Sebenarnya, jika kita telisik lebih juah, ada banyak metodologi yang digunakan oleh para ulama ilmu kalam untuk membuktikan adanya Tuhan, akan tetapi al-Ghazali meringkasnya menjadi tiga klasifikasi. Pertama, adalah metode al-sabru wa al-taqsim (eksplorasi/penelitian dan klasifikasi).

Misalnya, manusia itu dari sudut pandang status perkawinan ada dua, yaitu ada yang nikah dan yang jomblo. Di antara keduanya tidak ada, karena kalau terbukti sudah menikah maka ia tidak jomblo. Sebaliknya jika terbukti jomblo maka tidak menikah. Artinya, tidak mungkin seseorang menyandang dua status sekaligus antara menikah dan jomblo saat bersamaan (tidak mungkin di tengah-tengah).

Inilah yang dalam ilmu logika modern disebut dengan “The law of excluded middle term” (hukum yang menihilkan sesuatu yang berada di tengah-tengah). Tentu saja ini tidak berlaku bagi semua kasus seperti, status warna suatu benda itu tidak merah bukan berarti hijau, karena bisa saja putih, hitam, kuning, dan seterusnya. Tetapi, ada sesuatu yang hanya mungkin diklasifikasikan menjadi dua saja (kalau tidak A, maka pasti B).

Perumpamaan al-Ghazali, jika alam itu tidak hadis (anyar) tentu saja pasti qadim (abadi). Setelah membaginya, kita meneliti, apakah alam itu hadis atau qadim. Jika alam itu hadis, maka tidak mungkin alam itu qadim. Sebaliknya, jika alam itu qadim maka tidak mungkin alam hadis.

Perlu diketahui, metode ini sering kali di pakai oleh para ulama-ulama ilmu akidah. Dan, inilah cara bernalar akidah Islam sebagaimana di ikuti mayoritas para ulama. Meski demikian, tidak semuanya golongan/kelompok mengikuti nalar ini seperti salafi, wahabi, dan tentunya mereka yang memilih dalil tekstual juga tidak mengikuti. Pendek kata, metode ini dipakai oleh para ulama yang menggabungkan antara metode “tekstual” dan “rasional”.

Baca Juga:  Mukhtashar Abdillah al-Harari: Kitab Ringkas dalam ‘Ilmu ad-Din ad-Dharuri

Kedua, adalah metode menyusun dua premis dengan cara yang lain. Jadi, segala sesuatu yang mengandung sesuatu yang hadis dalam dirinya, maka otomastis dia adalah hadis. Ini tentu berbeda dengan metode pertama, karena pada metode bagian kedua ini tidak ada al-taqsim (pembagian).

Contohnya adalah alam raya. Kita tahu, segala sesuatu yang ada di dalam alam raya ini adalah hadis. Dikatakan hadis karena dia tercipta dan ada permulaannya. Jelasnya, (premis besar) alam raya yang menjadi wadah bagi sesuatu yang hadis dengan sendirinya juga hadis. (premis kecil) Sementara alam didalam dirinya ada yang hadis. Kesimpulannya, alam adalah hadis.

Contoh lain misalnya, (premis besar) semua orang yang sudah menikah maka dia tidak jomblo. (premis kecil) Salman sudah menikah. Kesimpulannya, Salman tidak jomblo.

Ketiga, adalah metode serang-menyerang. Karena, kata al-Ghazali, pertahanan yang baik itu dengan cara menyerang musuh. Dalam hal ini, kita membuktikan kecacatan pendapat atau argumentasi lawan bicara. Bahwa, jika sebuah nalar membawa pada kesimpulan yang keliru, maka nalar itu sendiri juga keliru

Bahasa Gus Ulil: “argumentasi lawan jika diteruskan akan sampai pada jalan buntuh, dan setiap argumentasi yang membawa kita pada kekeliruan maka argumentasi itu sendiri juga keliru).”

Sudah mafhum, dalam perdebatan klasik ada dua kubu besar yaitu, teolog dan filosof. Para teologi berpendapat bahwa alam ada permulaannya, sementara filosof mengatakan alam tidak ada permulaanya (dari dulu ada dan akan terus ada).

Sangat masuk akal argumen para filosof jika kita menelusurinya. Nalarnya: alam ini tidak mungkin hadis, diciptakan, dan ada permulaannya. Mereka mengatakan seperti itu karena, hubungan alam dengan Tuhan sama seperti hubungan antara lampu (cahaya) dengan bayang-bayang.

Baca Juga:  Kitab Mafatih Al-'Ulum: Al-Khawarizmi (2)

Kita bisa melihat, begitu lampu (cahaya) dihidupkan seketika langsung menimbulkan efek bayang-bayang. Ringkasnya, adanya bayang-bayang karena ada cahaya. Dalam hal ini, cahaya dengan bayang-bayang tidak ada yang mendahului dan membelakangi, karena saat cahaya ada maka bayang-bayang juga ada. Begitu pun, ketika cahaya mati maka bayang-bayang menghilang (jarak antara munculnya cahaya dengan bayang-bayang tidak ada; berbarengan). Sekalipun secara nalar kedudukan sebab (cahaya) lebih tinggi dari akibatnya (bayang-bayang).

Sama dengan alam, yang adanya disebabkan oleh Tuhan (ada Tuhan maka ada alam). Persis seperti cahaya dan bayang-bayang. Dengan demikian, karena Tuhan qadim, maka alam juga qadim. Jelasnya, Tuhan sebagai qadim pertama adalah penyebab, dan alam sebagai qadim kedua adalah karena akibat. Inilah pendapat para filosof yang tidak di setujui oleh ulama ahli kalam.

Lalu apa alasan para ulama tidak setuju akan pendapat filosof. Alasannya: jika anda mengatakan bahwa alam itu abadi sama dengan Tuhan, berarti hal itu menandakan adanya ta’addu al-qudhama’ (yang abadi itu banyak). Karena yang abadi banyak berarti Tuhan banyak, dan anda menyalahi akidah tauhid dimana Tuhan itu hanya satu, sedangkan yang lainnya berbilangan dan hadis. Kesimpulannya, maka alam tidak abadi.

Sebuah catatan

Tentang cahaya dan bayang-bayang. Penulis teringat dengan cerita “mitos tentang gua”. Adalah mitos Plato yang masyhur sekali tentang penunggu-penunggu gau yang termuat dalam dialog Politeia. Manusia dapat dibandingkan (demikian katanya) dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya terbelenggu dalam gua; mukanya tidak dapat bergerak dan selalu terarah kepada dinding gua.

Di belakang mereka ada api bernyala. Beberapa orang budak berlian mondar-mandir di depan api itu, sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan rupa-rupa bayangan yang di pantulkan pada dinding gua. Karenanya, orang-orang tahanan itu menyangka bahwa bayang-bayang itu merupakan realitas yang sebenarnya, dan bahwa tidak ada realitas yang lain.

Baca Juga:  Perjalanan Ulama Besar; Imam Al-Ghazali Berasal dari Kurasan

Namun, sesudah beberapa waktu satu orang tahanan di lepaskan. Ia melihat sebelah belakang gua dan api yang ada di situ. Ia sudah mulai memperkirakan bahwa bayang-bayang tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia di hantar keluar gua dan melihat matahari yang menyilaukan matanya.

Mula-mula ia berpikir bahwa itulah realitas yang sebenarnya, dan bahwa dahulu ia belum pernah memandangnya. Pada akhirnya, ia kembali kedalam gua dan bercerita kepada teman-temannya bahwa, apa yang mereka lihat selama ini bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanya bayang-bayang saja. Namun mereka tidak mempercayai orang itu. Dan, seandainya mereka tidak terbelenggu, maka mereka pasti akan membunuh tiap orang yang mau melepaskan mereka dari gua. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Salman Akif Faylasuf
Santri/Mahasiswa Fakultas Hukum Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka