Pengurus MWC NU Diwek H Supadi membuka acara Pelatihan Menulis Tokoh NU di Kampus STIT Al Urwatul Wutsqo (UW) Jombang pada Sabtu, (06/07/24). Ia mengibaratkan tradisi kaum Nahdliyyin di akar rumput seperti lilin-lilin kecil.

“NU itu kata cicitnya Mbah Hasyim, yaitu Gus Mirza, tradisinya seperti lilin-lilin kecil. Biasanya hidupnya NU itu di dusun-dusun, di ranting-ranting. Bagaimana LTN NU Diwek itu bisa menjadi penggerak seperti lilin-lilin kecil yang terus hidup,” terangnya.

Acara LTN MWCNU Diwek yang bekerjasama dengan Literacy Center PWNU Jawa Timur tersebut juga disambut baik oleh Wakil Ketua 3 Bidang Kemahasiswaan STIT UW Jombang, Dr Hj Chumaidah. Beliau mengatakan bahwa karya yang dihasilkan akan sangat bermanfaat.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih. Acara ini sangat sesuai dengan program kami, mudah-mudahan ini bisa berlanjut sampai ke sekian kalinya. Saya ingin memotivasi kalian semua, bahwa menjadi penulis harus dengan keseriusan. Kesempatan seperti ini jangan disia-siakan,” ujar putri pendiri Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqo (PPUW) Jombang ini.

Foto Peserta bersama Pemateri Dr Nailatin Fauziyah

Kegiatan yang diikuti 48 peserta tersebut, diharapkan mampu melahirkan penulis yang pantang menyerah. “Dari peserta sebanyak ini, lahir 10 penulis baru itu sudah hebat. Yang dibutuhkan adalah penulis yang ajeg dan istikamah,” tegasnya perempuan yang akrab disapa Bunyai Chumaidah.

Beliau menambahkan, spirit dakwah yang dibawa oleh KH Ya’qub Husein selalu pendiri pesantren patut dijadikan teladan dalam berjuang.

“Berjuanglah, kalau tidak bisa berdakwah kepada bapaknya, dakwahlah kepada anaknya. Jika tidak bisa, maka kepada cucunya. Tidak berhenti berjuang apapun resikonya,” tandasnya.

Dikonfirmasi setelah acara, salah satu peserta, Aris Sayyidatul Ilmi mengatakan acara tersebut sangat membekas baginya.

Baca Juga:  Harlah ke-18, STIT UW Jombang Adakan Reuni Akbar Lintas Generasi

“Sesuatu yang membekas dalam diri saya saat usai mengikuti acara tadi adalah dawuh Pak Mukani. Yang mengatakan Ulama kita saat menuliskan karyanya untuk menjadi rujukan umat, setelah beliau wafat ada yang sama sekali tidak ditemukan fotonya. Karena sebelum wafat bahkan ada yang sengaja membakar fotonya sendiri. Jadi yang tersisa hanya karya karya beliau yang bermanfaat sepanjang masa. Tanpa foto mungkin menjaga keikhlasan beliau-beliau. Sedangkan kita saat ini terlalu banyak foto, tapi tidak punya karya,” tuturnya.

Acara yang berfokus menggali sejarah Kiai NU di desa-desa itu menghadirkan pemateri andal seperti Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya Dr Nailatin Fauziyah dan Redaktur Pelaksana Majalah AULA PWNU Jawa Timur Rofi’i Boenawi.

Penting diketahui, Literacy Center PWNU Jawa Timur menekan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kampus STIT UW Jombang yang diwakili oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik STIT UW, Dr. Ali Musthofa.

Rifatuz Zuhro
Pegiat Konten Keislaman dan Keindonesiaan, serta Redaktur Pesantren.ID

    Rekomendasi

    Kisah

    Belajar Mencintai

    Sesaat setelah aqad nikah adik saya selesai, dan para kiai bergantian untuk berdoa, ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Berita