Refleksi satu abad NU

Kita menyadari bahwa sejarah merupakan hal penting, apalagi bagi sebuah organisasi keagamaan sebesar Nahdlatul Ulama. Seyogyanya, sejarah yang tertulis akan menjadi pondasi yang kokoh untuk NU agar terus menerus bangkit di masa yang akan datang. Dengan sejarah, generasi selanjutnya dapat belajar dari kesalahan masa lalu sehingga generasi selanjutnya mampu untuk terus berbenah dan melakukan perbaikan menuju cita-cita kolektif. Sehingga sejarah tidak melulu ada untuk dipelajari, melainkan bisa dijadikan sebagai pembelajaran.

Mendasari keputusan Muktamar NU di Makasar pada 2010, yang mana di dalamnya menegaskan bahwa Hari Lahirnya (Harlah) NU ditetapkan berdasarkan kalender Hijriyah yakni 16 Rajab 1344 H. Maka, usia 100 tahun NU berdasarkan kalender Hijriyah yaitu jatuh pada 16 Rajab 1444 H, atau 7 Februari 2023. Usia 100 tahun usia yang cukup matang, dan bukan muda lagi bagi organisasi yang tidak pernah sepi dari dinamika. Peringatan 100 tahun, seharusnya bukan hanya kegiatan seremonial saja, akan tetapi menjadi refleksi apa yang akan diwujudkan NU ke depannya.

Memasuki awal abad kedua, tema yang diusung adalah “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru” . Menurut ketua PBNU Gus Yahya, tema tersebut dipilih mendasari sebuah hadis Rasullullah Saw mengenai adanya pembaharu (mujaddid) setiap 100 tahun, sehingga kemudian diharapkan menjadi pemicu kebangkitan baru, dan bukan bermakna baru bangkit.

Sejak berdiri 1926, NU merupakan salah satu organisasi keagamaan yang punya kontribusi besar terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia. kedigdayaan NU tidak hanya dalam kancah lokal tapi juga Internasional. Hal ini terwujud pada saat Wahabisme berkembang di Arab Saudi pada tahun 1700-an yang kemudian menyebar ke Indonesia pada tahun 1900-an, dengan propaganda anti bid’ah, anti Mazhab, dan penghancuran situs bersejarah peninggalan Islam. Saat itu, NU meskipun dikeluarkan dari anggota Kongres Al-Islam di Yogyakarta dan tidak dilibatkan sebagai delegasi Kongres Islam Internasional yang akan mengesahkan keputusan tersebut. NU hadir di garda depan melawan arus ini, dengan membentuk Komite Hijaz yang dinahkodai KH. Wahab Hasbullah yang mengusung kebebasan bermazhab, serta mengusulkan agar situs bersejarah seperti makam Nabi Muhammad Saw tidak dihancurkan.

Baca Juga:  Menilik Makna Nahdhatul Ulama (dalam Bahasa Arab)

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan, kata Heraclitus seorang filsuf Yunani. Suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa Nahdhiyin secara kultural maupun struktural masih berkutat pada persoalan keagamaan saja, dan belum memaksimalkan perhatiannya pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Padahal kita ketahui bersama, bahwa NU punya tanggung jawab ganda yaitu dimensi keagamaan dan kemasyarakatan. Kita diminta untuk kembali mengejawantahkan mindset bahwa NU adalah Jam’iyah Diniyyah Ijtima’iyyah. Sehingga implementasi antara kepedulian terhadap problem keagamaan dan solidaritas terhadap problem kemanusiaan bisa menjadi pilihan terbaik dengan tujuan agar NU menjadi lebih bermakna di tengah masyarakat.

Menjemput abad kedua menuju kebangkitan baru diharapkan menjadi momentum bagi NU untuk terus mewujudkan kontribusi terhadap persoalan keagamaan dan kemasyarakatan di negara kesatuan republik Indonesia. Perjuangan untuk masa depan mewajibkan percepatan pembangunan kapasitas kader secara lebih progresif.

Tiga kebangkitan yang diharapkan mampu untuk menopang kebangkitan abad kedua sebagaimana tertuang dalam buku PERJUANGAN BESAR NAHDLATUL ULAMA;
Pertama, Kebangkitan Intelektualisme, yang dimaksud intelektualisme itu tidak melulu terfokus hanya kompetensi akademik, akan tetapi kolaborasi antara kompetensi akademik dengan perhatian sepenuh hati terhadap realitas masyarakat serta sumbangsih pemikiran untuk mewujudkan solusi atas setiap persoalan yang ada.

Kedua: Kebangkitan Teknokrasi, sebagaimana pemerintah yang melakukan perekrutan pegawai, dalam rekrutmen pengurus NU perlu diterapkan kualifikasi spesifik sehingga organisasi NU akan menemukan “bahan mentah” membangun Teknokrasi. Teknokrasi adalah mesin organisasi dalam ukuran besar yang diasumsikan sebagai generator transformasi masyarakat.

Ketiga, Kebangkitan Kewirausahaan, kebangkitan kewirausahaan tidak melulu soal ekonomi, akan tetapi ada kewirausahaan sosial yang menyediakan layanan masyarakat secara sukarela tanpa berorientasi profit.

Sebagai Jam’iyah Diniyah Ijtimaiyah, maka selain spirit kebangsan yang diakomodir dalam Nahdlatul Wathan, dan pergulatan pemikiran yang diakomodir lewat Tashwirul Afkar ada spirit bangunan ekonomi yang diakomodir dalam Nahdlatul Tujjar. Kolaborasi tiga kebangkitan dan spirit tersebut akan menjadikan NU semakin digdaya menjemput kebangkitan kedua. []

Ahmad Amin Mustofa
Santri NU, mahasiswa pasca sarjana iainu kebumen, Pengurus GP Ansor Kebumen., KNPI Kebumen

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini