Humor

Bercanda ala Sahabat Salman al-Farisi dan Sayyidina Ali

(Ilustrasi)

Tabiat sejati manusia adalah suka akan kebaikan dan benci akan keburukan. Siapapun itu, karena kebaikan adalah bagian dari fitrah suci yang belum terintervensi oleh apapun setelah seorang manusia dilahirkan ke alam dunia ini. Namun beriringan dengan jalannya waktu, tabiat itu dipengaruhi oleh lingkungan. Akan tetap baik jika selalu baik, dan bisa jadi buruk jika terus-terusan memburuk.

Hidup di lingkungan pesantren misalnya, akan memelihara tabiat manusia menjadi tetap baik. Sholat berjama’ah, bertatap muka dengan kiai, saling mengasihi, selalu mengaji, dan banyak lagi kebaikan-kebaikan yang ditawarkan di dalamnya. Itu semua akan menjadikan manusia terbiasa untuk melakukan kebaikan, sehingga kebaikan itu akan terus tertancap mantap dalam diri seseorang walaupun sudah kembali pulang ke kampung halaman.

Seseorang yang suka berbuat baik, ia laksana malam yang selalu rindu akan hadirnya bintang. Tak ingin setiap waktunya terlewat begitu saja tanpa diisi dengan kebaikan-kebaikan. Boleh dikatakan seperti pecandu, ia akan selalu berusaha untuk berbuat lagi dan lagi. Dan tanda-tanda seperti ini lah yang mengisyaratkan bahwa kebaikan seseorang itu diterima oleh Allah swt dan akan mendapat balasan yang berlipat ganda baik ketika masih di alam dunia, lebih-lebih ketika esok di alam akhirat.

Di antara karunia Allah kepada hamba-Nya adalah balasan yang berlipat dari setiap kebaikan yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa Dia lah Dzat pemilik kebaikan yang sejati. Satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, jika ada sepuluh kebaikan maka akan dibalas seratus kebaikan, dan seterusnya. Sebab itu lah di masa kecil kita dahulu, orang tua atau guru kita sering mengatakan “Kalau kamu berbuat baik, nilainya sepuluh”. Kalimat seperti itu memang agak terdengar remeh, namun sebenarnya itu lah pendidikan yang harus diajarkan sejak dini agar selalu termotivasi untuk berbuat kebaikan ketika sudah dewasa.

Baca Juga:  Ketika Ada Orang yang Berani Mengerjai Kanjeng Nabi

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا (سورة الأنعام: 160

 “Barang siapa yang melakukan satu kebaikan, maka akan mendapat sepuluh kebaikan yang sepadan”

Firman Allah itu lah yang harus kita jadikan semangat hidup untuk menebar kebaikan di mana pun dan kapan pun. Karena kebaikan itu tak terbatas oleh tempat dan waktu. Ketika kita melihat ada batu di jalan raya, memindahkannya itu sudah disebut kebaikan.

Bisa jadi sebab kita memindahkan batu itu, kita akan dihindari dari kecelakaan saat berkendara. Jika ada semut yang tak berdaya di genangan air, mengangkatnya itu sudah disebut kebaikan. Bisa jadi sebab kita mengangkat semut itu, kita akan diselamatkan ketika suatu saat terjadi banjir dan menenggelamkan rumah kita. Begitulah hidup, apa yang kita perbuat sejatinya akan kita rasakan balasannya. Bahkan terkadang balasannya tak dapat dilogikakan.

Dalam satu riwayat, ada sebuah kisah yang menarik tentang kebaikan. Suatu hari, ketika Siti Fathimah sedang sakit ia meminta dibelikan buah delima untuk menghilangkan rasa inginnya. Setelah berpikir sejenak, Sayyidina Ali yang saat itu tak punya sepeser uang pun akhirnya mengiyakan dan bergegas ke pasar. Ia berniat untuk berhutang satu dirham kepada pedagang di pasar demi mendapatkan satu buah delima untuk memenuhi keinginan sang istri. Setelah mendapatkan buah delima, ia pun kembali menuju rumahnya dengan harapan istrinya akan bahagia dengan apa yang ia bawa.

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, Ia mendapati pengemis tua yang terbuang di pinggiran jalan yang membuat langkahnya terhenti. Sayyidina Ali pun mulai bertanya tentang apa yang pengemis itu inginkan. Terkejut, setelah bercerita sedikit tentang dirinya, pengemis itu pun menyebutkan keinginannya, yaitu ingin memakan buah delima. Sontak Sayyidina Ali berkata dalam hati; “Aku membeli buah delima ini semata-mata untuk Fathimah, kalau aku berikan kepada pengemis ini maka Fathimah akan tetap dengan keinginannya. Namun kalau aku tak memberinya, maka celaka lah aku karena telah melanggar firman Allah:

Baca Juga:  Humor Ramadan: Kentut dalam Kelas

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (سورة الضحى: 10

“Kepada orang yang meminta janganlah kamu menyentaknya”.

Setelah melewati perenungan singkat, Sayyidin Ali pun memutuskan untuk memberi delima itu kepada si pengemis jalanan. Ketika buah delima itu diberikan, keinginan pengemis tadi akhirnya terobati untuk memakan delima. Dan di sisi lain tanpa sepengetahuan Sayyidina Ali, ternyata saat itu pula keinginan Fathimah untuk memakan delima pun sudah terobati. Sayyidina Ali melangkahkan kakinya untuk pulang dan memasuki rumah dengan rasa malu karena tak berhasil membawa buah delima untuk istri tercinta.

Siti Fathimah yang melihat Sayyidina Ali datang pun bangun dari tempatnya dan merangkul mesra sang suami seraya berkata; “Apa kamu sedang gundah ?? Demi keagungan Allah dan kebesaran-Nya, ketika kamu memberikan delima yang kamu beli kepada seseorang di pinggir jalan yang menginginkan delima, tiba-tiba keinginanku untuk memakan buah delima juga hilang”. Sayyidina Ali yang merasa bingung karena perkataan istrinya pun mulai merasa senang dan hilang kegundahannya walaupun ia masih bertanya-tanya tentang mengapa istrinya tahu bahwa ia memberikan buah delima itu kepada pengemis jalanan di tengah perjalanan pulangnya.

Selang beberapa saat, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah yang ternyata sahabat Salman Al-Farisi. Dia membawa nampan berisikan sesuatu yang ditutupi dengan selembar kain. Sayyidina Ali pun bertanya, “Ini dari siapa, Salman ??”. “Dari Allah kepada Rasul-Nya, kemudian dari Rasul-Nya untuk kamu” Jawab Salman. Ketika selembar kain itu ditarik, ternyata nampan itu berisikan sembilan buah delima.

Dengan kecerdasannya, Sayyidina Ali pun bertanya perihal nampan yang harusnya berisikan sepuluh buah delima karena amal baiknya kepada pengemis jalanan itu; “Salman, kalau memang benar delima ini untuk aku, maka seharusnya isi nampan ini ada sepuluh buah delima, karena Allah sendiri yang berfirman;

Baca Juga:  Beragama secara Rileks

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا (سورة الأنعام: 160

“Barang siapa yang melakukan satu kebaikan, maka akan mendapat sepuluh kebaikan yang sepadan”.

Sayyidina Ali pun lanjut bertanya, “Lalu ke mana delima yang satunya ??” Mendengar hal tersebut, Salman pun hanya tersenyum dan tertawa seraya mengeluarkan satu buah delima yang ia sembunyikan di kantong lengannya. “Wahai Ali, demi Allah, memang buah delima ini ada sepuluh, namun tadi aku ingin menguji kamu saja”.

Begitulah balasan kebaikan yang berlipat ganda. Satu buah delima yang diberikan Sayyidina Ali kepada si pengemis, langsung dibalas sepuluh kali lipatnya oleh Allah. Ini baru balasan di alam dunia, belum balasan di alam akhirat. Karena sesungguhnya Allah itu maha baik, apalagi jika hamba-Nya selalu giat untuk berbuat baik. Mari kampanyekan kebaikan. Tak peduli kebaikan itu kecil atau besar, yang terpenting adalah berbuat baik.

Imamuddin Muchtar
Mahasiswa PBA Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, PP Al Awwabin Depok.

    Rekomendasi

    2 Comments

    1. Ma syaa Allah sae khuuu,.

    2. Mantap gus. Asik dan berbobot 👍😍

    Tinggalkan Komentar

    More in Humor