Saya heran kenapa komentar orang terhadap film Hati Suhita berpusat pada relasi cinta antara Gus Birru, Suhita, dan Rengganis. Menurut saya, padahal, itu hanya efek samping dari sesuatu yang lebih krusial, yaitu keinginan Gus Birru untuk menjadi dirinya sendiri keluar dari bayang-bayang abahnya. Keinginan yang tampaknya dipupuk selama masa kuliah (meski tidak jelas apakah di UGM atau IAIN) dengan bacaan filsafat Barat itu melahirkan pilihan-pilihan sulit yang terwakili oleh dua sosok perempuan yaitu Rengganis yang sekuler dan Suhita yang religius, dua kategori yang dalam dunia keseharian tidak terlalu mencolok lagi batas-batasnya.

Meski tidak atau belum membaca novelnya, saya melihat ada gagasan besar di balik sosok Gus Birru. Lebih dari sekadar seorang lelaki yang galau dalam memilih Suhita atau Rengganis, Gus Birru adalah wakil dari sebuah generasi pesantren yang juga galau memahami dan menjalani dunia modern. Separuh dirinya masih tertanam di masa lalu bersama ingatan dan kepatuhan terhadap abah dan ummi, tetapi separuhnya lagi telah mengelana ke dunia lepas bebas.

Kegalauan itu adalah hasil dari apalagi kalau bukan sekolah modern! Mungkin kalangan non-santri tidak mengalaminya secara radikal, tetapi bagi santri sekolah modern adalah fase ketika dia tercerabut pelan-pelan dari akar-akar kehidupan yang melahirkannya. Cukup pasti pengalaman ketercerabutan itu bagi masing-masing orang berbeda; bagi mereka yang sedemikian mendalam mengalaminya, pengalaman tersebut menimbulkan trauma.

Dalam hal ini, Rengganis bukan sekadar perempuan modern yang mandiri, cekatan, dan akan pergi ke Eropa sendirian. Rengganis adalah kemoderenan itu sendiri. Dia bisa luwes keluar-masuk pesantren, tetapi pada dasarnya dia tetap orang luar. Dia menyukai pesantren bukan karena pesantren an sich, tetapi karena di situ ada gagasan Barat, yaitu kesetaraan, yang secara epik diperankan oleh Suhita. Gus Birru termehek-mehek kepada Rengganis bukan karena dia cantik atau karena dia memang punya pengalaman romantik dengannya selama masa kuliah, tetapi karena Rengganis adalah tubuh yang mewadahi fantasi Gus Birru mengenai Barat yang dipahaminya lewat buku Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russel versi terjemahan Pustaka Pelajar.

Baca Juga:  Pusat Studi Pesantren Gelar Bedah Film Dokumenter ‘Hamtramck’, Yuk Daftar!

Sementara itu, Suhita jelas adalah perwakilan tradisi pesantren dalam bentuk kontemporernya. Selain dianggap bisa ngaji (meski lewat buku Tafsir Jalalain versi terjemahan), Suhita sudah terpapar pikiran-pikiran modern, seperti kemajuan dan kesetaraan. Tidak jelas bagi saya apakah Suhita ini kuliah atau tidak, tetapi tampaknya dia sudah memamah buku-buku kritik wacana agama terbitan LKiS yang dibaca anak-anak UIN Jogja pada masanya. Meski demikian, kesetiaan terbesar Suhita adalah tradisi pesantren, sesuatu yang membuat Gus Birru gamang. Gus Birru boleh saja pada awalnya tidak mencintai Suhita, tetapi siapa sih yang tidak takluk pada kerlip mata perempuan yang masih bermukena (sebab lingerie malah menimbulkan persoalan tersendiri) sehabis shalat dan baca Al-Quran? Bagaimanapun, masa kecil dan remaja Gus Birru dihabiskan di pesantren di mana dia menyerap beragam nilai dan, jangan lupa, fantasi yang dibungkus dalam tubuh Suhita.

Menghadapi Rengganis dan Suhita, Gus Birru sejatinya menghadapi dualisme fantasi mengenai dunia Barat yang sekuler dan dunia Timur yang religius. Seperti saya kemukakan di atas, di dunia keseharian antara Barat-sekuler dan Timur-religius berkelindan, sehingga batas-batasnya menjadi tidak lagi jelas. Meski demikian, batas-batas itu tidak hilang, bahkan kadang menebal jika kita berada pada fase kalah, mengalah, dan dikalahkan. Saya kira Gus Birru mengalami ini. Dia memang punya usaha kafe (mungkin dia membayangkan itu adalah ruang publik dalam pengertian Habermas), tetapi tampaknya begitu-begitu saja. Balik ke pesantren abahnya juga sulit karena dia tidak bisa ngaji. Dia terperangkap di persimpangan kota Kediri yang membingungkan.

Untungnya (atau sialnya), Khilma Anis, penulis novel Hati Suhita, adalah orang Jawa yang selalu datang dengan pendekatan win-win solution. Kalau dia adalah orang Minang, akhir dari kisah Gus Birru tidak akan bahagia (bahagia dalam pengertian Jawa adalah “mikul dhuwur mendhem jero” seperti dikatakan neneknya Suhita) seperti itu. Kalau dia adalah orang Minang, mungkin Gus Birru akan digambarkan seperti Malin Kundang yang tanggung tidak dikutuk menjadi batu, tetapi ditikam sembilu kesepian yang tak tertanggungkan.

Amin Mudzakkir
PP ISNU dan Peneliti di LIPI

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini