Press ESC to close

TAREKAT SANG MUSNID DUNIA

Sisi tarekat Syekh Yasin Al Fadani memang jarang terdengar, namun jarang terdengar bukan berarti tidak ada. Justru hal itu menjadi bukti keberhasilan Syekh Yasin dalam mengamalkan salah satu hikmah Ibnu Athaillah, salah seorang pembesar Tarekat Syadziliyah:

ادفن وجودك في أرض الخمول

 

Sudah maklum bahwa ulama sekelas beliau menjadi salah satu poros sanad dunia. Bahkan banyak ulama di berbagai penjuru dunia bersambung sanad kepadanya. Syeikh Yasin al Fadani adalah seorang mutafannin (menguasai berbagai bidang keilmuan). Hal ini tampak dari karya-karya beliau yang mencapai ratusan, khususnya dalam bidang sanad.

 

Berbeda dengan keluasan ilmu beliau yang terkenal luas, sisi tarekat beliau justru jarang terungkap di hadapan publik. Kami mengetahui bahwa Syekh Yasin merupakan seorang mursyid dari murid beliau yang mewarisi ilmu sekaligus kekhumulannya, yaitu Syaikhuna KH. Aly Mas'adi, yang beliau tunjuk sebagai salah satu penerus dalam bidang thariqah. Kyai Aly Mas'adi diberi ijazah talqin seluruh tarekat milik Syekh Yasin secara umum, dan enam tarekat secara khusus, yaitu Syadziliyah, Qadiriyyah, Naqsyabandiyah, Suhrawardiyyah, Jisytiyyah, dan Khidliriyyah. Bahkan dalam beberapa kesempatan kami mendengar jumlahnya mencapai delapan tarekat.

 

Kemursyidan Syekh Yasin al Fadani secara tidak langsung juga beliau ungkapkan sendiri dalam salah satu kitabnya, An Nafhatul Miskiyyah fi Al Asanid Al Makkiyyah. Dalam kitab tersebut beliau menuliskan sanad baiat dzikir yang diriwayatkan secara musalsal dari Sayyid Zaky bin Ahmad al Barzanji dan Sayyid Ali bin Falih Adz Dzahiri untuk Tarekat Khalwatiyyah Suhrawardiyyah. Tidak hanya itu, beliau juga menerima talqin dzikir Syadziliyah dari Syekh Umar Hamdan al Mahrasi dan Syekh Khalifah an Nabhani, salah seorang murid Syekh Haqqi an Nazili.

 

Tentang musalsal baiat, Syekh Abdul Baqi al Laknawi dalam Manahil menjelaskan bahwa Musalsal bil Mubaya'ah adalah:

مسلسل بالتربية والإذن بالتسليك بعد التأهل له مع الصحبة المعتبرة في علوم الإسناد

“Musalsal dalam pendidikan ruhani serta izin untuk membimbing suluk setelah memenuhi kualifikasi untuk membimbing, disertai suhbah yang mu'tabar dalam ilmu sanad.”

 

Selain nama-nama di atas, Syekh Yasin juga menerima ijazah talqin dzikir dari ayah beliau, Syekh Isa, dan pamannya, Syekh Mahmud. Beliau juga mengambil Tarekat Sanusiyyah dari Syarif Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali as Sanusi, Tarekat Alawiyyah dari Sayyid Idrus bin Salim Al Bar, ilbas Tarekat Naqsyabandiyah dan Qadiriyyah beserta talqin dzikir dari Syekh Ahyad Bogor, serta menerima ijazah Tarekat Syadziliyah Darqawiyyah Nashiriyyah dari Muhaddits Syam, Syekh Badruddin al Hasani. Selain itu, beliau juga memperoleh ijazah banyak tarekat dari Syekh Abdul Qadir Asy Syalabi, dan masih banyak lagi.

 

Sebagian orang mungkin bertanya, “Jika Syekh Yasin memiliki banyak ijazah tarekat, mengapa beliau tidak dikenal sebagai mursyid atau tidak mengijazahkan tarekat kepada murid-muridnya?”

 

Pertanyaan ini pernah kami ajukan kepada beberapa murid Syekh Yasin al Fadani, khususnya kepada Kyai Aly Mas'adi. Dari penjelasan tersebut kami menyimpulkan bahwa Syekh Yasin hanya memberikan ijazah tarekat kepada murid-murid yang benar-benar layak, serta menyesuaikan tarekat yang berkembang di daerah asal murid tersebut.

 

Syekh Yasin memiliki cara yang unik dalam mengajarkan tarekat. Beliau mengajarkannya dengan metode para muhadditsin, yaitu menyampaikan inti tarekat melalui hadits-hadits musalsal yang berkaitan dengan tarekat. Beliau tidak langsung membaiat, tetapi terlebih dahulu mengajarkan bagaimana seorang ahli tarekat harus memiliki sifat kasih sayang dan cinta sebagaimana termaktub dalam musalsal bil awwaliyyah dan musalsal bil mahabbah.

Selain itu, beliau juga mengajarkan akhlak dan ahwal para sadah shufiyyah, seperti memakai imamah dan tasbih sebagaimana termaktub dalam musalsal bis shufiyyah, musalsal bil imamah, dan musalsal bis suhbah. Beliau juga menanamkan pentingnya hubungan kuat antara murid dan guru, seperti berjabat tangan, mencium tangan guru, memandang dengan penuh kasih, berkumpul secara zahir maupun batin dalam dzikir bersama, serta mendengarkan ilmu dan nasihat guru sebagaimana termaktub dalam musalsal bil mushafahah, musyabakah, ru'yah, dan suhbah.

Selanjutnya beliau juga memberikan talqin, baiat, serta khirqah shufiyyah sebagaimana tradisi luhur para ahli tarekat yang termaktub dalam musalsal talqin dzikir, mubaya'ah ala dzikir, dan musalsal bi ilbas khirqah shufiyyah. Masih banyak lagi musalsal lain yang diajarkan Syekh Yasin, seperti bis sual anil ikhlas, bis sual an ilmil bathin, maupun musalsal yang mengajarkan cara mengagungkan seorang guru.

 

Kembali pada Musalsal bil Mubaya'ah ala Dzikr dalam An Nafahat al Miskiyyah, Syekh Yasin menjelaskan tata cara baiat Rasulullah kepada Sayyidina Ali. Rasulullah memerintahkan Sayyidina Ali untuk memejamkan mata dan mendengarkan kalimat la ilaha illallah sebanyak tiga kali dari lisan Rasulullah. Setelah itu Rasulullah melafazkan la ilaha illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu diikuti oleh Sayyidina Ali sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

 

Syekh Yasin kemudian menjelaskan bahwa talqin atau baiat yang dilakukan Rasulullah dan Sayyidina Ali berlangsung dalam keadaan khalwat. Oleh karena itu para ulama tarekat mensyaratkan baiat dilakukan dalam kondisi khalwat, sebagaimana diamalkan dalam Tarekat Khalwatiyyah. Pada akhir penjelasannya, Syekh Yasin menyebutkan referensi tentang musalsal mubaya'ah yang diambil dari Kitab Raihanul Qulub. Setelah kami membaca kitab tersebut, kami mendapati bahwa praktik baiat yang tertulis di dalamnya ternyata serupa dengan yang dilakukan Kyai Aly Mas'adi ketika membaiat Akhina Fillah Ustadz Ma'ruf al Jabuni secara khusus. Kami menduga dengan dugaan yang kuat bahwa Kyai Aly dibaiat secara khusus oleh Syekh Yasin dengan metode seperti ini, melihat kuatnya ta'alluq Kyai Aly kepada gurunya, Syekh Yasin al Fadani.

Selain mengajarkan tarekat melalui musalsal, Syekh Yasin al Fadani juga sering mengajarkan tarekat dengan membacakan kitab-kitab rujukan utama, seperti Mafakhir Aliyyah untuk Tarekat Syadziliyah dan Awariful Ma'arif untuk Tarekat Suhrawardiyyah. Karena itu tidak mengherankan jika beliau disebut Syaikhul Jami', sebagaimana tertulis dalam nash ijazah yang dituliskan Syaikhuna Aly Mas'adi untuk kami, yaitu seorang yang menghimpun syariat, tarekat, dan hakikat secara riwayah maupun dirayah yang bersambung cahaya dan ilmunya kepada Rasulullah.

 

Tulisan ini kami akhiri dengan kisah unik, perjalanan keisykalan menuju keyakinan dari seorang yang sering mengaku sebagai murid Kyai Aly Mas'adi terkait sanad Tarekat Syadziliyah Syekh Yasin al Fadani melalui Ahmad bin Madzhar bin Abi Sa'id ad Dihlawi sebagaimana ditulis Kyai Aly Mas'adi dalam kitab Anwarus Saniyyah:

وشيخنا الفاداني أخذ أيضًا وتلقن من شيخه العارف بالله المرشد المربي المحدث أحمد بن مظهر الدهلوي المدني وهو عن العارف بالله الشيخ المربي محمد بن محمد حسن بن ظافر المدني

 

Dalam benak santri yang unik ini terdapat tiga hal yang mengganjal pikirannya terkait sanad tersebut. Pertama, karena Syekh Ahmad Madzhar dalam nash ijazahnya untuk Syekh Yasin menuliskan nisbah dirinya sebagai an Naqsyabandi, sedangkan keluarga Dihlawi terkenal dengan Tarekat Naqsyabandiyahnya, lalu mengapa terdapat sanad Syadziliyah. Kedua, terkait usia Syekh Yasin yang masih sangat muda ketika belajar tentang hal ini dari gurunya, yaitu sekitar lima belas tahun, bahkan hanya setahun sebelum wafatnya Syekh Ahmad Madzhar. Ketiga, ia beranggapan bahwa Syekh Muhammad bin Hasan Dzafir al Madani tidak tercatat sebagai guru Ahmad Madzhar dalam kitab-kitab Syekh Yasin.

 

Tiga hal tersebut membuatnya sering bertanya dalam berbagai majelis dan kesempatan tentang tarekat Syekh Yasin kepada Kyai Aly. Meski pertanyaannya dinilai kurang sopan oleh sebagian santri, Kyai Aly selalu menjawabnya dengan lembut, penuh ilmu, dan mudah diterima hati. Akhirnya dua kejanggalannya terjawab, yaitu kejanggalan pertama dan kedua. Adapun kejanggalan ketiga masih belum terjawab karena menurutnya belum ditemukan data yang valid.

 

Hingga akhirnya keajaiban datang ketika santri tersebut berkhidmah kepada para santri yang mulazamah kepada Kyai Aly saat rihlah. Sebelum mengantar kepulangan para mulazimin, ia mencoba membedah sanad Tarekat Syadziliyah Syekh Yasin melalui jalur Syekh Ahmad Madzhar bersama mereka. Terjadi perdebatan panjang, namun ia tetap belum menemukan jawaban yang memuaskan hatinya.

 

Setelah mengantar para mulazimin ke stasiun, ia pulang ke rumah untuk beristirahat. Di atas tempat tidurnya, tanpa sengaja ia membuka kitab dan manuskrip karya Syekh Yasin. Anehnya, justru malam itu ia menemukan jawaban yang selama ini dicari sehingga terjawablah keisykalan terakhirnya. Jangan dikira santri ini belum pernah membaca kitab tersebut. Ia sudah sangat sering membacanya, namun anehnya jawaban atas keisykalannya baru ia temukan pada malam itu. Keisykalan hilang, keyakinan datang, dan keberkahan diperoleh melalui khidmah kepada sang guru.

 

Untuk mengetahui kisah lengkapnya, dapat mengikuti Majelis Sunan an Nasa'i di Mojosari karena santri tersebut insyaallah akan hadir. Tulisan ini kami tulis dengan harapan semoga Allah senantiasa memberikan taubat, futuh, dan istiqamah kepada kami, serta melimpahkan rahmat-Nya melalui keberkahan para guru kami, khususnya Kyai Ali Mas'adi dan guru-guru beliau, terutama Syekh Yasin al Fadani.

 

Ditulis oleh yang mengaku santri

M.R. Zukhruf, Semarang

dengan sedikit penyesuaian kalimat

Pada Jum'at, 15 Mei 2026.

 

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Ngaji Adabu Sulukil Murid: Mengakui Kesalahan, dan Bertaubat kepada Tuhan.
Mengenal Mbah Bolong: Dari Panggung Dakwah, Pengasuh Pesantren hingga Mendirikan SMK Berprestasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.