Kebiasaan Membaca

Kebiasaan Membaca itu penting bagi kehidupan. Ada yang memiliki kebiasaan membaca tinggi, tapi ada juga yang kebiasaan membacanya sangat kurang. Secara pintas kebiasaan membaca insan Indonesia sangat kurang dibandingkan kebiasaan membaca orang asing, utamanya orang Barat. Hal ini dapat dilihat pada touris-touris yang selalu bawa buku bacaan dalam perjalanannya. Juga dikuatkan dengan ranking Membaca anak-anak Indonesia yang berada di kluster bawah, disamping kemampuan Matematika dan Sains dalam PISA.

Apa yang disebutkan di atas adalah perspektif akademik. Bahwa makna membaca seharusnya dipahami bukan hanya sebatas membaca ayat-ayat qauliyah, tetapi juga membaca ayat-ayat kauniyah. Jika membaca itu dimaknai secara luas, maka insan Indonesia Insya Allah kemampuan membacanya bisa tidak serendah kemampuan membaca akademik. Bahkan boleh jadi bisa berada pada tingkat yang tinggi, karena banyak yang bisa membaca “kehidupan sesudah mati”.

Kita perlu jujur bahwa kebiasaan membaca di dunia anak-anak kita memang masih kurang. Orangtua terdidik memang sudah cukup banyak memperkenalkan aktivitas membaca sejak dini, namun mayoritas orangtua belum melakukannya secara memadai. Kondisi ini terjadi salah satunya akibat dari konsep membaca yang belum dipahami secara benar.

Membaca bukanlah aktivitas mengartikulasikan susunan huruf, kata, frase atau kalimat saja. Melainkan mengkontruksi makna dari simbol-simbol baik berupa huruf maupun gambar. Disinilah peran kreativitas sangat besar. Di samping pembaca perlu mengeksplorasi di balik bacaannya sehingga mampu menangkap maksud penulis. Selain itu pembaca didorong untuk membuat tafsir atas bacaannya secara kontekstual.

Membaca itu sebenarnya tidak hanya ingin memperoleh informasi dan menambah pengetahuan, serta mengkritisi dan meneliti informasi atau data yang ada. Melainkan juga memaknai fenomena alam dan sosial yang melingkupi kehidupan kita. Menyadari akan makna membaca secara komprehensif, maka sudah sepantasnya perintah membaca itu menjadi pintu pertama, wahyu pertama yang diberikan kepada Muhammad saw untuk mendidik makhluk seluruh alam.

Baca Juga:  Digelar, Workshop Literasi Milenial bagi Santri dan Mahasiswa

Begitu pentingnya membaca dalam kehidupan kita, maka setiap insan dan masyarakat perlu memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan ini tidak berarti bagi pengembangan fungsi otak kita, melainkan juga kebaikan dan kesehatan moral, psikis dan fisik kita. Dengan kebiasaan membaca pada setiap individu, maka akan terbentuk Masayarakat Membaca (Reading Society). Demikian pula sebaliknya Masyarakat Membaca berpotensi dapat menopang mudahnya tercipta kebiasaan membaca.

Menyadari akan luasnya cakupan membaca, maka perlu setiap insan dikenalkan, dilatih, dididik dan dibimbing membaca dengan baik. Meningkatkan kuantitas dan kualitas kebiasaan membaca sehingga mampu mendorong terciptanya hobby membaca yang akhirnya membaca menjadi karakter.

Strategi yang bisa diupayakan untuk me ciptakan kebiasaan belajar dengan menyediakan perpustakan (baik konvensional maupun e-library) baik di institusi pendidikan maupun di masyarakat. Selanjutnya perlu juga memperbanyak koleksi bacaan, pelatihan user perpustakaan, penugasan rutin membaca, festival membaca, menetapkan hari membaca, menciptakan pojok membaca, menetapkan rambu-rambu membaca (mana yang Boleh dan tidak boleh dibaca) dan sebagainya.

Menyadari akan pentingnya membaca, maka perlu sekali diperhatikan dampaknya. Kita harus dorong untuk terus menjaga kebiasaan ini yang mampu meningkatkan martabat dan harkat. Sebalikya kita harus bisa eliminir kebiasaan membaca yang bisa merusak keutuhan pribadi. Akhirnya tugas orangtua, guru, para ahli, masyarakat serta pemerintah untuk menfilter bahan bacaan dan informasi yang berpotensi merusak anak (pembaca).

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    akar kebencian
    Opini

    Akar Kebencian

    Kebencian adalah kondisi mental yang tidak mampu menghadapi hal-hal atau pribadi-pribadi yang dianggap ...

    1 Comment

    1. […] institusi pendidikan sangat berkepentingan untuk bisa merespon semua issu-issu tersebut. Kebijakan pendidikan harus segera disesuaikan sehingga memiliki relevansi yang tinggi. Demikian juga masyarakat bisa […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini