telah disebut di halaman muka. Demikian juga kitab-kitab yang lainnya sebagaimana telah diatur oleh undang-undang negara Hindia Nederland staatsblad 1918 pasal 11, dari staatsblad 1912 nomer 600. Washallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn)

* * * * *
Selain kitab “Adhwâ al-Sirâj” yang ditulis oleh KH. Muhyiddin Pagelaran, terdapat juga sejumlah kitab berbahasa Sunda Pegon lainnya yang dicetak di Kairo pada masa pra-kemerdekaan, seperti kitab-kitab karya Rd. Mukhtar Natanagara Bogor atau yang dikenal dengan nama Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî (w. 1930), seorang mahaguru ulama Sunda yang mengajar di Makkah pada awal abad ke-20 M.

Beberapa kajian atas kitab-kitab karya ulama Sunda dan ulama asal wilayah Nusantara lainnya yang diterbitkan di Kairo pada masa kolonial di antaranya telah ditulis oleh Prof. Dr. Nico Kaptein dari Universitas Leiden, Belanda, dalam artikel singkatnya yang berjudul “Jawi books in Cairo” (https://www.kitlv.nl/blog-jawi-books-cairo/), juga Prof. Dr. Oman Fathurrahman dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam artikelnya yang berjudul “Kitabs from Cairo: An Overview of the New Collection of Southeast Asian Kitabs at Sophia University” (Comparative Study of Southeast Asian Kitabs, Tokyo: NIHU Program, 2012), termasuk halnya kajian A. Ginanjar Sya’ban dalam artikelnya yang berjudul “al-Syaikh Mukhtâr ‘Athârid wa al-Kutub al-Shundâwiyyah al-Mathbû’ah fî Makkah wa al-Qâhirah Awâ’il al-Qarn al-‘Isyrîn [Syaikh Mukhtar Bogor dan Kitab-Kitab Sunda yang Dicetak di Makkah dan Kairo Awal Abad 20]” dalam jurnal internasional “Islam Nusantara”, vol. 2 no. 1 (2021)
(http://journal.unusia.ac.id/index.php/ISLAMNUSANTARA/article/view/106)

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Alumnus Mahasiswa Al Azhar, Dosen UNUSIA Jakarta, dan Peneliti Ulama Islam Nusantara.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Kitab