Seni Membaca

Apakah Anda jenis manusia yang cepat bosan, lelah dan lalu mengantuk kalau membaca buku? Apakah membaca bukan merupakan ornamen dan (apalagi) elemen penting dalam keseharian Anda? Mengapa buku dan literatur ilmiah lainnya belum menjadi bagian dari hidup Anda? Kenapa kegiatan membaca sedemikian melelahkan dan sulit mendapati kesimpulan dari setiap bacaan? Gerangan apakah yang salah dengan cara membaca Anda?

Sementara itu, terdapat segelintir penduduk bumi yang terus bergelut dengan buku dan Kitab Suci, tetapi tak kunjung pandai, malah cenderung intoleran dan eksklusif. Banyak pula yang juara di kelas, namun menjadi pecundang di kehidupan nyata. Nun di seberang sana, terdapat sekian gelintir bangsa manusia yang tak bosan-bosan melayari samudera ilmu, merenangi tetes demi tetes keringat dan air matanya demi bisa membaca dan belajar, terseok-seok memanjat terjalan-terjalan irama dan proses demi pengetahuan yang belum tentu penting saat ini, sembari menitipkan damba pada rekah bunga bahwa kelak negerinya akan membutuhkan pengetahuan itu—merekalah para petualang sejati, para pecinta ilmu yang paling berani, para penyelam sampai ke dasar hakikat ilmu yang paling tinggi.

Tetapi, kita abaikan sejenak soal membaca, buku dan hal-ihwal pertaliannya yang cenderung kaku dan membosankan itu. Ada sebilah tanya yang tanpa kita sadari selalu terhunus, bahkan mungkin ia telah menghunjam sampai ke jantung kesadaran: Adakah di antara kita yang tidak menghasrati ilmu dan menginginkan pengetahuan? Jika pertanyaan itu pernah menikam (sekali saja) dalam benak Anda, maka Anda telah satu langkah menjadi filosof, ilmuwan, Anda telah satu fase menjadi pewaris para Nabi, menjadi kekasih Tuhan. Nah, pertanyaan susulan yang juga menusuk adalah, mengapa langkah pertama sekaligus menjadi langkah terakhir?

Inilah pelajaran membaca yang dimaksud. Pada sesi pertama ini, izinkan saya memperkenalkan istilah kode atau sandi. Tak ayal, kode adalah pintu masuk untuk kita mengakses segala hal. Tak peduli apapun dan siapapun obyek yang hendak dan sedang Anda baca: membaca Tuhan, agama, Kitab Suci, alam sekitar, flora dan fauna, keanekaragaman hayati, mempelajari manusia, menyelami persoalan hidup, drama-drama panjang, pentas-pentas seni, musik, sastra, lukisan, gejala-gejala semesta, sasmita dan pertanda, energi, sentuh dan bunyi, cahaya dan musim, iklim dan cuaca, kecipak ombak, gelombang dan prahara, semua itu memiliki “kode unik” tersendiri. Dan, karena alam raya ini adalah pikiran raksasa (grand mind), bukan mesin raksasa (grand mechine).

Dalam alur komunikasi dan pemrosesan informasi, penyandian (encoding) adalah proses konversi informasi dari suatu sumber (objek) menjadi data, yang selanjutnya dikirim-pancarkan ke penerima informasi, seperti halnya sistem pemrosesan data pada perangkat-piranti elektronik dewasa ini. Dengan kata lain, setiap kali Anda belajar ilmu Kimia, dari dulu sampai Kiamat kurang dua hari, mau tak mau Anda harus terjebak pada istilah-istilah teknis seperti: unsur dan senyawa, tabel periodik berupa Fe, Zn, NaCl, Anda juga harus akrab dengan pola aksi-reaksi konfigurasi elektron, atom dan kwanta, dll. Pendekatan “encoding” ini juga berlaku bagi segala disiplin ilmu.

Baca Juga:  Membaca Partisipasi Perempuan dalam Dunia Politik dengan Nalar Emansipatoris

Contoh sederhana dalam keseharian, bisakah kita menggunakan kode pada ilmu tajwid (kaidah membaca al-Qur’an) untuk membaca-meretas kode pada ilmu fisika, pun juga sebaliknya; bisakah kode pada ilmu politik lalu kita gunakan untuk mengakses ilmu tata boga? Sayangnya, inilah yang acap terjadi dan kerap mewabah dalam keseharian bangsa ini. Kita lihat baru-baru ini betapa berlarut-larutnya situasi politik yang digagas-bahas lalu dicari justifikasinya dari perspektif agama. Padahal, politik dan agama adalah sesuatu yang lain. Anekdot sederhananya adalah: jika arloji Anda rusak, lalu Anda memperbaikinya ke Pandai besi, bisa dipastikan jam tangan Anda menjadi belati.

Nah, dalam proses membaca (misalnya buku, kitab kuning) selalu ada kode-kode tertentu sesuai dengan disiplin ilmu yang disampaikan di dalamnya. Dengan kata lain, setiap ranah ilmu memiliki aturan mainnya sendiri. Pun juga semesta yang dipenuhi sasmita dan gejala. Demikianlah alam mengirimkan sinyal dan kode kepada umat manusia. Oleh karenanya, setelah Anda membuat peta pikiran (mind map) tentang satu disiplin ilmu maupun fenomena empirik lainnya, dan dengan sendirinya Anda menemukan modal utama dari cara Anda itu, maka Anda telah melakukan “decoding“.

Proses mengurai atau membuka sandi (decoding) adalah kebalikan dari penyandian (encoding), yaitu konversi data yang telah dikirimkan oleh sumber menjadi informasi yang dimengerti oleh penerima. Kodek (codec) adalah penerapan aturan atau algoritma untuk penyandian dan pembukaan sandi (data MP3 misalnya).

Proses “decoding” ini kadang disebut juga sebagai penafsiran kode, yakni fase di mana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Semakin tepat penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh pengirim pesan, semakin efektif komunikasi yang terjadi. Lalu, pengetahuan mendapati bentuknya.

Demikianlah cara sederhana dalam kita memahami “teks” apapun yang membentang di sekeliling kita, di dalam diri dan di luar diri. Well, karena Tuhan yang hadir atau memperkenalkan diri kepada umat manusia adalah melalui dan sebagai “teks” dalam Kitab Suci, maka Tuhan pun tidak sungguh-sungguh secara lengkap kita kenal. Ia masih tersembunyi dalam lebatnya rimba misteri, dalam rimbun belantara tanya tak bertepi. Adalah berpulang kepada manusia sebagai penafsir untuk menyibak, memahami dan lalu menyinta-menyatu denganNya. Inilah proses “decoding” paling rumit tapi asyik, seolah mengobati dahaga rohani dengan air laut—semakin diminum semakin haus.

Tahap akhir adalah, mengkode atau menyandi ulang (recoding) setiap petualangan intelektual Anda dengan buku dan semesta. Sebab, setiap orang tidak sama dalam mengidentifikasi dan memahami satu disiplin ilmu. Sangat boleh jadi, cara kita belajar tidak sama dengan orang dan bangsa lain. Pendekatan decode yang berbeda, akan menghasilkan recode yang berbeda pula. Dalam fase taksonomi Bloom dan cipta-rasa-karsa ala Ki Hajar Dewantara, proses recode adalah babak akhir dari metode belajar, yakni menganalisis dan menyimpulkan yang lalu disusul dengan membuat resume dan tinjauan kembali terhadap satu buku. Jadi, sewaktu-waktu Anda membutuhkannya, tak perlu membaca buku itu dari awal, Anda cukup sekilas melihat catatan Anda. Inilah penyandian ulang (recode) dari satu pengetahuan atau buku bacaan.

Baca Juga:  Menulis dan Sisi Baiknya

Saya sependapat dengan Anda bahwa membaca—sebagai gerbang untuk mengetahui, memahami, menulis dan mengamalkan—itu gampang-gampang sulit (untuk tidak mengatakan tragis!) Ada sebagian bangsa manusia yang tentu tidak rela untuk menyikasa otaknya untuk mendidih dan berkertingat dengan buku-buku bacaan, terutama yang agak berat tapi mengasyikkan, filsafat misalnya. Padahal, filsafat jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan.

Namun demikian, membaca jauh lebih mudah dari pada memahami, memahami jauh lebih gampang dari pada mengalami dan lalu mengamalkan pengetahuan itu sendiri. Pendek kata, memutuskan untuk membaca jauh lebih berat dari pada membaca itu sendiri. Apa sebab? Keputusan adalah komitmen. Begitu Anda berkomitmen terhadap satu hal, Anda harus bersedia untuk memasuki petualangan yang penuh gelombang. Jadi, inti persoalannya adalah terletak pada memutuskan untuk membaca, mentradisikannnya dan lalu menjadikannya sebagai kebutuhan.

Dinamika manusia untuk berubah sebenarnya sangat alami, tetapi setiap kali ingin berubah, dalam hal ini membaca, selalu ada kekuatan (dan lalu menjadi alasan, bahkan pembenaran) untuk menolak. Dengan lain kata, yang menolak Anda untuk berubah sebenarnya bukan orang lain, melainkan diri Anda sendiri. Begitu buku Anda pegang, Anda buka satu demi satu halaman, merentangkan pikiran menyelami makna, mulailah Anda berhadapan dengan diri Anda sendiri. Ya, Anda akan bertengkar dengan diri Anda “yang lama”, diri Anda yang lebih kuat dan terlatih, terpola dan terbentuk sedemikian rupa. Sayangnya, tidak banyak yang lolos dari jebakan ini, tanpa terkecuali Guru, Kiai, dan bahkan ilmuwan.

Membaca adalah mengungkap segala tanya tentang segala hal, dengan membaca, Anda tidak hanya menyibukkan diri, tetapi juga menyibak segala misteri. Membaca adalah kegiatan yang sangat kudus dan agung di mana transformasi ilmu dan nilai-nilai sangat bergantung pada cara membaca dan kualitas bacaan. Simplifikasinya, kualitas perubahan Anda kembali pada kualitas bacaan Anda. Luas dunia Anda juga bergantung pada luas bacaan Anda. Ekstrimnya, kewarasan Anda juga sangat tergantung pada bacaan Anda. Kabar baiknya adalah, selama masih ada umat manusia yang membaca, maka akal sehat akan terus terjaga. Nah, kabar buruknya adalah, perjuangan trersulit manusia adalah memperjuangkan akal sehatnya. Kabar baiknya lagi apa?

Begitu perubahan (membaca, cara, dan membiasakannya) sudah Anda mulai, tampaknya perubahan itu akan mengurus dirinya sendiri, perubahan itu akan menemukan kemajuannya sendiri. Betul, inilah efek bola salju (snow ball), efek dadu, efek domino dan apapun istilahnya. Anda hanya perlu memutuskan untuk mulai membaca sebanyak mungkin, berusaha memahami sebanyak mungkin, mengalami sesering mungkin. Inilah belajar sesuatu tentang segala sesuatu, dan belajar segala sesuatu tentang segala sesuatu. Dalam pepatah Jawa dikenal dengan istilah: trésna jalaran saka kulina.
Sekali waktu apakah Anda pernah berobat ke Dokter? Pernahkah Anda mencium tangan seorang pemimpin spiritual atau antri berebut tanda tangan seorang tokoh idola? Masihkah Anda rajin ke Gereja, Kelenteng dan Sinagog? Adakah fakir-miskin yang Anda layani sepenuh hati?

Baca Juga:  Dunia Perbukuan Ditengah Gelombang Literasi Digital

Sederet pertanyaan di atas bisa kita pertajam-perdalam dengan: Jika Anda sakit dan lalu berobat ke Dokter, siapakah yang Anda datangi? Jika Anda datang dan rela antri berdesakan untuk berharap berkah dari pemimpin spiritual, siapakah yang Anda datangi? Siapakah yang Anda mintai tanda tangan itu? Mengapa Anda masih ke Pura, Pagoda, Masjid, padahal Tuhan dan para Dewa tidak di sana, siapakah sebenarnya yang Anda cari? Siapakah fakir-miskin dan yatim-piatu yang Anda layani itu? Siapakah mereka semua dan mengapa kita kerap kali “terjebak” untuk terus kecanduan mendatangi-menghayati mereka, tak sedikit di antara kita yang rela mengorbankan keringat, darah, dan air mata semata demi mereka?

Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan kampungan itu dengan jawaban murahan. Yakni, kita jawab dengan sebuah pengantar yang juga pertanyaan: Jika Anda membaca buku, apakah sejatinya yang Anda baca? Ketika Anda membaca sejarah para tokoh dunia atau bahkan filosof, apakah sesungguhnya yang sedang Anda baca? Manakala Anda sedang membaca karya sastra, literatur ilmiah, menyaksikan pertunjukan drama, bahkan mempelajari Kitab Suci, apakah sebenarnya yang sedang Anda baca-saksikan-pelajari? Apakah inti? Manakah substansi?

Nah, jika Anda sakit dan pergi ke Dokter, Anda sejatinya sedang mendatangi rasa sakit dan penyakit Anda sendiri dengan harapan dan keyakinan akan sembuh. Apabila Anda berebut antri dalam kerumunan massa yang berjibun demi mencium tangan seorang guru spiritual, Anda sejatinya sedang mendatangi kerinduan Anda sendiri. Tatkala Anda mendatangi tokoh idola, hakikatnya Anda sedang menjumpai kesepian Anda sendiri; menjumpai Tuhan di gereja, sejatinya menjumpai “ruang kosong” dalam diri, sebab Tuhan jauh telah bersemayam di kedalaman nurani dan palung sukma yang paling dalam. Melayani fakir-miskin adalah melayani kemuliaan kita sendiri, menjunjung tinggi kemanusiaan kita sendiri. Ketika Anda pergi ke sekolah atau pesantren untuk belajar, sejatinya Anda sedang mendatangi kebodohan Anda sendiri, kerinduan Anda akan ilmu, kesunyian Anda akan pengetahuan. Merindukan Tuhan, para Nabi, para Kekasih, hakikatnya adalah menjumpai “ruang kosong” dalam diri, yang obyektivasinya bisa kita dapati dalam sekian bentuk dan aksen, dalam sekian lekuk dan fragmen. Pendek kata, apabila Anda mencintai seseorang, sesungguhnya Anda sedang mencintai diri Anda sendiri dalam dirinya.

Kembali ke buku. Membaca buku adalah membaca seluruh hidup. Memperbaiki bacaan adalah memperbaiki seluruh korpus kehidupan. Anda tidak pernah membaca buku, justru buku-bukulah yang mengeja setiap jengkal hidup Anda. Anda tidak pernah menulis puisi dan karya-karya lainnya. Puisi dan karya-karya ilmiah itulah yang justru menulis dirinya sendiri melalui diri Anda. Jadi, membaca buku-buku sejarah atau pemikiran para tokoh adalah membaca hidup Anda sendiri. Para ilmuwan tidak sedang bercerita mengenai dunia mereka, mereka justru bercerita tentang dunia Anda, sebab Anda adalah ilmuwan bagi hidup Anda sendiri, filosof bagi dunia Anda sendiri. Selamat! []

Ach Dhofir Zuhry
Alumni PP Nurul Jadid Paiton, Penulis Buku Peradaban Sarung, Kondom Gergaji dan Mari Menjadi Gila, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Penasehat Dunia Santri Community dan pengampu kajian Tafsir Tematik NUonline tiap ahad sore 16.30 WIB

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] akan pentingnya membaca, maka perlu sekali diperhatikan dampaknya. Kita harus dorong untuk terus menjaga kebiasaan ini yang […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini