Press ESC to close

Meneladani Ciri Khas Ulama NU: Keikhlasan, Kecintaan Terhadap Ilmu, dan Seni

Dalam pengajian Ramadan yang penuh berkah, Ning Intan Diana Fitriyati, M.Ag., menyampaikan pesan mendalam tentang ciri khas ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang patut diteladani oleh santri NU. Pesan ini tidak hanya relevan bagi para santri, tetapi juga bagi kita semua yang ingin memahami esensi perjuangan dan keteladanan ulama NU. Tiga ciri khas utama yang beliau sampaikan adalah keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan kecintaan pada seni. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana ketiga nilai ini mewarnai dunia pesantren dan kehidupan sehari-hari.

Keikhlasan: Pondasi Utama Ulama NU

Salah satu ciri khas ulama NU yang paling menonjol adalah keikhlasan. Ning Intan mengisahkan perbedaan mendasar antara ulama Arab dan ulama Nusantara. Ulama Arab, seperti Imam Syafi’i, umumnya tinggal di kota-kota besar seperti Makkah, Madinah, atau Baghdad. Sementara itu, ulama Nusantara justru memilih tinggal di pelosok desa, dekat dengan masyarakat. Contohnya, Kyai Maimun Zubair, Kyai Sahal Mahfudz, Kyai Mahrus Ali (Lirboyo), dan Kyai Asad Syamsul Arifin. Mereka memilih mendirikan pesantren di daerah terpencil, jauh dari keramaian kota.

Mengapa mereka memilih jalan ini? Jawabannya adalah keikhlasan. Mereka tidak mencari popularitas atau keuntungan materi. Tujuan mereka satu: mendekatkan diri kepada Allah dan melayani umat. Ini adalah bentuk pengabdian yang tulus, tanpa pamrih. Seperti pidato Gus Mus yang terkenal, “Saya ini manusia merdeka.” Gus Mus menolak berbagai jabatan, termasuk ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), karena baginya keikhlasan adalah kebebasan sejati. Ia tidak ingin terikat oleh jabatan atau kekuasaan.

Dalam dunia pesantren, keikhlasan ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Santri diajarkan untuk mengerjakan segala sesuatu dengan niat ikhlas, baik dalam belajar, beribadah, maupun melayani masyarakat. Nilai ini menjadi pondasi yang membuat pesantren tetap eksis dan dicintai oleh masyarakat.

Kecintaan pada Ilmu: Tradisi Ulama NU yang Tak Pernah Padam

Ciri khas kedua ulama NU adalah kecintaan pada ilmu. Ning Intan menceritakan betapa ulama NU memiliki semangat belajar yang luar biasa. Mereka membaca kitab-kitab klasik yang bahkan tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya kitab Mughni al-Labib yang diajarkan di Universitas Al-Azhar tingkat doktoral, justru dibaca oleh kyai-kyai kampung hanya karena kecintaan mereka pada ilmu.

Kecintaan pada ilmu ini juga tercermin dalam sikap rendah hati ulama NU. Seperti kata Imam Malik “Termasuk ‘fikihnya’ orang alim adalah mengatakan ‘Aku tidak tahu’.” Ini adalah sikap yang diajarkan kepada santri, jangan pernah merasa paling tahu, dan teruslah belajar sepanjang hayat. Kyai Afifuddin Muhajir, misalnya, sering menolak undangan ceramah jika tema yang dibahas bukan keahliannya. Ini adalah bentuk tanggung jawab intelektual yang patut diteladani.

Di pesantren, tradisi ini diwariskan melalui sistem pembelajaran yang mendalam. Santri tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga diajak untuk mencintai proses belajar. Mereka diajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang akan menerangi jalan hidup mereka.

Kecintaan pada Seni: Menghidupkan Jiwa dan Rasa

Ciri khas ketiga ulama NU adalah kecintaan pada seni. Ning Intan mengingatkan bahwa Imam Syafi’i, selain sebagai ulama besar, juga dikenal sebagai penyair dan ahli memanah. Ini menunjukkan bahwa seni adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan ulama. Seni tidak hanya menghibur, tetapi juga mengasah kepekaan jiwa dan rasa.

Dalam dunia pesantren, seni memiliki tempat yang istimewa. Santri diajarkan untuk mencintai seni, baik itu seni baca Al-Quran (tilawah), kaligrafi, atau bahkan musik rebana. Seni menjadi sarana untuk mengekspresikan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, sholawat dan qasidah sering dilantunkan dalam acara-acara keagamaan di pesantren. Ini adalah bentuk ibadah yang menyentuh hati dan jiwa.

Ning Intan menekankan bahwa santri harus mengolah tiga aspek dalam hidup yang meliputi; jiwa (ikhlas), akal (ilmu), dan rasa (seni). Ketiganya harus seimbang agar kehidupan menjadi harmonis.

Pesantren sebagai Laboratorium Keikhlasan, Ilmu, dan Seni

Pesantren adalah tempat di mana ketiga ciri khas ulama NU ini dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di pesantren, santri belajar untuk ikhlas dalam beribadah dan melayani masyarakat. Mereka juga diajarkan untuk mencintai ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum yang bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu, pesantren menjadi tempat di mana seni berkembang, baik sebagai sarana dakwah maupun sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Allah.

Contoh nyata adalah pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo, Sidogiri, atau Tebuireng. Pesantren ini tidak hanya menghasilkan ulama-ulama hebat, tetapi juga seniman, penulis, dan tokoh masyarakat yang berkontribusi bagi bangsa. Ini adalah bukti bahwa nilai-nilai keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan seni telah menjadi DNA pesantren.

Refleksi untuk Santri dan Masyarakat

Pesan Ning Intan Diana Fitriyati, M.Ag., dalam pengajian Ramadan ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama santri NU, untuk meneladani ciri khas ulama NU. Keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan seni bukan hanya nilai-nilai abstrak, tetapi prinsip hidup yang harus dijalankan sehari-hari.

Bagi santri, pesan ini adalah motivasi untuk terus belajar, beribadah, dan berkarya dengan ikhlas. Bagi masyarakat, pesan ini adalah ajakan untuk menghargai peran pesantren sebagai lembaga yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga manusia-manusia berintegritas, berilmu, dan berhati mulia

Penutup: Menjaga Warisan Ulama NU

Ulama NU telah mewariskan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi kehidupan berbangsa dan beragama. Keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan seni adalah warisan yang harus kita jaga dan terus hidupkan. Melalui pesantren, nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi, membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional.

Mari kita teladani keteladanan ulama NU, menjadikan keikhlasan, ilmu, dan seni sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Dengan begitu, kita bisa menjadi generasi yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. 

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Wisuda ke-5 Ma’had Aly dan STIS Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah Tekankan Pentingnya Ilmu dan Pengabdian
Benarkah Ada Malaikat di Pundak Kita? Begini Kata Quraish Shihab
Mengenal Mbah Bolong: Dari Panggung Dakwah, Pengasuh Pesantren hingga Mendirikan SMK Berprestasi
Tradisi, Dalil, dan Globalisasi Islam:  Membaca Amaliyah NU Bersama Gus Baha

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.