Gus Zaki Tebuireng dan Humor Warisannya

Kemarin lusa, melalui sebuah obituari sederhana, saya menulis sosok almarhum KH. Muhammad Agus M Zaki Hadziq. Kalau kita ngobrol dengan Pengasuh PP. al-Masruriyah, Tebuireng, ini, komposisinya terdiri dari 40 persen ilmu, 30 persen perkara NU, sisanya humor.

Ini yang membuat para sahabatnya betah ngobrol dengan beliau berjam-jam. Selain menjadi pendengar yang baik, Gus Zaki adalah shohibul hikayah jempolan, khususnya babakan keteladanan para masyayikh dan kelucuan para santri-kiai.

Ini adalah beberapa humor yang saya kulak dari Gus Zaki. Sebagian ditulis di Facebook. Beberapa disampaikan via lisan, yang saya dengar dalam obrolan di kantor Majalah Tebuireng, menjelang bedah buku “Perjuangan Laskar Hizbullah” karya Mas Isnoe Woeng Sayun, 30 Oktober 2015. Saat itu Gus Imam Bukhori yang memoderatori acara ini, dan Mas NA Farid Mubarok menjadi juru potretnya.

ISHOMA, ISTIKOMA, ISMAIL

Sudah menjadi kebiasaan, dalam setiap seminar selalu ada ISHOMA alias IStirahat, Sholat, dan MAkan sebagai pemisah antar materi. Namun di kalangan nahdliyyin, ISHOMA bisa berbuah menjadi ISTIKOMA alias IStirahat, Tidur, ngroKOk, dan Makan. Yang lebih parah ISHOMA maupun ISTIKOMA ini berubah menjadi ISMAIL alias IStirahat, Makan, lalu Ilang alias kabur.

Nah, yang terakhir ini jangan dijadikan kebiasaan!

**
SEKUDEL

Gus Zaki, pengasuh PP. Al-Masruriyyah itu, pernah menjabat sebagai kepala keamanan Pesantren Tebuireng. Di bawah komandonya, ia punya banyak anak buah yang disiplin, termasuk—sebut saja—si Karjo. Nama terakhir ini spesialis urusan lapangan: dari fotokopi, nempel pengumuman, hingga menjadi tukang pijat.

Hingga pada suatu ketika, entah karena terlampau pening atau mungkin banyak urusan, si Karjo menghadap Gus Zaki dengan ekspresi tegang.

“Lapor gus. Semua acara sudah saya susun sekudel-nya gus.”

Baca Juga:  Kiai Wadud, Sosok Kiai Pendidik

“Sekudel?”

“Iya gus, sekudel sudah beres.”

Gus Zaki masih belum nyambung.

“Sekudel apa sih, jo?”

“Itu lho gus, bahasa Inggrisnya jadwal.”

Karjo masih serius.

“Oalah, sekedul (schedule) to jo?”

Kali ini Karjo cengar-cengir.

**

YAI LOUHAN

Bagi sebagian orang, ikan tertentu memiliki keindahan dan citarasa seni. Bahkan dipercaya mendatangkan hoki tertentu. Lihat saja fenomena ikan koki, koi, hingga louhan.

Di saat pasaran louhan masih berjaya, harganya bisa gila-gilaan. Apalagi saat ikan louhan punya keunikan, misalnya sisik dan totol-totolnya menggambarkan bentuk atau lafal tertentu. Jelas, harganya meroket.

Nah, suatu ketika, Gus Zaki ditawari ikan louhan yang—menurut penjualnya—totol-totol hitamnya membentuk tulisan YAI. Meski ukurannya belum besar, tapi karena sisiknya membentuk huruf unik, harganya lumayan tinggi.

Seiring pertumbuhan ikan, huruf Y berubah mirip huruf T.

Alamak!

Akhirnya, “Iwak iki gorengen ae, kang,” kata Gus Zaki sambil menunjuk ikan di akuarium.

“Wah, apa nggak sayang gus, kan belinya agak mahal. Lagi pula ada tulisan unik di kulitnya,” kang santri mencoba menggagalkan perintah Gus Zaki.

“Iya, dulunya tulisannya YAI, lha sekarang ikannya sudah besar jadi TAI,” kata Gus Zaki terkekeh.

**
MARWOTO GALAU

Marwoto sumpek, sebab ia merasa namanya jelek dan sama sekali nggak gaul. Ketinggalan jaman. Bikin dia minder.

Akhirnya sowan kiai agar namanya diganti yang keren.

“Siapa bilang Marwoto itu nama yang jelek?” kata kiai, “namamu itu termuat dalam al-Quran.”

“Beneran, kiai?” Marwoto mulai gembira.

“Coba dengar ini, innashofa wal MARWATA min sya’aairillah. Nah, MARWATA, jelas kan? Lha wong haji saja manggil namamu kok!”

Marwoto pulang dengan bangga dan percaya diri.

_

Untuk Gus Zaki, lahul Fatihah. [HW]

Rijal Mumazziq Zionis
Pecinta Buku, Rektor INAIFAS Kencong Jember, Ketua LTN NU Kota Surabaya

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] saja, namun keberadaan pesantren yang mengiringinya tetap bertahan dengan berbagai dinamikanya. Tebuireng, Denanyar, Lirboyo, Ploso, Genggong, Paiton, Sukorejo-Asembagus dan lain sebagainya malah semakin […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Humor