kecakapan lulusan perguruan tinggi pasca pandemi

Saat ini era Disrupsi menampakkan diri dalam realitas kehidupan kita dalam berbagai setting. Beberapa dekade yang lalu, bahkan pada dekade yang lalu kehidupan kita relatif linier. Kita mudah berencana dan membuat proyeksi, yang pada saat eksekusi, kondisinya bisa mendekati dengan rencana dan ramalan. Namun kini kondisinya berubah sangat signifikan, terjadi Disrupsi dalam berbagai aspek kehidupan yang diperkuat dengan kehadiran pandemi yang tidak bisa dielakkan. Kecakapan yang harus dimiliki oleh setiap orang mengalami perubahan. Tak bisa dihindari tuntutan kecakapan baru yang harus dikuasai oleh lulusan perguruan tinggi.

Perguruan Tinggi pada hakekatnya memiliki beberapa jenjang pendidikan. Jika diklasifikasikan, profil lulusannya diharapkan bisa menjadi individu yang terampil, semi profesional, profesional, dan full professional. Demikian juga jika dikaitkan dengan KKNI, maka lulusan yang terampil merupakan produk Diploma 1, 2 dan 3, lulusan semi profesional merupakan produk program Diploma IV atau S1, lulusan profesional merupakan produk program Spesialis 1 atau Strata 2, dan lulusan full profesional merupakan produk program Spesialis 2 atau Doktor.

Pada kenyataannya tidak semua lulusan dari berbagai program itu mampu menunjukkan kompetensi dan kecakapannya secara meyakinkan pada awal-awalnya memasuki dunia kerja. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal sangat berkaitan dengan penguasaan hard skills dan soft skills. Faktor eksternal sangat terkait dengan kredibilitas institusi, iklim akademik kampus, kolegialitas, tingkat persaingan di dunia kerja, dan sebagainya. Terlepas dari kedua faktor ini, kondisi pandemi yang terus berlangsung dapat berdampak terhadap ketidakmenentuan tuntutan dunia kerja. Apakah yang terkait dengan jenis pekerjaan atau profesi yang bersifat konvensional maupun yang bersifat baru sebagai konsekuensi adanya tuntutan jenis pekerjaan atau profesi baru untuk memenuhi hajat manusia. Terlepas dari kondisi yang semakin kompleks dan tidak menentu ini, akhirnya lebih kembali kepada para lulusan sendiri.

Baca Juga:  Mau Jadi Mahasiswa Produktif? Ini Tipsnya!

Ada fenomena yang menarik. Selama ini terjadi bahwa prosentasi lulusan perguruan tinggilah yang masuk katagori pengangguran. Kondisi pandemi segara empirik menyebabkan jumlah lulusan PT yang di-PHK terus meningkat. Sementara itu kepastian pandemi berakhir belum nampak. Untuk mengantisipasi pasca pandemi, setidak-tidaknya lulusan perguruan tinggi baik yang lama maupun baru perlu menguasai sejumlah kecakapan.

Pertama, adaptabilitas dan fleksibilitas. Satu hal yang bisa dipastikan, bahwa semua pekerjaan terus berlangsung menuju suatu perubahan. Di satu sisi kemajuan pekerjaan berlangsung sangat cepat, di sisi lain pandemi terus semakin meluas dan terasa sulit dikendalikan dan dituntaskan. Apapun jenis pekerjaan dituntut untuk mencapai target tertentu. Namun dengan kondisi pandemi, pekerjaan dijalani dari rumah dengan menuntut adaptabilitas diri baik terhadap pekerjaan maupun tempat bekerja di samping instrumen pendukung untuk menjaga kualitas dan produktivitas hasil pekerjaan. Dengan berbagai tekanan yang ada, baik prioritas maupun deadline, diperlukan fleksibilitas.

Kedua, kecakapan yang fasih di bidang teknologi. Salah satu cara yang terbaik untuk menyiapkan diri pasca pandemi adalah menguasai kecakapan teknologi. Penguasaan teknologi digital baik terkait dengan artificial intelligence, big data, the Internet of Things, virtual and augmented reality, and robotics sangat membantu dalam menghadapi pandemi. Dengan segala keterbatasan mobilitas, semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan sangat efektif dan efisien.

Ketiga, kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi telah dipandang sesuatu yang sangat penting selama pandemi. Dengan menguasai kemampuan kreatif dan inovatif, kita bisa mengatasi kesulitan untuk membuat produk baru dan melakukan pengiriman dengan cepat dan aman. Kreativitas secara manusiawi sangat diperlukan dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks pasca pandemi.

Keempat, literasi data dan informasi. Dalam memasuki era Revolusi Industri 4.0, meguasai data dan informasi sangatlah penting. Dengan menguasai data, suatu perusahaan bisa memprediksi lebih baik Disrupsi bisnis masa depan dan lebih baik dalam melayani pelanggan dengan produk-produk yang baik sesuai dengan kesukaan pelanggan baik selama pandemi maupun setelahnya.

Baca Juga:  Stafsus Menag Abdul Rochman: UM PTKIN Jadi Best Practice Seleksi Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri

Kelima, berpikir kritis. Kecakapan lain yang sangat penting dikuasai setelah berlangsungnya pandemi Covid-19 yang merusak tatanan kehidupan adalah kemampuan berpikir kritis. Selama pandemi kita diharapkan data yang beragam dan berbagai interpretasi yang semakin membingungkan, sehingga muncul saling menyalahkan antara pemerintah, pebisnis dan masyarakat. Memang kita tidak boleh terlalu cepat percaya terhadap informasi atau data uang muncul. Perlu dilakukan penilaian yang cermat, sehingga dapat diperoleh informasi mana yang kredibel dan mana yang tidak kredibel. Untuk melakukan upaya ini sangat diperlukan kemampuan berpikir kritis.

Keenam, kecakapan digital dan coding. Transformasi digital organisasi sangatlah diperlukan setelah adanya pandemi. Karena itu profesional di bidang keterampilan digital, seperti: coding, pengembangan web, dan pemasaran digital akan menjadi lebih penting daripada masa kini dan lalu. Orang-orang yang menguasai keterampilan digital akan lebih cepat bangkit setelah pandemi berakhir. Bahkan mampu melakukan recovery dan kemajuan yang lebih cepat.

Ketujuh, kepemimpinan. Jangan dikira bahwa keterampilan kepemimpinan hanya diperlukan oleh para pemimpin saja. Kedepan semua individu seharusnya mampu menampilkan sifat kepemimpinan. Memiliki kepemimpinan yang baik bukan berarti mampu ke supervisi dan mengelola orang lain. Namun lebih dari itu, yaitu bagaimana mengkomunikasikan ide dan visi kepada semua pihak dalam suatu institusi dengan pendekatan yang baik dan tidak mengambil jarak.

Kedelapan, kemandirian dan enterpreneurship. Kemandirian dan interpreneurship adalah hal yang sangat penting dalam menghadapi pasca pandemi dan era ketidakmenentuan. Karena itu para lulusan perguruan tinggi harus mampu tunjukkan jati dirinya. Berintegritas dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap tanggung jawab. Di samping spirit enterpreneurship yang sangat diperlukan di era yang terbuka banyak adanya peluang job baru.

Baca Juga:  Stafsus Menag Abdul Rochman: UM PTKIN Jadi Best Practice Seleksi Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri

Semua kecakapan tersebut sangatlah penting dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi untuk memenangkan seleksi sosial. Semakin banyak kecakapan dimiliki samakin baik. Namun selain kecakapan tersebut sebagai orang beragama tentu perlu terus menjaga moralitas. Karena kesuksesan kerja bukan segala-galanya, tidak bisa secara linier kebahagiaan seseorang. Hanya orang beragamalah dengan menjaga ketaatannya yang berpotensi tinggi dapat meraih sukses yang lebih sempurna.

Akhirnya, bahwa dalam berbagai gonjang ganjing dan ketidakmenentuan, setiap lulusan perguruan tinggi tidak ada pilihan yang terbaik kecuali tetap memiliki optimisme. Memiliki raja’ah, harapan masa depan yang lebih baik. Karena itu perlu terus membangun kesungguhan dalam berikhtiar dan bekerja, sehingga The Dream will come true. Hanya kepada-Nya kita bertawakal. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini