Tiga Rahasia Kedamaian Hati dalam Doa Rasulullah

Ada dua jalan dalam meraih kebahagian dalam hidup, yaitu jalan kesenangan dan ketenangan. Betapa banyak manusia menyibukkan diri untuk mencari ketenangan hati, namun tidak pernah terasa bahkan sampai menuju puncak pencapaian diri. Hal ini disebabkan prioritas manusia yang tidak lagi sesuai dengan fitrahnya, yaitu sebagai hamba Allah. Lebih memilih kesenangan hawa nafsu daripada meraih ketenangan hati bersama Sang Ilahi.

Saat ini ada ungkapan yang populer, bahwa inner peace is the new success. Artinya bahwa yang paling dicari manusia adalah ketenangan dan kedamaian hati. Karena banyak diantara manusia yang sebenarnya sudah ada di level puncak, namun belum menemukan ketenangan hati yang sesungguhnya.

Banyak kesalah pahaman diantara kita tentang ketenangan hati, salah satunya adalah faktor penentu yang paling terbesar dalam menemukan ketenangan hati ada pada faktor eksternal, seperti jumlah uang yang kita punya, kondisi keluarga, kedekatan dengan sahabat, suasana pekerjaan, dan sebagainya. Padahal faktanya menurut riset yang dilakukan oleh ahli happiness sains menyatakan bahwa faktor eksternal hanya berpengaruh 10 persen untuk ketenangan hati manusia. Namun faktor terbesar yang paling menentukan adalah dari dirinya, bagaimana ia memanajemen qalbu-nya.

Nabi Muhammad Saw. adalah manusia yang paling banyak ditulis sejarah hidupnya. Tidak ada tokoh dunia yang paling banyak dikaji, didalami serta diteladani dalam setiap sisi kehidupannya, mulai dari ucapan, tingkah laku, keputusan, larangan dan perintahnya sedetail yang dulu sampai kini ditulis oleh para muslim maupun orientalis. Salah satu sekelumit rahasia kehidupan yang dicontohkan beliau ada pada doa.

Suatu hari Rasulullah mengajarkan doa kepada para sahabat, doa yang sangat luar biasa. Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dan Abu Umamah bahwa Nabi Saw. menganjurkan membaca doa ini saat pikiran sedang resah, gelisah dan tidak tenang. Berikut doanya:

Baca Juga:  Hikmah di Balik Penundaan Terkabulnya Do'a

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ

Allahumma inni as’aluka nafsan bika muthmainnah, tu’minu bi liqo’ika, wa tardho bi qodho’ika, wa taqna’u bi’athoika

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, Yang ridha dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberia-Mu”

Jika kita renungi doa tersebut, sangat rapi dalam strukturnya, sangat dalam makna yang terkandung dimana dalam doa tersebut tersimpan 3 the real inner peace ( tiga rahasia kedamaian hati). Rasulullah menyebut kedamaian hati dengan نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً (Jiwa yang tenang, tentram).

Dari doa ini Rasulullah mengajarkan tiga pilar kedamaian hati yang menjadi landasan kedamaian hati yang sejati:

  1. Tu’minu bi liqa’ika (Jiwa yang yakin bahwa suatu hari nanti ia akan bertemu dengan Rabb-Nya)

Dalam istilah lain, manusia yang memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Karena yang membuat kita bingung adalah kita tidak tahu tujuan hidup kita secara jelas. Bukankah kapal yang berlayar ada tujuan akan berlabuh dimana, jika tidak jelas tujuan arahnya, maka kapal akan terombang-ambing bahkan terseret arus lautan.

Ketika seseorang memiliki kejelasan tujuan semata-mata mencari perhatian Allah, maka  ia tak akan pusing dengan perhatian manusia. Satu sebab yang dapat membuat derita dalam hidup adalah selalu khawatir penilaian manusia terhadap diri kita sampai lupa pandangan Allah kepada kita.

  1. Wa tardha bi qadha’ika (Jiwa yang selalu ridha dengan apapun yang Allah tetapkan)

Orang-orang yang bertaqwa senantiasa ridha dengan apa yang Allah berikan. Karena ia yakin apa yang diberikan Allah adalah yang terbaik. Allah tidak mungkin dzalim kepada hamba-Nya dan ia selalu menemukan sisi positif dalam setiap cobaan yang menimpanya.

Baca Juga:  Tips Rahasia Keberkahan Hidup dari Para Ulama Nusantara

Ada seorang psikiater yang bernama M. Schootler yang menulis dalam bukunya ia mengatakan “Ada sekian banyak jenis tingkatan gangguan jiwa, tapi dari semua itu akar penyebabnya hanya satu yaitu ketika seseorang tidak mau menerima apa yang terjadi dalam hidupnya”.

Sehingga pantaslah Umar bin Khattab mengatakan “Aku tidak peduli keadaan senang atau sedihku. Karena aku tidak tahu mana diantara keduanya yang membuat Allah ridha kepadaku”. Dalam kesempatan lain Imam Ali ra. Berkata “Ketika Allah mengabulkan doaku aku bahagia, ketika Allah tidak mengabulkan doaku, aku lebih berbahagia. Karena yang pertama tadi adalah pilihanku, dan yang kedua adalah pilihan Allah. Dan pilihan Allah adalah pastilah terbaik untukku”

  1. Wa taqna’u bi ‘atha’ika (Jiwa yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan)

Jiwa yang selalu merasa legawa dengan yang Allah berikan. Rasulullah pun bersabda bahwa sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas. “Anak adam itu ketika diberikan satu lembah minta dua lembah. Semuanya akan terus begitu sampai tanah kubur yang masuk ke dalam mulutnya (Al-Hadits)”.

Orang kaya itu bukanlah orang yang besar penghasilannya, banyak mobil dan rumahnya, tapi orang kaya adalah keinginanya lebih sedikit dari penghasilannya. Jiwa yang penuh syukur dan sangat menikmati apa yang Allah berikan kepadanya.

Mari kita istiqamahkan doa ini setiap pagi dan petang dan setiap selesai sholat. Semoga Allah senantiasa menjadikan hati kita selalu damai karena Allah. Insya Allah. []

Siti Junita
Mahasiswi Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Negeri Jember

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar