Santri

Tokoh Santri Milenial; KH Abdul Ghaffar Razin (1)

Putra KH MA Sahal Mahfudh-Hj. Dra. Nafisah Sahal ini sejak kecil ditempa dalam keluarga yang mencintai ilmu dan perjuangan. KH MA Sahal Mahfudh adalah tokoh puncak di dua organisasi besar, yaitu NU Dan MUI.

Ibunya, Hj Nafisah Sahal adalah Aktivis Muslimat NU Pati, Muslimat NU Jawa Tengah, Dan pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Masa kecilnya dihabiskan di Kajen Margoyoso Pati. Beliau belajar ilmu secara langsung dengan KH MA Sahal Mahfudh, KH Abdullah Zain Salam, dan ulama-ulama besar lainnya di Kajen. Beliau menyelesaikan Studi di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen. Kebetulan saat Gus Razin (sapaan akrabnya) Studi di PIM, banyak sekali anak Kiai yang satu periode dengannya, seperti KH Abdullah Umar Fayumi, KH Tsaqib Grobogan (cucu KH Abdullah Zain Salam), Dan lain-lain.

Setelah menyelesaikan Studi di PIM, Gus Razin melanjutkan studi di Pondok Pesantren Kewagean Kediri, asuhan KH Abdul Hanan. Pondok ini dikenal dengan ngaji kilatan sehingga santri yang studi di Pondok ini dalam waktu singkat mampu mengkhatamkan banyak kitab.

Ngaji kilatan di Pesantren familier dengan ngaji pasanan, yaitu ngaji pada waktu bulan Ramadan yang mengkhatamkan beberapa kitab dengan target waktu tertentu. Ngaji pasanan ini membutuhkan konsentrasi tinggi karena Kiai cenderung memberikan makna dengan cepat dan keterangan yang sangat terbatas.

Kelebihan ngaji pasanan adalah seorang santri mampu memfokuskan pikiran dan waktunya untuk mengkaji satu atau beberapa kitab secara tuntas dari awal sampai akhir. Pesantren Kewagean punya keunggulan ini.

Menurut sebuah sumber, ketika di Kewagean ini, Gus Razin mencuri waktu kursus inggris. Selain itu, ketika di Kewagean ini juga, Gus Razin sudah berlatih berwirausaha, yaitu ternak kambing yang dipasrahkan kepada orang lain. Ketika musim lebaran Idul Adha datang, kambing tersebut dijual dan keuntungannya dibagi sesuai kesepakatan.

Studi di Jakarta

Setelah dari Kewagean, Gus Razin meneruskan studi di Jakarta. Di tengah berbagai kesibukan, beliau berhasil menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Aqidah Jakarta. Beliau pernah studi di Paramadina yang diinisiasi Prof. Dr. Nurcholis Majid dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.

Baca Juga:  Hari Santri, Dokter Santri dan Tantangan Menyambut Serangan Covid Gelombang Ke-3 bagi Dunia Pesantren Kita

Sebagai seorang Anak tokoh puncak Organisasi, pergaulan Gus Razin memang lintas sektoral. Sosoknya yang supel membuatnya mudah bergaul dengan anak-anak muda dari berbagai kalangan.

Tempaan keluarga yang ketat dan disiplin membuat karakter Gus Razin menjadi sosok yang kuat Dan punya konfidensi tinggi.

Studi di Australia

Setelah menyelesaikan Studi di Jakarta, Gus Razin melanjutkan studi di Australia, mengambil jurusan manajemen pendidikan. Ia menyelesaikan studinya di Australia dengan Gelar M.Ed (Master of Education).

Kemampuan bahasa inggris yang sudah ditempa di Pare dan dimatangkan di Jakarta, membuat Gus Razin mampu bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan fasih. Bahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan terasah dengan baik.

Kembali ke Kajen

Setelah menyelesaikan Studi di Australia, Gus Razin tinggal di Jakarta, kemudian kembali ke Kajen untuk mengembangkan Pesantren Maslakul Huda.

Selain itu, Beliau langsung memegang amanah sebagai Pembantu Direktur Bidang kurikulum di Perguruan Islam Mathali’ul Falah.

Di Pesantren Maslakul Huda, beliau mengembangkan Pesantren ini dengan membuka program khusus anak-anak yang dikenal dengan Maslakul Huda Lil-Mubtadiin yang lokasinya dekat PIM Lil-Banat.

Sosok Inovator Pendidikan

Gelar M.Ed di belakang namanya bukan formalitas saja, tapi benar-benar sesuai dengan kapasitasnya sebagai pemikir Dan pembaharu pendidikan.

Sebagai Pembantu Direktur Bidang Kurikulum, Gus Razin membuat kelompok diskusi untuk menelaah dan menyempurnakan Kurikulum PIM, khususnya yang ada di Madrasah Ibtidaiyah.

Gus Razin kemudian menginisiasi dan menjadi Ketua/Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) yang sekarang berubah menjadi Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA).

Di Pesantren Maslakul Huda, Gus Razin merintis takhashshus Ushul Fiqh yang kemudian berkembang menjadi Ma’had Aly Fi Ushul Fiqhi dengan spesifikasi kajian fikih sosial yang dikembangkan Kiai Sahal Mahfudh.

Baca Juga:  Unduh Pidato Kebudayaan Ketum PBNU, Visi 100 Tahun Indonesia

Beliau juga merintis Pesantren Maslakul Huda Lil-Mubtadiat (khusus anak-anak Putri yang masih pemula).

Inovasi lainnya adalah merintis PAUD An-Nishmah yang sekarang sudah berkembang unitnya sampai SD An-Nismah yang dipimpin Ibu Tutik Nurul Janah, istri beliau.

Untuk melengkapi potensi dan skills entrepreneurship santri, Gus Razin mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) Pesantren Maslakul Huda. BLK memberikan Pelatihan intensif santri tentang Penting entrepreneurship.

Khidmat di NU

Sekitar tahun 2013, Gus Razin mendapat amanah menjadi Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU Jawa Tengah. Penulis sempat menemani beliau beberapa tahun ketika masih di RMI NU Jateng ini.

Beliau kemudian ditunjuk menjadi Ketua RMI PBNU hasil Muktamar Jombang tahun 2015 sampai sekarang.

Selama memimpin NU Jateng, banyak Sekali terobosan yang beliau lakukan. Salah satunya adalah konsolidasi Organisasi Pesantren, menggerakkan kemandirian Ekonomi Pesantren, dan berkolaborasi dengan pemerintah.

Selama memimpin RMI PBNU sampai sekarang, banyak sekali gebrakan Gus Razin. Liga Santri, Gerakan Ayo Mondok, Kemandirian Pesantren, dan lain-lain menjadi icon RMI yang manfaatnya benar-benar dirasakan Pesantren dan warga NU.

Sekarang Gus Razin didapuk menjadi salah satu Mustasyar PCNU Kabupaten Pati bersama tokoh-tokoh yang lain.

Staf Khusus Presiden

Karir Gus Razin lainnya adalah beliau dipercaya sebagai Staf Khusus Presiden Bidang keagamaan.

Beliau membantu Presiden dalam menata Bidang keagamaan di Indonesia. Salah satunya tentang eksistensi Pesantren.

Relasi luas dengan Tokoh agama dan profesionalitas manajemen menjadi alasan logis Presiden memilih Gus Razin sebagai Staf Khusus yang terbukti efektif.

Sering Membaca Kitab Baru Saat Ramadan

Selain sebagai organisator dan Aktivis sosial keagamaan, Gus Razin selalu memyempatkan waktu mengajar langsung para santri.

Salah satu momentumnya adalah saat bulan Ramadan. Hebatnya, ketika bulan Ramadan ini, Gus Razin sering Membaca kitab-kitab yang tergolong baru dengan perspektif baru.

Salah satu yang Penulis dengar adalah:

Baca Juga:  Menjadi Santri Menjadi Insan Terbaik

1. Al-Hujah Al-Qathiyyat karya KH Muhyiddin Abdusshamad Jember yang menjelaskan hujjah amaliyah warga NU.

2. Kitab Fiqh yang melarang seseorang fanatik terhadap madzhabnya.

3. Nabi Muhammad sebagai seorang Guru yang baru dibaca kemarin saat Ramadan.

Pemikiran

Banyak Sekali pemikiran Gus Razin yang disampaikan di banyak forum. Antara lain:

1. Kemandirian Pesantren

Kemandirian Pesantren meliputi kemandirian Kurikulum, kemandirian budaya, dan kemandirian Ekonomi.

Tiga kemandirian tersebut sangat dibutuhkan Pesantren untuk meneguhkan eksistensi dan kontribusinya bagi masyarakat dan bangsa.

Jika Pesantren bergantung dengan pihak lain, maka Pesantren Tidak bisa mandiri dan akhirnya bisa disetir pihak lain.

2. Integrasi Pesantren dan Perguruan Tinggi

Pesantren dan Perguruan Harus terintegrasi, khususnya dalam konteks basis nilai moral dan akademiknya.

Keilmuan Pesantren tidak boleh stagnant dan Perguruan Tinggi tidak boleh liberal sekuler. Inilah manfaatnya integrasi Pesantren dan Perguruan Tinggi.

Hal ini sesuai kaidah:

المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Konsisten dengan tradisi lama dan kreatif mengadopsi modernitas yang reformatif

3. Pentingnya Riset

Riset adalah jantung kemajuan. Ketika Riset berkembang pesat, maka Akan lahir banyak inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan Negara.

Namun, jika riset lemah, maka suatu bangsa Akan tertinggal dengan bangsa lain yang kreatif dan inovatif.

Gus Razin menekankan riset ini supaya generasi muda Islam aktif melakukan riset untuk melakukan inovasi di pelbagai aspek kehidupan.

Terus Berkarya

Usia yang masih muda menjadikan Gus Razin menjadi sosok pemimpin muda yang akan terus Berkarya bagi kemajuan bangsa.

Kegigihannya dalam menginisiasi dan mengawal program yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas menjadi Inspirasi generasi muda dalam Berkarya untuk bangsa.

Semoga KH Abdul Ghafar Razin Selalu diberikan keberkahan, kesehatan, dan kebijaksanaan dalam memgemban amanah di berbagai lembaga demi menebarkan kemanfaatan secara luas. Aamiin.

Dr. H. Jamal Makmur AS., M.A.
Penulis, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pati, dan Peneliti di IPMAFA Pati

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Santri