Pada suatu malam, tidak sengaja kami membuka sebuah kanal di Youtube. Kanal tersebut mengunggah video wawancara dengan salah satu tokoh nasional. Tercatat, video itu terunggah tanggal 13 Juni 2018. Tokoh tersebut punya latar belakang yang lekat dengan dunia pesantren. Selain itu, dikenal pula sebagai seniman dan aktif di media sosial. Tokoh tersebut akrab disapa Gus Mus.

Pada video tersebut, Gus Mus menanggapi soal berita palsu (hoax) dan ujaran kebencian. Gus Mus bercerita juga soal bagaimana beliau pernah mendapat kata-kata kasar dari anak muda di media sosial. Peristiwa tersebut menjadi viral. Banyak pihak mengutuk perbuatan anak muda tersebut. Singkat cerita, anak muda yang dimaksud akhirnya meminta maaf kepada Gus Mus, sowan langsung ke kediaman Gus Mus di Rembang.

Bagi Gus Mus, hal tersebut ditanggapi dengan santai. Bahkan Gus Mus sudah memaafkan anak muda yang telah berkata kasar kepada beliau sebelum anak muda itu sowan ke kediamannya. Seakan Gus Mus menganggap tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Padahal dari cerita Gus Mus, anak muda tersebut banyak menunduk dan menangis saat sowan ke kediamannya. Bahkan ibu anak muda itu berkali-kali meminta maaf kepada Gus Mus, berharap agar Gus Mus tidak murka dan memberi kualat pada putranya.

Gaya santai Gus Mus itu sebenarnya bisa dimaklumi. Bahkan orang umum pun harusnya meniru beliau. Pasalnya, orang bisa menjadi siapa saja dan tampil menjadi apa saja di media sosial. Sering ditemui, orang berlagak ganas di media sosial namun berubah kalem di dunia nyata.

Media sosial ibarat dua sisi sebuah koin. Di satu sisi orang menampakkan gaya yang lain. Bergaya ganas, nampak berwibawa hingga berlagak kalem pun bisa. Sisi lainnya orang bisa bergaya apa adanya. Ada yang bergaya humoris, berlagak slengekan pun bisa.

Pada video yang sama juga, Gus Mus ditanya soal maraknya berita palsu di media sosial. Gus Mus lalu memberi ibarat sebuah mikrofon atau pengeras suara. Saat orang pertama kali memegang mikrofon, lalu merasa suaranya terdengar lantang, banyak yang menyukai alat itu. Alat itu lalu digunakan untuk beragam keperluan. Mulai mengumandangkan adzan hingga mengumumkan acara keluarga.

Media sosial kurang lebih seperti itu. Ia tak ubahnya pengeras suara model baru. Karena media sosial, orang bisa mengumumkan apa saja yang ia mau. Bahkan mengumumkan hal yang paling privat sekalipun.

Pesan Gus Mus dari video itu, tergantung apa niat orang untuk bermedia sosial. Bijaklah pula dalam menggunakan media sosial. Agar nanti tak seperti yang dikatakan oleh Gus Mus, kita ini kemaruk.
Wallahu a’lam.

Hanif Nanda Zakaria
Penulis Buku "Bang Ojol Menulis" Alumnus Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

    You may also like

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama