Tipu Daya Setan dalam Merusak Akidah: Sebuah Pengantar tentang Rencana Setan dan Fitrah Manusia

Pada dasarnya, Allah SWT telah meciptakan manusia dalam keadaan sempurna. Satu unsur penentu yang menjadikan manusia sebagai makhluq yang paling sempurna adalah fithroh. Fithroh adalah watak bawaan manusia yang diberikan oleh Allah SWT agar manusia senantiasa menempuh jalan yang baik dan istiqomah dalam penghambaannya. Hal ini terbukti dari beberapa dalil, antara lain:

Surat al-Ruum ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Ibnu Katsir berpendapat bahwasannya fithroh adalah ikrar kesetiaan manusia kepada Allah SWT yang diambil sewaktu mereka masih di dalam alam ruh sebelum ditiupkannya mereka ke dalam kandungan ibunya masing-masing. Hal ini tergambarkan dalam surat al-A’raf ayat 172-174:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (١٧٣) وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (١٧٤)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyatakan bahwasannya manusia bersaksi di hadapan Allah SWT atas beberapa perjanjian, antara lain:

  1. Fithroh atas iman kepada Allah SWT
  2. Fithroh secara jasmani. Yakni menyadari bahwa manusia diciptakan sebagai menusia maka akan bersikap sebagaimana manusia, fungsinya dan jenisnya (sebagai anak, ayah, ibu, laki-laki, perempuan dan lainnya)
  3. Fitrah sebagai keta’atan atas segala sesuatu yang disampaikan oleh Rosululloh SAW dan Kitab suci.
Baca Juga:  Manusia, dari Gelap Menuju Terang

Tiga kesaksian di atas merupakan ikrar kesetiaan manusia terhadap Allah SWT sekaligus menjadi pedoman dasar hidup. Barangsiapa yang mengingat dan menghayati ikrar tersebut, maka dia akan diberi keselamatan oleh Allah SWT. Sebaliknya, barangsiapa yang melalaikannya bahkan menyimpang darinya, maka dia termasuk orang yang dipilih oleh setan. Wa al-‘iyaadzu billah.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (أخرجه البخاري (1385) في الجنائز، ومسلم (2658) في القدر.)

Imam al-Nawawi berpandapat bahwasannya makna dari teks di atas adalah “Bahwasannya setiap anak yang dilahirkan dimuka bumi ini adalah disiapkan untuk berpasrah diri kepada Allah SWT dengan beragama Islam.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwasannya setiap menusia pada mulanya dilahirkan dalam keadaan Iman kepada Allah SWT (beragama Islam) meskipun dia dilahirkan dari rahim perempuan yang non-Islam. Kondisi ini yang dinamakan dithroh oleh Ulama’. Akan tetapi, kemudian setan berupaya untuk mengganggu keimanannya dengan berbagai cara agar dia keluar dari keimanannya atau merusak keimanannya. (الكشاف؛ للزمخشري 2:.176.)

Baca Juga:  Kisah Perdebatan Akidah antara Izzuddin Bin Abdissalam dan Sultan Asyraf

Dalam literatur keislaman banyak yang menjelaskan tentang upaya setan ini. Ada dua upaya setan untuk merusak keimanan manusia. Pertama, mengaburkan pemahaman ke-Esaan Allah SWT agar manusia terjerumus dalam kesyirikan. Kedua, mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram agar manusia melanggar hukum-hukum Allah SWT.

Supaya menjadi jelas, penulis akan membaha tipu daya setan ini dalam beberapa seri agar setiap intrik setan dapat kita fahami dengan baik. Hal ini bertujuan agar kita sebagai menusia senantiasa berusaha lepas dari intrik, tipu daya setan dan menjaga fithrah kita sebagai hamba Allah dan sebagai menusia yang sholih dan sesuai penciptaannya. []

Muhammad Ibtihajudin
Menamatkan Pendidikan S1 Ahwal Syakhsiyyah IAIBAFA Jombang, S2 Ahwal Syakhsiyyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan kini mengabdi sebagai Guru di Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini