Dalam ceramahnya pada Haflah Tasyakuran Akhir Sanah Pondok Pesantren al-Hikmah Melathen, Jl. Lawu 05 Kalangbret, Tulungagung, 12 September 2004 silam, Gus Dur mengatakan bahwa mempromosikan pondok pesantren  adalah kewajiban para kiai, di antaranya adalah beliau sendiri.

“Saya di mana-mana itu menceritakan kehebatan pesantren itu begini-begini hebatnya. Tapi tidak saya ceritakan kalau pesantren itu kadang-kadang juga begitu (punya kekurangan),” ungkapnya.

Ketua Umum PBNU 1984 -1999 ini pun kemudian bercerita, bahwa ia pernah “dimarahi” oleh almarhum Kiai Syansuri Badawi, Tebuireng, Jombang.

“Saya dulu itu sekretaris Pondok Tebuireng. Saya mengundang para pastur, pendeta, dari Malang ke Tebuireng. Setelah melihat ke sana ke mari, kemudian (mereka) pulang,” cerita Gus Dur.

Kemudian, ia dipanggil Kiai Syamsuri Badawi.

“Gus!”

Dawuh, kiai”

“Ada apa sampean kok mengundang orang-orang itu?”

“Lho, kenapa?,” jawab Gus Dur, enteng.

Lha, rahasia kita kan terbongkar orang!”

“Kiai, dari jalan sana, itu sudah kelihatan, kok: sarung berantakan, kaos ditaruh tak karu-karuan. Rahasia itu sudah kelihatan dari jalan, kok,”  timpal Gus Dur.

“Bukan. (Tapi) akidahnya itu, lho!,” jawab Kiai Syansuri.

Lha akidahnya itu kan memang kita tular-tularkan, agar orang lain meniru,” jawab Gus Dur, kembali memberi alasan.

Menurut Gus Dur, seharusnya memang begitu.  Namun faktanya, kalau orang lain tahu malah tidak boleh. Hal ini, menurut Gus Dur, aneh. Ia mengatakan, sulit menjelaskan hal-hal seperti ini, khususnya kepada para kiai sepuh.

“Jadi, kadang-kadang kiai-kiai tua itu dengan saya agak putus asa,” seloroh Gus Dur, diikuti gelaktawa hadirin.[]

Baca Juga:  Humor Ramadan: Kentut dalam Kelas
Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Santri PP An-Nawawi Berjan. Kontributor NU Online & Redaktur Pesantren.id

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Humor