Perjalanan bukan hanya tentang bagaimana kaki melangkah unntuk mencapai tujuan atau seperti bus yang meluncur menuju terminal-terminal guna mengantar jemput penumpang. Sah-sah saja menyebut peristiwa demikian dengan sebutan perjalanan, namun ada perjalan lain yang mesti kita sadari bahwa kita adalah bagian dari perjalanan tersebut kendati mungkin banyak diantara kita tidak atau belum menyadarinya.

Dalam hal ini saya ingin mengatakan perjalanan peradaban, dimana tradisi baru terus lahir dan gairah-gairah baru muncul sebagai perjalanan panjang proses dan mekanisme eksistensi umat manusia yang telah berlangsung amat purba. Dan bila kita mau menggunakan kata peradaban, berarti kita siap dengan konseskuensi bahwa tradisi tersebut sudah bersifat meluas. Bila kita ucapkan kalimat perdaban dan menyandingkannya dengan masa kini, maka yang mungkin cocok dan bisa jadi sangat adalah bahwa peradaban masa kini adalah peradaban serba media.

Hal demikian bisa kita katakan dengan bersamaan membuka sejarah ingatan masa lalu, ketika media belum menjalar seperti sekarang, perkembangan peradaban cenderung bersifat bila meminjam istilah anak zaman sekarang adalah santuy. Era abad 21 kebawah, radio menjadi media paling mewah dan kehadirannya menjadi dambaan setiap kalangan kendati pesan yang mampu dikirimkannya hanya berupa suara tanpa mamu menampilkan pesan gambar, info grafis, verbatim, atau bahkan tulisan bak media-media masa kini. Namun hal tersebut berbanding terbalik bila kita sandingkan dengan era kini, dimana media menjadi pembuluh darah peradaban yang bereperan vital dalam menumbuh kembangkan peradaban tersebut.

Media tak hanya mampu mengirimkan pesan suara, namun lebih jauh dari itu, media juga mampu mengirimkan pesan gambar, video, verbatim, tulisan dan lain sebagainya. Dengan kata laing peradaban masa kini sangat jauh lebih canggih dibandingkan era abad 21 kebawah.
Hemat penulis kali ini ingin sedikit merenungkan peran santri dan tantangan digital literasi, atau bahasa lainnya semacam bagaimana santri menyikapi perkembangan media dan tantangannya saat ini.

Baca Juga:  Amanat Ketum PBNU pada Peringatan Hari Santri Nasional

Hidup di era serba canggih dimana media menjadi sendi-sendi kehidupan yang siapapun sulit untuk lepas darinya, santri memiliki tantangan baru yang sama sekali berbeda dengan era dimana media belum menjadi organ vital kehidupan, atau media sosial masih menjadi barang asing. Sebut saja media sosial seperti instagram, whatsapp, youtube, portal online. Empat sekawanan tersebut kini menjadi hal yang hampir setiap detik umat manusia tak pernah telat untuk membukanya, bahkan mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi. Baik anak sekolah maupun gurunya, apalagi para mahasiswa, dosen dan terlebih lagi para politisi.

Terlepas dari siapa yang menggunakan, media sosial yang saya sebut empat sekawan tadi telah menjadi objek baru yang bisa dikatakan amat seksi dan semua orang mengincar dan menginginkannya untuk turut mengambil panggung guna keperluan-keperluannya masing-masing. Atas dasar semua orang ingin mengambil peran, membuat media menjadi tempat dimana kita sulit untuk membedakan mana anak baru kemarin sore, istilahnya, mana akademisi, mana praktisi, dan mana politisi atau bahkan professor.

Media telah menjelma ruang baru yang melahirkan istilah baru juga yang kita sebut sebagai The death of expertise atau matinya kepakaran. Hal demikian bisa kita ambil contoh konkret dengan ber-flash back pada masa-masa pemilu. Dimana panasnya kontestasi politik dan seni yang dimunculkan para politisi, media dipenuhi oleh mereka yang sebenarnya bukan siapa-siapa namun suara mereka di media seolah mereka adalah siapa-siapa yang layak dan memiliki legitimasi untuk berbicara sesuai isu-isu kala itu, dan fatalnya kadang mereka yang tak memiliki legitimasi justru amat vokal dalam berkomentar bahkan mengalahkan mereka yang kita sebut sebagai akademisi atau praktisi.

Baca Juga:  5 Oktober menuju 22 Oktober 1945: Laskar Kiai-Santri Melawan Lupa di Hari Lahir TNI hingga Resolusi Jihad (Hari Santri Nasional)

Contoh lain bila dari peristiwa di atas adalah terkait portal yang menyajikan konten keislaman yang seolah mampu menjawab segala permasalahan yang sejatinya dirinya dalam hal ini pemilik atau penulis konten tersebut belum tentu layak dan memiliki landasan keilmuan jelas untuk melakukan hal demikian. Atau bahasa akademisnya academic standing-nya diragukan. Kejadian semacam ini juga perlu direspon oleh santri yang dimana mereka belajar ilmu keagamaan secara komperhensif untuk turut aktif dalam literasi digital.

Maka untuk menanggapi kesemrawutan di media, santri harus turut mengambil peran agar mampu meng-counter hal-hal yang tertulis di atas tadi. Santri harus mampu bila meminjam istilah Ketum PBNU Prof Dr Said Aqil Siradj menguasai media. Santri mesti bergerak secara masif tak boleh tinggal diam melihat kesemrawutan tersebut, karena hal teresbut adalah bagian dari dakwah di zaman kini.

Selain menguasai media sebut saja instagram, youtube, whatsapp, dan mengisinya dengan konten-konten keilsaman, santri juga harus menjadi uswah literasi atau menjadi role model dalam menuliskan konten-konten keislaman yang bersifat rahmatan lil ‘alamin, menghargai budaya serta mengandung khazanah intelektual yang segar dan relevan dengan situasi saat ini.

Santri, yang hari-hari lalu masih gegap gempita merayakan suka cita sebab perayaan hari santri, perlu bangun dan melangkah untuk menjadi pemain peradaban dengan mengambil peran-peran digital literasi agar masyarakat media tercerahkan serta mampu menjadi subjek penangkal segala kesemrawutan media atau menjadi semacam anti toksin di alam media.

The last but not least…
Setiap generasi tentu memiliki tantangan yang berbeda, maka langkah serta kendaraan yang di gunakan untuk menempuh atau mengimbangi kemajuan zaman pun berbeda sama sekali. Banggalah menjadi santri, teruslah menjadi santri, dan berperanlah dalam ihwal digital literasi. Santri Indonesia untuk perdamaian dunia, salam santri.

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Rekomendasi

1 Comment

  1. Santri harus bisa mewarnai media sosial dengan konten-konten positif. Kalau bukan santri siapa lagi?

Tinggalkan Komentar

More in Santri