“Nasehat Abuya Ulin Nuha Arwani: Qur’an Gampang Ucule, Menungsa Gampang Laline, Mangka Kudu Tansah Dijaga Qur’ane.”

Pada hari Ahad 12 November 2023/28 Rabi’ul Akhir 1445 H lalu, Mudarosah Qiraat Sab’ah Faidhul Barakat dilaksanakan di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an. Mudarosah kali ini bertepatan dengan haul Pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an sekaligus juga Muallif Kitab Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat: Simbah KH Muhammad Arwani Amin Said Kudus. Di akhir acara Mudarosah ini, Abuya KH Muhammad Ulin Nuha Arwani menyampaikan nasehat-nasehat yang sangat indah, yang beliau sampaikan kurang lebih sekitar dua jam-an lamanya. Diantara petikan-petikan penting nasehat Abuya Ulin Nuha Arwani yang saya catat adalah:

1. Al Qur’an ingkang kita tampi sangking guru-guru kita niki, monggo estu-estu kita uri-uri ngantos pejah. Al Qur’an yang kita terima dari guru-guru kita ini, mari betul-betul kita jaga hingga datangnya ajal.

2. Barang siapa senantiasa menjaga al Qur’an, maka hidupnya akan mulia dan matinya nanti akan tergolong sebagai mati syahid. Sebagaimana sabda Gusti Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sayyidina Mu’adz bin Jabal RA:

عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ إِنَّهُ قَالَ: “يَا مُعَاذُ، إِنْ أَرَدْتَ عَيْشَ السُّعَدَاءِ، وَمَيْتَةَ الشُّهَدَاءِ، وَالنَّجَاةَ يَوْمَ الْحَشْرِ، وَاْلأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ، وَالنُّوْرَ يَوْمَ الظُّلُمَاتِ، وَالظِّلَّ يَوْمَ الْحَرُوْرِ، وَالْهُدَى يَوْمَ الضَّلَالَةِ، فَادْرُسِ الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ ذِكْرُ الرَّحْمَنِ، وَحِرْزُ الشَّيْطَانِ، وَرُجْحَانٌ فِي الْمِيْزَانِ.

Dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Wahai Mu’adz, jika engkau ingin hidup bahagia, meninggal dalam keadaan syahid, selamat di hari mahsyar, mendapatkan keamanan di hari penuh ketakutan, mendapatkan cahaya di hari penuh kegelapan, mendapatkan keteduhan di hari yang amat panas, mendapatkan petunjuk di hari penuh dengan kesesatan, maka bacalah/pelajarilah al Qur’an. Karena sesungguhnya al Qur’an merupakan pengingat/dzikir kepada Sang Rahman, pelindung dari setan dan pemberat di dalam timbangan amal/mizan.”

3. Monggo, pengaosan al Qur’an ingkang sampun kita tampi sangking guru-guru kita, supados kita tingkataken dumugi Maqam “Tahqiq”. Mari, pengajian al Qur’an yang kita terima dari guru-guru kita, supaya kita tingkatkan menuju Maqam “Tahqiq”. Selama ini, kita seringkali baru sampai pada mengaji lafadznya saja, belum sampai pada maqam Tahqiq. Adapun dasar Maqam Tahqiq adalah dhawuh Gusti Allah SWT:

اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (سورة البقرة:121)

Artinya: “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 121)

4. Mengaji al Qur’an secara Tahqiq itu adalah:

أن يشترك فيه اللسان والعقل والقلب. فحظّ اللسان: تجويد الحروف ومعرفة الوقوف. وحظّ العقل: تدبّر المعاني. وحظّ القلب: التّفهّم والتّأثّر.

“Bersatunya Lisan, Akal dan Hati. Bagian/Tugas Lisan: membaca huruf-huruf al Qur’an sesuai dengan Ilmu Tajwid dan mengetahui ketentuan waqaf-ibtida’ di dalam al Qur’an. Tugasnya akal: merenungi dan mentadabburi makna-makna yang terkandung di dalam ayat al Qur’an. Tugasnya hati: berusaha untuk memahami kandungan ayat-ayat al Qur’an, menyimpan, mewadahi agar membekas atsar-atsar yang baik di dalam hati sebagai pengendali agar selalu berbuat baik.

5. Sebagai penghafal al Qur’an, Kita ampun ngantos Wal Wal Keduwal Halal Ora Halal Kabeh Diuntal. Kita jangan sampai sembrono, perkara yang halal ataupun tidak, semuanya dimakan.

6. Selama masih hidup di dunia, hendaknya kita senantiasa melakukan “Muhasabah Diri” (introspeksi diri), pumpung masih di dunia, sebelum kelak kita semua akan dihisab oleh Allah SWT.

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

“Introspeksilah diri kalian, sebelum kalian kelak akan dihisab.”

7. Diantara yang perlu kita Muhasabah adalah sejauh mana kita ini sudah menjaga al Qur’an? Apakah kita sudah bisa istiqamah membaca al Qur’an? Seorang penghafal al Qur’an hendaknya punya waktu khusus untuk “nderes” al Qur’an. Jika kita sudah berkeluarga, maka harus pintar-pintar dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk keluarga, dan ada waktu untuk nderes al Qur’an. Jika siangnya tidak sempat untuk nderes karena sudah bekerja, maka saya sarankan untuk nderes di malam hari, sebab malam hari ini merupakan salah satu waktu yang terbaik untuk nderes al Qur’an. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Al Muzzammil:

يَأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً (2) نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلاً (5) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءًا وَأَقْوَمُ قِيلاً (6) إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلاً (7) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً (8) رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً (9)

Artinya: “(1) Hai orang yang berselimut (Muhammad), (2) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (3) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, (4) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (5) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (6) Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (7) Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (8) Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (9) Dia-lah Tuhan masyriq dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung”. [QS. Al-Muzammil (73) : 1 – 9]

8. Supaya mudah bangun saat malam hari, kita bisa mempergunakan jam becker al Qur’an. Yaitu membaca 4 ayat terakhir Surat Al Kahfi:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّٰتُ ٱلْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108) قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا (109) قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا (110)

Setelah itu membaca doa:

رَبِّ أَيْقِظْنِيْ فِي سَاعَةِ…….

“Ya Allah, semoga engkau membangunkanku pada jam……”

9. Pahala orang membaca al Qur’an ini berbeda dengan pahala yang dihasilkan jika kita menjalankan ibadah-ibadah lain. Jika ibadah lain harus menunggu sempurna dulu untuk mendapatkan pahala, maka ibadah membaca al Qur’an tidak harus menunggu sempurna untuk mendapatkan pahala, karena setiap hurufnya tercatat mendapatkan satu pahala kebaikan yang sebanding dengan sepuluh kebaikan. Jika kita membaca al Qur’an dalam kondisi batal wudhunya/hadats kecil, maka mendapatkan pahala minimal 10 pahala kebaikan dalam setiap huruf yang dibaca. Jika kita membacanya dalam keadaan suci, maka pahalanya akan dilipatgandakan minimal 25 pahala kebaikan dalam setiap huruf yang dibaca. Jika kita membacanya di dalam shalat dalam keadaan duduk, maka pahalanya akan dilipatgandakan menjadi 50 pahala kebaikan. Jika kita membacanya di dalam shalat dan dalam keadaan berdiri, maka pahalanya akan dilipatgandakan menjadi 100 pahala kebaikan.

10. Penghafal al Qur’an harus mau untuk menjaga dan mengamalkan al Qur’an. Sebab, kalau tidak mau nderes dan tidak mau mengamalkan kandungan al Qur’an, maka ia bisa mendapatkan laknatnya al Qur’an. Sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:

عن أنس: قال النبي صلى الله عليه وسلم: “من تعلم القرآن وعلق مصحفه لم يتعاهده ولم ينظر فيه، جاء يوم القيامة متعلقا به يقول يا رب العالمين إن عبدك هذا اتخذني مهجورا فاقض بيني وبينه.”

“Barangsiapa yang mempelajari al Qur’an, lalu menggantungkan/ membiarkan Mushafnya begitu saja, tidak pernah dibaca/dideres kembali, juga tidak pernah dilihat kembali, maka kelak di hari kiamat al Qur’an akan menyeretnya/menggantungnya seraya berkata: Ya Allah Tuhan Semesta Alam, sesungguhnya hambamu ini telah mencampakkanku. Maka berilah keputusan antara aku dan dia.”

“ربّ قارئ القرآن، والقرآن يلعنه.”

“Betapa banyak pembaca al Qur’an, sedangkan al Qur’an justru malah melaknatnya.”

11. Kanjeng Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga al Qur’an, sebab al Qur’an ini lebih mudah lepas daripada unta yang diikat dengan tali kekang. Apalagi, jika kita melihat karakter dasar manusia yang sangat mudah keliru dan lupa, maka anjuran menjaga al Qur’an ini menjadi sangat penting. Qur’ane angel cekelane, menungsane gampang banget lali lan lupute.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “تَعَاهَدُوْا هَذَا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإبلِ فِي عُقُلِهَا.” (متّفق عليه)

Sayyidina Abu Musa Al-Asy’ariy RA meriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an ini, sebab demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh Al-Qur`an itu lebih mudah lepasnya dibanding unta dari ikatannya.” (Muttafaq ‘Alayh)

12. Perintahe Kanjeng Nabi Muhammad SAW niki ken nderes. Lanyah mboten lanyah, pokoke nderes. Mboten nek mpun lanyah, malah mboten purun deres. Perintah Nabi Muhammad SAW ini kita diminta untuk membaca al Qur’an. Lancar ataupun tidak lancar, tidak jadi persoalan, yang penting mau nderes. Jangan sampai kalau sudah lancar, malah tidak mau untuk nderes.

13. Dalam membaca Al Qur’an, kita bisa meniatkan banyak hal. Setidaknya ada 5 hal yang bisa diniatkan ketika membaca Al Qur’an: 1. Lits Tsawab (untuk mencari pahala) 2. Lisy Syifa’ (untuk mencari obat) 3. Lil Munajat (untuk bermunajat kepada Gusti Allah) 4. Lil ‘Ilmi (untuk mencari ilmu) 5. Lil ‘Amal (untuk diamalkan).”

Semoga Abuya KH Muhammad Ulin Nuha Arwani senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan dan panjang umur. Dan kita semua senantiasa bisa mengikuti jejak langkah beliau dalam menjaga ayat-ayat suci al Qur’an. al Fatihah.

Sahal Japara
Penulis adalah Pemerhati Ilmu Qiraat, Abdi Ndalem Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an 1 Pati

    Rekomendasi

    neoplatonisme-5
    Opini

    Neoplatonisme (5)

    Para Cendekiawan muslim ketika itu berusaha memasukkan filsafat Yunani sebagai bagian dari metodologi ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah