Press ESC to close

Ngaji Adabu Sulukil Murid: Mengakui Kesalahan, dan Bertaubat kepada Tuhan.

Mengakui kesalahan dan bertaubat merupakan langkah yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menekankan pentingnya mengakui kesalahan bagi setiap manusia, sebab manusia tidak lupat dari berbuat kesalahan. Sebab itulah Allah Swt. membuka pintu penyesalan dan taubat bagi hambanya yang berbuat salah.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengatakan bahwa apabila seseorang pernah melakukan kezaliman ataupun kesalahan terhadap saudaranya yang menjadi tanggungan, maka segera bergegas untuk menyelesaikan kewajiban itu. Sebab jika kita masih memiliki tanggungan maka kita mustahil untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Selanjutnya adalah bahwa seseorang dianggap bertaubat apabila memenuhi syarat. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengatakan:

وَشَرْطُ صحّةِ التَّوْبَةِ صِدْقُ النّدم عَلى الذّنُوبِ مَعَ صِحّةِ العَزْمِ عَلَى تَرْكِ العَوْدِ إِلَيْهَا مُدَّةَ العُمْرِ

Syarat sah dalam bertaubat adalah benar-benar menyesal atas dosa-dosanya, disertai kesungguhan tekad berhenti dari mengulangi kesalahan seumur hidup. Ini menjadi tanda bertaubat tidak hanya sekedar mengakui kesalahan, melainkan komitmen untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Apabila seseorang mengaku bertaubat tetapi masih terus melakukan kesalahan dan atau ingin melakukan kesalahan maka tidak bisa dihitung sebagai taubat.

Tetapi yang perlu dipahami juga adalah manusia pasti tidak luput dari dosa. Oleh karena itu mengakui kesalahan juga komitmen untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat (dosa kecil dan dosa besar). Mengapa demikian? karena maksiat adalah layaknya seperti racun yang merasuki tubuh kita. Ketika seseorang meminum racun, maka racun tersebut akan bereaksi ke dalam tubuh yang menyebabkan kematian. Begitu juga dengan maksiat, seseorang yang selalu bermaksiat maka akan menyebabkan kematian hati. Sehingga ia akan jauh dari Tuhan dan terjerumus ke dalam kebinasaan.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan bahwa jika hati seseorang sudah binasa maka ia tidak akan mendapatkan keberuntungan, kemuliaan, dan rido dari Allah Swt. Oleh karena itu bertaubat adalah bentuk dari menjaga hati supaya tetap bersih.

Mengakui kesalahan dan komitmen tidak melakukan kesalahan saja ternyata belum cukup. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menerangkan pentingnya juga untuk mengakui ketidaksempurnaan dalam melakukan ibadah sebagai kewajiban dia kepada Tuhan. Pengakuan ini ternyata memiliki dampak kepada kualitas hati, yaitu seseorang akan merasa resah dan akan mengharap rido Allah Swt., Ketika hati resah atas ketidaksempurnaan ibadahnya maka itu tanda Allah bersama dengan-Nya. Sebagaimana hadis Qudsi:

أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ أَجْلِي

“Aku bersama orang-orang yang hatinya selalu resah dari mengharap ridha-Ku”.

Mohammad Fauzan Ni'ami

Akrab dipanggil Amik. Seorang santri abadi pegiat hukum keluarga, gender, dan disabilitas.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.