Resensi Buku: Hadrami Arabs in Present –Day Indonesia Frode F. Jacobsen

Frode F. Jacobsen adalah seorang Associate Professor di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Kesehatan Utama di University of Bergen Norway. Dia memiliki ketertarikan dan  minat khusus dalam masalah kesehatan, bentuk-bentuk budaya lokal serta di bidang ilmu pengetahuan, dan kemigrasian. Atas dasar ketertarikannya tersebut, ia pun melakukan riset tentang fenomena kehidupan keturunan hadrami yang ada di Indonesia saat ini.

Sinopsis Buku 

Sebuah karya dari Frode J. Jacobsen yang berjudul Hadrami Arab in Present-Day Indonesia ini berfokus pada tren sosial dan budaya di Hadrami masa kini. Yaitu masyarakat Arab di Indonesia Timur dan Tengah. Selama berabad-abad lamanya, mereka bermigrasi dan beradaptasi.

Ada beberapa kekuatan yang mendukung peranan mereka diantaranya adalah kekuatan eksternal, seperti kekuatan yang meluas dari Portugis di Samudera Hindia dan penaklukan Yaman oleh bangsa Turki. Selain itu juga ada kekuatan internal seperti adanya kemiskinan, kekeringan dan kerusuhan politik hal ini mereka jadikan peluang sebagai titik awal perjalanan mereka dimulai melalui perdagangan. Sementara beberapa orang Arab Hadrami mencari pekerjaan di Amerika Utara dan Eropa, gelombang migrasi Hadrami lainnya telah mengikuti angin muson Samudera Hindia ke pantai Zanzibar, India, Malaysia dan Indonesia.

Kisah Hadrami di Indonesia sebagian besar telah menjadi sebuah  kisah kesuksesan dalam hal perdagangan, politik, pendidikan dan kegiatan keagamaan. Meskipun perdebatan terus-menerus mengenai apa yang melambangkan identitas Hadrami Indonesia, penulis berpendapat bahwa mereka adalah kelompok yang berorientasi Indonesia dengan ciri khas Arab.

Buku ini juga akan membahas tentang perjuangan dan berbagai pengalaman mereka di berbagai kota di Indonesia. Pada tiga bab pertama memberikan informasi yang lebih umum tentang masyarakat hadrami, sementara pada empat bab terakhir memberikan informasi yang lebih spesifik diantaranya adalah aspek adaptasi lokal serta kreativitas budaya lokal. Sebagian mereka juga ada yang tinggal di wilayah minoritas muslim seperti di Pulau Bali. Dan masih banyak hal lain yang nanti akan diulas lebih mendalam.

Perjalanan Hadrami Arab di Indonesia yang tertuang dalam buku karya Frode Jacobsen ini terdiri tujuh bab. Dalam bab pertama  mengulas tentang kisah penelitian beberapa antropolog yang memiliki ketertarikan untuk melakukan riset terhadap Hadrami Arab juga tanah air mereka Hadramaut di Yaman. Komunitas Arab di Indonesia mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Arab Hadrami. Orang-orang Hadrami Arab mayoritas adalah Muslim  Sunni, dan mereka metetap di Indonesia sejak tujuh abad yang lalu. Komunitas Hadrami ini sebagian besar adalah migran laki-laki yang menikah dengan penduduk lokal.

Keberadaan Hadrami Arab di Bali sebagai muslim minoritas, bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, meskipun keberadaannya yang minoritas, akan tetapi keterampilannya dalam berbahasa Arab merupakan sebuah aset dan budaya yang berharga bagi kota wisata seperti Bali.

Penulis juga menjelaskan sekilas tentang kondisi alam di Hadramaut yang mana secara garis besar terdiri dari wilayah pesisir dan wilayah pedalaman (Wadi) yang memiliki curah hujan yang tidak menentu serta wilayah pegunungan yang terdiri dari hamparan tanah berbatu dan masih jarang penduduknya. Selain itu juga menjelaskan tentang stratifikasi sosial yang ada di hadramaut yang secara garis besar terbagi menjadi tiga strata social. Yaitu Habaib sebagai peringkat tertinggi, kemudian Sayyid dan Syeds.

Sejak awal sejarah Islam, Migran Arab dan Persia hadir di Arab Saudi dan seluruh wilayah Asia Tenggara melalui rute perjalanan antara China dan Sriwijaya Melayu. Kedatangan mereka memberikan kontribusi yang positif terhadap penyebaran agama dan budaya Islam. Siapakah yang melakukan migrasi tersebut? Yaitu mereka dari kalangan orang-orang kaya (Al Attas/ Saada) dan para masyayikh atau bisa dikatakan mereka yang memiliki cukup uang untuk melakukan perjalanan panjang dan mahal untuk tujuan seperti India dan Timur Jauh.

Generasi awal Hadrami yang datang ke Indonesia mayoritas adalah berjenis kelamin laki-laki. Mereka menikah dengan gadis-gadis dari penduduk lokal. Karenanya terciptalah hubungan yang sangat baik dengan penduduk lokal Indonesia. Hadrami di Indonesia mayoritas adalah penganut madzhab Sunni, dan sebagian kecilnya penganut Syiah (Al Attas: 1997). (Hassan:2004) menyimpulkan untuk Hadrami di kedah Malaysia memiliki kesamaan dengan Hadrami di Indonesia. Dimanakah letak persamaanya? Yang mana mereka masih memiliki entitas tersendiri berbeda dengan penduduk lokal. Dimana mereka masih menggunakan nama-nama klannya dan menggunakan bahasa Arab dalam percakapan internal mereka; aktif dalam keorganisasian khusus Arab dan menekankan bahwasanya mereka masih memiliki leluhur di Timur Tengah.

Baca Juga:  Belanja Sampai Miskin: Menyoal “Konsumerisme” di Indonesia

Ada beberapa perbedaan antara Hadrami dengan penduduk lokal. Menurut Bergen, Norwegia diantaranya adalahnya:

  1. Tradisi pemberian nama.

Menurut Jacobsen, mereka seringkali memberikan nama seperti Ahmad, Muhammad dan Ibrahim. Hampir tidak ada nama baru selain nama-nama tersebut. Namun, akhir-akhir ini sedikit ada perubahan seperti memberikan nama Jamaal, Nidlol dll.

  1. Para Hadrami Arab sangat mendukung dalam hal penikahan sesama etnis dan mengutamakan kesukuan mereka. Contoh mereka tidak akan menikahkan anak gadisnya kecuali dengan sesama orang Yaman. Hal ini sering berlaku atau terjadi pada generasi kedua hadrami
  2. Hadrami lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di Madrasah dan mengajarkan mereka untuk menggunakan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari.
  3. Seorang Hadrami lebih mudah dikenali dengan melihat desain rumahnya. Seperti furniture, interior, karpet dan lain lain
  4. Untuk perihal Makanan, termasuk di dalamnya Beras, bumbu, rempah-rempah dan kopi langsung mereka datangkan dari Hadramaut meskipun mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam. Karena menurut mereka, makanan itu lebih sehat memiliki cita rasa yang khas dan enak.

Dalam lingkup Hadrami itu sendiri, ada sebutan Muwallad dan Wulaayati. Wulaayati adalah generasi pertama Hadrami Arab yang datang ke Indonesia. Sementara Muwallad adalah anak-anak dari generasi pertama Hadrami di Indonesia (Peranakan). Golongan Wulaayati lebih memiliki peran politis dalam masyarakat. Mereka juga sangat aktif dalam berbisnis (Mobini-kesheh:1999).

Di Bali, mereka tinggal terkonsentrasi di kampung Arab, yang terletak di Singaraja. Dahulu, Singaraja merupakan pelabuhan tua sejak zaman Belanda. Disana, mayoritas mereka berdagang perhiasan, pakaian dan furniture, kayu dan batu bara. Selain itu, mereka juga mengekspor tekstil ke Timur Tengah.

Buku ini juga mengulas seputar pemahaman Hadrami tentang modernitas. Identitas sosial seorang Hadrami sangatlah kompleks, berkenaan langsung dengan metodologi dan teoritical challenges. Dari beberapa informan, didapatkan bahwa sebagian mereka mendapatkan pengalaman buruk yang merubah konsepsi mereka tentang rakyat pribumi Indonesia. Ada kisah tentang Hussein yang seluruh uangnya amblas dibawa maling dalam perjalanan dagang ke Jakarta di tahun 1967. Peristiwa yang membuat ia bersumpah untuk tidak menjalankan bisnisnya di Indonesia. Ia kemudian memilih berbisnis di Hadramaut dan Saudi Arabia. Setelah 10 tahun berlalu dan sukses, ia sering berkunjung ke Singaraja Bali dengan membawa barang-barang untuk dijual, seperti karpet, minyak wangi dan lainnya. Tentu dengan menyuap pegawai Bea Cukai agar barang-barang tersebut lolos. Ia menilai pendidikan di sekolah umum yang ada sangatlah buruk, beberapa siswinya hamil di usia 15-16 tahun. Sementara siswanya banyak yang berambut panjang, hingga ke pundak. dan otaknya kosong dari ilmu pengetahuan.

Kisah kurang mengenakkan juga dialami Muhsin. Awalnya ia adalah seorang yang berkecukupan. Namun kini ia bangkrut dan menjadi orang paling miskin di antara keluarganya. Penyebabnya adalah karena ia ditipu oleh seorang pengembang. Seluruh hartanya yang ia belikan sebidang tanah di dekat bandara Ngurah Rai, ternyata bodong. Uangnya dibawa lari si pengembang. Berbagai cara telah ia lakukan agar uangnya kembali, tapi tidak juga membawa hasil.

Pengalaman buruk juga dialami sahabat Muhsin, seorang WNA asal Australia yang ingin berinvestasi di Bali dengan bekerjasama dengan pengusaha lokal. Muhsin sudah mengingatkan agar berhati-hati dan melibatkan lawyer agak tidak terjadi apa-apa di kemudian hari. Tapi si bule tak bergeming. Ia menginvestasikan 150.000 dollar Australia, untuk proyek pembangunan restoran di Air Sanih, utara Bali. Begitu restorannya berdiri, si pengusaha lokal tersebut langsung mengaku bahwa restoran tersebut miliknya. Dan Uang 150.000 dollar tersebut adalah pinjaman lunak, yang dibayar  dengan dicicil dari hasil keuntungan restoran. Dan endingnya bisa ditebak, uang 150.000 dollar Australia itu lenyap.

Baca Juga:  Merawat Kebhinekaan Membentuk Kebersamaan

Pengalaman Hussain dan Muhsin ini meneguhkan asumsi mereka tentang kerusakan moral, kejujuran, religiusitas dan rendahnya kualitas keilmuan dan akhlaq/karakter bangsa Indonesia dibandingkan dengan bangsa Yaman (Hadramaut), nenek moyang mereka.

Namun, Yazid dan Abdullah punya pandangan yang berbeda. Mereka begitu kecewa dengan kondisi bangsa Yaman/Hadramaut saat ini. Menurut mereka, apa yang sering diceritakan oleh kakek dan nenek mereka tentang Hadramaut yang indah, penduduknya yang menyenangkan adalah kebohongan. Menurut mereka saat ini Hadramaut justru sangat terbelakang dan miskin. Penculikan, nikah dini, mengkonsumi Khat (sejenis ganja) adalah hal lumrah di sana.

Dari penggalan cerita di atas, bisa disimpulkan bahwa kebanggaan Hadrami akan leluhur mereka di Hadramaut perlahan kini mulai terkikis di kalangan muwallad dan anak-anak mereka. Apalagi dengan deras dan mudahnya mendapatkan informasi tentang Hadramaut saat ini. Bagi mayoritas Hadrami saat ini, tanah air yang harus mereka bela dan junjung adalah Indonesia. Negeri inilah yang harus mendapat perhatian mereka. Makanya saat ini banyak dari Hadrami yang aktif dalam kegiatan sosial, seperti pendirian rumah sakit, fasilitas pendidikan dan masjid di seluruh Indonesia.  Sejak tahun 1920 mereka menyatakan loyalitas mereka terhadap bangsa Indonesia sebagai tanah tumpah darah mereka dan ikut aktif dan perpolitikan dan organisasi sosial lainnya. Bahkan mereka sudah mendirikan organisasi sosial khusus Hadrami yang bernama Jam’iyyat al Khayr, (Organisasi Amal kebaikan) sejak tahun 1901.

Hadramaut adalah masyarakat yang terstrata (kasta/kelas sosial) sebagaimana disebutkan oleh Manger 1997; Bujra 1971; Freitag and Clarence-Smith 1997. Stratifikasi ini lebih didasarkan oleh model ideologi, di mana merupakan percampuran antara usia, profesi, pendidikan dan kekayaan yang kemudian berhubungan erat dengan karakteristik tempat tinggal mereka. (Hal. 62)

Para Wullayati yang pertama datang ke Indonesia mereka berasal dari/ mewakili berbagai strata sosial yang ada di Hadramaut (Mobini-Kesheh 1999). Akan tetapi secara umum mayoritasnya adalah dari golongan strata atas yang terdiri dari Sada/sayyid. (Arai 2004; Bujra 1971). Akan tetapi penjajah Belanda kemudian menunjuk golongan non-Sada sebagai “mitra” /pegawai untuk mengepalai komunitas Arab di Indonesia. Ini kemudian memunculkan kaum elit baru Hadrami. Di mana mereka adalah elit yang muncul karena achieved status (status sosial yang direngkuh hasil kerja keras) bukan ascribed status,  yang otomatis diraih sejak lahir.

Secara umum di manapun Hadrami tinggal semua mengakui bahwa ada dua kelas sosial di internal mereka, yaitu Sayyid Non-Sayyid (Masyayikh). Namun, mayoritas informan menyatakan bahwa pembagian kelas sosial ini sudah mulai ditinggalkan, tidak laku. Beberapa informan non-Sayyid bahkan menyatakan bahwa sebutan sayyid adalah ilusi mereka belaka. Karena nabi tidak mempunyai keturunan laki-laki. Semua golongan sayyid, adalah dari garis keturunan putri-putri rasulullah. Padahal dalam Islam yang berlaku adalah azas patrenalistik (garis keturunan ayah/laki-laki). Golongan Sayyid mengklaim sebagai keturunan nabi demi meraup keuntungan belaka, yaitu naiknya status social mereka. Di samping itu para informan non-Sayyid juga menambahkan bahwa golongan Sayyid itu mereka itu bukan asli penduduk Hadramaut, tetapi pendatang dari Irak dan Iran. Hanya Masyayikh/ Gabail mereka yang asli Hadramaut. (Hal. 63)

Kini keadaan nilai agama Islam tentang kesetaraan, dengan menafikan dikotomi Hadrami non Hadrami, Sayyid non Sayyid nampaknya kini sudah semakin berkembang. Jika dulu Hadrami enggan menikahi wanita pribumi Indonesia, saat ini keadaan itu berubah. Saat ini banyak lelaki Hadrami menikahi wanita pribumi Indonesia.

Bagi mereka saat ini membelah masyarakat Hadrami menjadi Sayyid dan non Sayyid  adalah bagian dari sejarah masa lalu. Menurut mereka ini jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan kesetaraan bukan malah memperuncing perbedaan yang diwariskan oleh penjajah Belanda. (Hal. 66). Akan tetapi minimnya informan dari kalangan Sayyid atau Saada menjadi titik lemah dari riset yang dilakukan Jacobsen ini. Maka sangat penting untuk kita tidak terjebak dalam mengeneralisir kesimpulan dalam riset ini.

Baca Juga:  Ilmu Perbandingan Agama (IV): Perkembangan dalam Dunia Islam dan Indonesia

Menurut Fredrik Barth dalam bukunya “Balinese World” sebagaimana dikutip oleh Jacobsen, Hadrami di Bali adalah masyarakat yang taat beribadah dan merupakan “strick muslims” atau muslim yang kaku/tegas dalam beragama. Tradisi keislaman mereka tentu bertolakbelakang dengan keyakinan tetangga mereka, yaitu masyarakat Hindu Bali yang polytheism atau menyembah banyak tuhan/ dewa.

Meskipun populasi mereka hanya sekitar 1500 jiwa, Hadrami Bali memegang peranan penting dalam masyarakat, utamanya masyarakat muslim. Mereka banyak yang menjadi tokoh, imam dan takmir masjid serta menjadi pegawai di departemen agama.

Sukses Hadrami dalam mengambil peran di Bali dan di Indonesia secara umum tidak terlepas dari; pertama, kemampuan mereka berintegrasi dan berasimilasi. Tidak hanya dengan pendudukan lokal Bali, tapi juga dengan penduduk Indonesia secara umum. Kedua mereka mempunyai link yang kuat dengan komunitas Hadrami di luar negeri yang memudahkan mereka untuk mengembangkan bisnis mereka. Ketiga, kemampuan mereka untuk memanfaatkan SDM dan SDA rakyat Bali dan bangsa Indonesia secara umum, tidak hanya dalam perdagangan tapi juga di sektor jasa.(Hal. 76).

Salah satu bentuk integrasi dan asimilasi itu adalah keberadaan “Hadrami Healing Group” atau kelompok pengobatan Hadrami, di Bali yang dipimpin oleh seorang pemimpin karismatik dan religius yang bernama Mustafa. Grup atau kelompok ini tidak menggunakan “logo” khusus. Mereka menamai kelompoknya “As-Salaam” yang berarti damai/ kedamaian/ perdamaian.

Mustafa tinggal di sebuah kampong kecil di luar kota, hidup bersama dua orang pembantunya yang beragama Islam dan satu lagi Hindu. Ia menjuluki diriinya seabagai seorang “fundamentalis”, dalam arti bahwa ia banyak mempelajari filsafat dan konsep Hindu dipadukan dengan Islam yang ia anut. Sehingga bisa dikatakan bahwa kelompok ini adalah salah satu “cultural cross-road” atau pertemuan budaya dalam satu wadah.

Sebenarnya keberadaan kelompok ini juga mendapat penolakan dari sebagian Hadrami Bali, seperti misalnya Hussain. Menurut Hussain ia tidak mau mendukung kelompok ini karena apa yang dilakukannya merupakan bid’ah atau melenceng  dari agama Islam yang murni. Mustafa dianggap melenceng karena telah mengklaim memiliki “maqom” atau posisi “perantara” antara Tuhan dan Muslim secara umum. Dan ini tidak bisa diterima. (Hal. 77)

Kelebihan Buku

Buku ini sangat menarik karena mengulas detil tentang sisi-sisi kehidupan Hadrami Arab di Indonesia, baik sosial, ekonomi, keagamaan dan personal. Beberapa hal yang menjadi kelebihan dari buku ini adalah:

  1. Menggunakan referensi yang sangat kaya. Baik karya-karya sejarawan dan antropolog dunia
  2. Jacobsen sangat aktif berkecimpung di fakultas kesehatan publik, oleh karenanya dalam buku ini sangat detil membahas tentang klinik pengobatan tradisional yang dipimpin oleh seorang tabib yang bernama Musthafa.
Kelemahan Buku

Dari beberapa kelebihan dari buku karya Frode Jacobsen ini ada beberapa kekurangan diantaranya adalah :

  1. Pengambilan data hanya terfokuskan pada Pulai Bali saja, padahal banyak wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki populasi Hadrami Arab yang cukup besar . dan juga banyak keunggulan sosial kebudayaan yang mereka bangun di wilayah tersebut. Contohnya adalah kota Gresik, jumlah mereka cukup banyak di daerah ini. Bahkan mereka juga menguasai beberapa sentra bisnis di bidang tekstil seperti produsen sarung tenun, pakaian dan lain sebagainya.
  2. Penulis menafikan keberadaan tokoh-tokoh hadrami di Indonesia. padahal mereka merupakan tokoh besar dan memiliki kontribusi terhadap Negara. Contohnya saja Ali Alatas (Mantan menteri luar negeri) dan tokoh besar Hadrami lainnya.
  3. Pada pembahasan Saada dan Ghair Saada, Jacobsen sendiri mengakui minimnya informan dari kalangan Sayyid atau Saada dan ini menjadi sebuah menjadi titik lemah dari riset yang dilakukan Jacobsen . []
Khoirun Niswatin
Mahasiswi Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka