Sebenarnya kita sudah tahu, bahwa alam yang terjaga akan menambah keindahan dan memberikan nilai-nilai estetika yang tak ternilai harganya pada lingkungan hidup. Mulai dari hutan, pegunungan, dan lautan telah memberikan tempat untuk relaksasi dan rekreasi. Perlu kita sadari bersama, memelihara keindahan alam adalah investasi dalam menyejahterakan makhluk secara komprehensif, bahkan bisa termasuk pada ibadah. Sehingga, menjaga lingkungan juga bagian berkontribusi periodik dalam upaya mengatasi perubahan iklim global. Konservasi energi, penggunaan penyempitan lahan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca adalah langkah-langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan yang harus kita batasi.

Gus Fayyadl, seorang kiai cendikiawan, yang kerap memberikan pemahaman tentang masalah ekologis pernah berkata: Bukankah kita khalifah, pemimpin di muka bumi ini? Kalau kita merasa menjadi khalifah, makhluk paling keren di jagat raya, bukankah kita seharusnya mengasihi siapa saja yang hidup bersama kita? Memakmurkan bumi yang kita tempati ini? Jika kita bisa bersikap bijak, insyaallah tanah tempat kita hidup ini tidak akan menjadi gersang dan tak nyaman, seperti yang saat ini banyak kita jumpai(Alam Sedang Memperingati Kita) terkadang, kita sebagai khalifah di atas bumi, dan tentunya sebagai manusia yang memiliki pikiran, lupa pada batas-batas ukuran yang harus kita sadari, sehingga alam kerap kali kita eksploitasi dengan cara berlebihan.

 

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah ayat 30)

Setidaknya, dari ayat di atas ini, sekaligus dari pernyataan Gus Fayyadl kita bisa belajar lebih baik lagi untuk menghargai makhluk lain. Kita tidak boleh egois, perlu dipikirkan secara matang sebelum akibat dari apa yang kita lakukan berdampak pada kita sendiri pada akhirnya. Lebih baik, mencegah daripada mengobati. Ingat, kita tidak hidup sendiri, melainkan hidup dengan makhluk lain. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bergantung pada alam, seharusnya bisa membatasi diri untuk tidak merusak alam yang kita tempati.

Saya masih ingat, pada tahun 2015 yang lalu, PBNU mengharamkan ekploitasi sumber daya alam di Indonesia, tetapi hari ini Ketum PBNU justru berterima kasih karena presiden mengizinkan pengelolaan tambang. Padahal, saya juga masih ingat, beberapa kasus yang terjadi karena persoalan agraria hingga terjadi pembunuhan. Seseorang pun bertanya pada Gus Fayyadl; Apa bisa kita menghadapi kekuatan-kekuatan besar itu? Beliau pun menjawab; Bisa, asalkan kita tetap maju, sebagai warga NU, kita harus bangkit, bangkit itu berarti melawan ketakutan diri kita sendiri untuk membela kebenaran, walaupun itu tidak mudah. Di situ kita saling menyemangati. Intinya, sebagai generasi muda, kita harus punya nyali, karena perjuangan kita belum seberapa kalau dibandingkan dengan pengorbanan para ulama dulu dalam mengusir penjajah. Itu sedikit cerita dari acara kemarin.

Lalu bagaimana jika hari ini justru saling Ketum PBNU dan Presiden saling sepakat, siapa lagi yang bisa membela rakyat? Sebelum mengakhiri dari tulisan sederhana ini, saya akan mengikatkan apa yang telah diperintahkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, apalagi sebagai khalifahNya di atas bumi.

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf ayat 56)

Semoga dengan ayat di atas ini, kita bisa menyadarinya secara kolektif, bahwa alam dan seisinya harus bisa jaga dengan sebaik-baiknya.

Semoga bermanfaat!

Agus Widiey
Mahasiswa program studi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis fiksi dan prosa.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini