Sholawat Badar: Kisah di Balik Terciptanya Sholawat Badar

صَـلا َةُ اللهِ  سَـلا َمُ اللهِ         عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ

صَـلا َةُ اللهِ  سَـلا َمُ اللهِ         عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

 

Banyak orang yang belum tahu bahwa sholawat badar merupakan karangan ulama nusantara. KH Ali Mansur, pengarang gubahan syair badar ini. Sholawat ini mulai terkenal pada tahun 1960-an. Gubahan Badar ini penuh dengan misteri dan teka-teki.

Pada suatu malam, Kyai Ali Mansur tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus menerus memikirkan desas-desus politik yang semakin tidak menguntungkan NU. PKI semakin mendominasi kekuasaan di pedesaan, Kyai Ali Mansur sebagai ulama yang cukup terkenal tentu saja memikirkan hal tersebut. Sambil merenung, Kyai Ali Mansur memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab, yang mana beliau sejak nyantri di Pondok Lirboyo, terkenal dengan kecerdasannya dalam menulis syair. Kegelisahan Kyai Ali berbaur dengan rasa heran kerena hampir setiap malam beliau bermimpi didatangi para Habib berjubah putih-hijau di ndalem beliau. Hal yang sama dirasakan istri beliau yang bermimpi bertemu dengan Rasululahﷺ. Kondisi ini tentu membuat perasaan beliau semakin campur aduk.

Keesokan harinya, beliau sowan pada Habib Hadi al–Haddar Banyuwangi. Lalu mimpi itu ditanyakan kepada Habib Hadi al–Haddar. Lantas sang habib menjawab “MasyaAllah, itu Ahlul Badar (para mujtahid yang ikut dalam perang badar 624 M”. Akhirnya beliau pulang dengan perasaan gundah dan penuh dengan tanda tanya. Sepulang dari rumah Habib Hadi al–Hadar, beliau melanjutkan menulis gubahan badar.

Hari berikutnya banyak tetangga yang datang ke rumah beliau membawa beras, daging, buah–buahan dan sesaji lainnya, layaknya mendatangi orang yang akan punya hajat besar. Kyai Ali Mansur terdiam melihat keadaan seperti ini. Lantas, mereka bercerita bahwa pada pagi-pagi buta, pintu rumah mereka didatangi seorang berjubah yang memberitahu bahwa dirumah Kyai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu Kyai Ali Mansur sesuai kadar kemampuannya. Pernyataan tersebut terus mengiang dalam benak Kyai Ali Mansur tanpa ada jawaban dan tidak menemukan titik terang satu pun. Akan tetapi, malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu “tamu” itu siapa, dari mana datangnya, untuk apa dan ada keperluan apa. Kyai Ali Mansur terus menunggu, “sebenarnya siapa yang akan datang” itu adalah pertanyaan yang terngiang–ngiang dalam benaknya. Menjelang matahari terbit, tiba–tiba ada serombongan para habib berjubah putih-putih hijau yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta datang ke rumah Kyai Ali Mansur.

Baca Juga:  Sholawat, Kunci Bahagia Dunia Akhirat

“ﺍﻟﺤـﻤﺪﻟﻠﻪ“

Ucap Kyai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah Habib yang sangat dihormati keluarganya. Setelah berbincang membahas perkembangan PKI dan kondisi politik yang tidak menguntungkan bagi NU, tiba–tiba Habib Ali al-Habsyi menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kyai Ali Mansur, “Kyai, mana syair yang njenengan buat? Tolong bacakan dan lagukan di hadapan kami”, kata Habib Ali Al-Habsyi. Tentu saja Kyai Ali Mansur terkejut, dari mana Habib Ali al-Habsyi tahu syair yang Kyai Ali Mansur kerjakan. Lalu, Kyai Ali segera mengambil kertas yang berisi catatan Sholawat Badar hasil gubahannya semalam, kemudian beliau melagukannya di hadapan mereka. Kebetulan Kyai Ali juga memiliki suara yang bagus. Para Habib mendengarkannya dengan khusyuk sambil meneteskan air mata karena terharu dengan bait-bait syair Sholawat Badar. Lahumul Fatihah. []

Annisa Alifatur Rohmah
Mahasiswa Surabaya

    Rekomendasi

    Gila Menulis
    Opini

    Gila Menulis

    Ulama-ulama zaman dulu keranjingan menulis, sehingga apapun yang mereka ketahui dan alami ditulis ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah