Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” – QS Ali ‘Imran:110)

Manusia adalah makhluk yang terbaik yang dilengkapi dengan insting, nafsu, akal, dan hidayah. Kita patut mensyukurinya. Sayangnya bahwa di antara kita banyak yang tahu tetapi tidak mampu mensyukuri. Buktinya bahwa tidak sedikit hidupnya selalu bermasalah. Hidup yang seperti ini tidak seharusnya terbiarkan. Kita sudah saatnya untuk bisa back to nature. Menjadi hamba Allah yang terbaik.

Mungkin di antara kita suka rendah hati, atau alasan apa tidak begitu jelas bahwa kita banyak belum merasakan sebagai umat terbaik. Karenanya itu kita tidak perlu harus menganjurkan atau mengajak kebaikan (amar makruf), dan melarang berbuat kejelekan (nahi munkar). Yang menarik, kadang-kadang ada gerakan kebencian yang ditujukan kepada orang atau kelompok yang berjihad melawan orang-orang melakukan hal-hal terlarang. Fenomena ini yang menarik. Padahal tidak sedikit, para kiai hanya lebih berani melakukan amar makruf, tapi tidak berani melakukan nahi munkar.

Semula yang di-claim sebatas umat terbaik hanya generasi yang hidup bersama Rasulullah saja. Kemudian bergeser ke generasi Sahabat. Namun akhirnya yang bisa masuk sebagai umat terbaik adalah umat Muhammad dan seterusnya. Asal umat itu mampu tunjukkan keimanannya yang benar dan amal perbuatan yang dilandasi dengan iman yang benar juga. Hal ini berlaku bagi semua umat Muhammad, tanpa membedakan rasa, suku, keturunan, dan sebagainya.

Selain itu umat terbaik itu harus bisa memberikan manfaat. “Khairunaas anfa’uhum linnaas”, yang artinya bahwa sebaik-baik di antara manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Manfaat yang bersifat duniawiyah dan ukhrawiyah. Yang selalu menghadirkan kesejukan dan kedamaian, bahkan kesejahteraan.

Baca Juga:  Islamophobia dan Radikalisme Islam: Apakah Sebuah Ancaman?

Umat yang terbaik itu memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak ke arah perbuatan yang baik, bukan perbuatan yang jelek didasarkan pada pertimbangan syariah dan akal sehat. Selain itu juga melarang perbuatan yang jelek, bukan perbuatan yang baik didasarkan pada pertimbangan syariah dan akal sehat. Dalam prakteknya, tidak sedikit godaan syaitan itu mengajak ke perbuatan jahat, sebaliknya melarang dan menghilang-halangi perbuatan yang baik.

Memang tidaklah mudah melakukan amar makruf nahi munkar, karena Allah swt telah memperingatkan dengan keras kepada orang-orang yang tidak mampu berperilaku sebagaimana yang telah diucapkan. Sebagaimana firman Allah swt, yang artinya sebagai berikut : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan, apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaaf:2-3). Karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang memadai, maka Rasulullah menganjurkan “ballighuu ‘annii walau aayah”, yang artinya “sampaikan dariku walau satu ayat”. Ini memperjelas bahwa kita tidak perlu khawatir untuk memenuhi tugas. Apalagi diperkuat dengan “Addiinu annashiihah”, yang artinya, “Agama itu memberikan nasihat”.

Hal ini jangan dipandang sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Memenuhi kebutuhan untuk menjadi umat terbaik. Kalau memang tidak memiliki keinginan menjadi umat terbaik, ya kita bebas berbuat. Mau apa saja, misalkan dengan mengajak orang lain ke arah kejelekan, terjun ke perbuatan maksiat. Atau melarang orang berbuat baik, dengan menghilang-halangi atau mengganggu orang lain menjalankan ibadah. Karena itu perlu disadari bahwa untuk menjadi umat terbaik, kita perlu bekerja dan beramal dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, kita perlu berjihad. Bisa dengan ilmu, harta, tenaga, atau jiwa. Ini sebagai konsekuensi bahwa hidup itu ibadah. Hidup itu mengabdi kepada sang Khalik. Hidup itu untuk Allah, bukan ilah-ilah lain. Jika demikian kita bisa menjadi umat terbaik.

Baca Juga:  Pemikiran dan Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah dan Kebijakan Khalifah Al-Makmun dan Harun Al-Rasyid (1)

Demikianlah beberapa hal yang patut kita renungi. Bahwa kita patut bersyukur diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk yang paling sempurna dan terbaik. Kita semua idealnya bisa mengakhiri hidup ini juga dalam posisi terbaik, husnul khatimah. Untuk bisa husnul khatimah kapan saja dipanggil Allah, maka selama hidup ya harus dijalani dengan perilaku-perilaku yang baik, tidak mungkin yang lainnya. Kita wajib berikhtiar hal-hal yang baik dengan cara yang baik, yang bisa diterima secara syar’iyyah dan akal sehat, walau sering kali harus menghadapi ujian yang berat, baik itu muncul dari diri kita sendiri maupun dari luar. Semoga Allah swt menjaga hati kita untuk istikamah berbuat kebaikan yang diridai-Nya. Aamiin. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah