Trend Menikah Muda Modal Kata Memantaskan Diri

Masyarakat Indonesia masih belum bisa move on dari pernikahan sepasang artis muda Dinda Hauw dan Rey Mbayang. Banyak yang baper. Banyak yang kagum dengan keputusan mereka untuk menikah muda dengan modal ta’aruf lewat DM instagram dan sedikit usaha memantaskan diri.

Setelah Dinda Hauw dan Rey Mbayang, dunia infotainment Indonesia diramaikan dengan berita baru. Lagi-lagi pernikahan sepasang artis muda. Adalah Rizky D’Academy dan Nadya Mustika yang tiba-tiba menggelar pesta pernikahan. Rizky mengaku proses ta’aruf secara islami yang mereka lakukan hanya berlangsung selama satu bulan. Tak ada kabar mereka pacaran. Tiba-tiba saja naik pelaminan.

Selain menikah muda dengan proses ta’aruf tak lama, kesamaan lainnya ada pada pihak ke tiga yang merana. Dinda Hauw meninggalkan Rizky billar, Rizky D’Academy membuat menangis Lesty D’Academy. Dramatis.
Hingga akhirnya cerita pernikahan tadi melahirkan fenomena baru di kalangan jomblo; yakni fenomena menikung di sepertiga malam.

Ada apa dengan para artis ini? Menikah muda menjadi trend baru kah sekarang?

Setelah melalui perjalanan scrolling feed Instagram Dinda Hauw, Rey Mbayang, Rizky, dan Nadya, bisa saya simpulkan bahwa mereka adalah para artis yang tergabung dalam circle artis hijrah. Rizky dan Rey sudah berjenggot. Berhijrah dan menikah muda, kemungkinan besar mereka adalah member gerakan Indonesia tanpa pacaran. Gerakan apa ini?

Indonesia tanpa pacaran adalah sebuah gerakan yang digagas oleh La Ode Munafar pada tahun 2015. Tujuannya apa? Agar penduduk bangsa Indonesia kita yang tercinta ini tidak ada yang pacaran. Munafar menganggap berpacaran tak ada manfaatnya, yang ada hanya madharat. Lalu sebagai ganti dari berpacaran, terciptalah solusi ta’aruf dan menikah muda.

Sudah beberapa kali gerakan Indonesia tanpa pacaran menggelar acara yang dikonsep seperti seminar. Para member duduk sebagai peserta. Lalu sang founder berbicara di depan. Sesi yang paling ramai adalah ketika beberapa peserta diminta untuk naik panggung. Untuk apa? Untuk menghubungi pacarnya lewat telepon, lalu memutuskannya di depan ratusan peserta lainnya. Setelah memutuskan pacarnya di depan semua peserta, selanjutnya ia disambut dengan pekikan takbir dan gemuruh tepuk tangan. Lalu saya mendadak mual.

Baca Juga:  “Memantaskan Diri” di Kalangan Remaja Muslim

Ada banyak kontroversi seputar gerakan ini. Sebagian kalangan menilai ini hanya bisnis. Karena di dalamnya peserta dimintai sejumlah uang sebagai syarat masuk ke dalam group WhatsApp dan dituntut membeli beberapa buku panduan yang ditulis oleh sang penggagas gerakan sebagai pendukung jalan menuju muslim muslimah yang kaffah, -katanya. Jika dilihat dari sejumlah biaya yang dikeluarkan, saya setuju jika ini adalah kapitalis berbalut dakwah. Tapi sudahlah. Apapun namanya, saya tak peduli.

Tidak berpacaran, fokus melakukan kebaikan, belajar, dan beribadah memang sesuatu yang harusnya kita lakukan. Semua sepakat jika dalil ولا تقربوا الزنى adalah rujukan bagi diharamkannya melakukan sesuatu yang banyak dipraktikkan oleh pasangan yang berpacaran. Sampai di sini, semua visi dari gerakan Indonesia tanpa pacaran saya nilai tepat. Tapi bagaimana dengan solusinya? Andai gerakan ini menawarkan solusi yang lebih baik dibanding mengganti istilah pacaran dengan ta’aruf dan solusi untuk menikah muda. Andai.

Pacaran atau ta’aruf, bagi saya hanya istilah. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni proses saling mengenal sebelum akhirnya berlanjut ke pelaminan.

يأيها الناس إناخلقنكم من ذكر وأنثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا

Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal

Kalimat لتعارفوا diartikan sebagai saling mengenal. Mengenal calon pasangan sebelum pernikahan. Ukhti dan akhi menyebutnya sebagai ta’aruf. Tapi dalam praktiknya, kata ta’aruf hanya wujud bahasa yang berbeda dari pacaran. Sepeti kata travelling yang berubah menjadi rihlah. Atau ungkapan “cepat sembuh ya” yang berganti menjadi syafakillah (walaupun yang sakitnya laki-laki )

Mereka tidak tahu bahwa di balik kata “berpacaran”, banyak pasangan yang tak melakukan iqtiroobuzzina. Ada yang dalam proses berpacarannya justru berlomba lulus mengejar gelar magister. Atau berebut predikat cumlaude. Atau merencanakan keuangan dan bisnis sampai 10 tahun kedepan. Atau perencanaan rumah tangga dari yang sepele sampai yang serius.

Baca Juga:  Interpretasi Konsep Kufu dalam Pernikahan yang Berlebihan

Sekali lagi, andai gerakan Indonesia tanpa pacaran menawarkan solusi selain pergantian istilah ta’aruf dan solusi menikah muda. Khawatirnya, menikah muda di kalangan artis hijrah akan menjadi trend. Muda mudi akan menikah muda dengan tujuan agar bisa berpacaran halal. Padahal menikah bukan soal agar bisa pacaran. Lebih dari itu, pernikahan harus dibangun di atas cita-cita mulia.

Seperti miniatur kehidupan, pernikahan berjalan susah susah mudah. Dibilang susah, nyatanya mudah. Dibilang mudah, setelah dijalani kok susah. Maka walaupun menyenangkan, pernikahan tetap butuh persiapan. Saya tidak sedang menilai pernikahan dua pasang artis di atas sebagai pernikahan yang tanpa persiapan. Karena nyatanya banyak pasangan yang berkenalan dengan waktu singkat, tapi selama masa perkenalan itu mereka menggunakannya dengan sangat baik untuk saling mengenal, untuk saling merencanakan kehidupan, dan untuk saling beradaptasi baik secara personal ataupun dengan keluarga besar. Ada juga yang ber- pacaran/ta’aruf 5 tahun tapi selama itu yang dibicarakan hanya “udah makan belum?” Atau “bobonya jangan malam-malam nanti sakit”. Setelah menikah lalu mereka kaget dengan kehidupan rumah tangga yang kejam – katanya.

Rey-Dinda dan Rizky-Nadya, Selamat datang di dunia pernikahan. Semoga pernikahan kalian berjalan di atas cinta dan cita-cita yang mulia. Kegagalan pernikahan pasangan muda yang pernikahannya dulu membuat baper jagat raya seperti Salma Fina – Taqi Malik dan pasangan Risty Tagor – Rifky Balweel, semoga tak terjadi pada kalian.

Pernikahan memang misteri, bertahun-tahun kita mencari pasangan yang cerdas, berpendidikan tinggi dan bisa berbagai bahasa, ternyata problematika rumah tangga sehari-hari adalah persoalan handuk basah yang diletakkan di atas kasur, pasta gigi yang dipencet dari ujung atas atau bawah, atau misteri kenapa suami selalu minta dibikinkan kopi jam 1 malam saat istri baru saja rebahan.

Baca Juga:  “Memantaskan Diri” di Kalangan Remaja Muslim

Pernikahan memang misteri, menyenangkan memang rasanya punya suami/istri, tapi kebutuhan mempersiapkan diri adalah suatu hal yang pasti. [HW]

Farah Firyal
Founder Fikih Female, Alumnus PP Al Falah Ploso Kediri dan Pengasuh PP Al Arifah Buntet Pesantren Cirebon

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini