Sangat boleh jadi sesuatu yang beracun itu bukan disebabkan oleh esensi bendanya, tetapi karena takarannya yang berlebihan: cinta, harapan dan mimpi-mimpi, makanan, minuman, dan terutama media sosial, semuanya beracun jika dikonsumsi secara berlebihan. Apalagi saat ini, medsos acapkali disalah-fungsikan menjadi media penggiringan opini publik menuju ketidakwarasan.

Ya, medsos sudah menjadi ladang subur bagi para pencaci, pencemooh, pencemar dan peselancar negatif demi sekadar kepentingan pribadi dan terutama oleh golongan-golongan penggila kebrutalan digital untuk terus memenuhi syahwat ugal-ugalan meraka, maka tak heran jika saat ini banyak sekali berita syubhat yang berserakan di medsos. Celakanya, satu orang di dunia nyata bisa memiliki puluhan bahkan ratusan akun di dunia maya.

“Digoreng dengan bumbu-bumbu politik, dipanggang dengan aroma dan saus agama yang penuh intrik, direbus bersama kaldu sentimen etnik dan lantas disajikan di mulut-mulut mayoritas awam sebagai menu sehari-hari, tengik tapi nampak asyik, bikin ketagihan meski menyesatkan. Satu berita diviralkan dan dispiralkan oleh buzzer-buzzer bayaran lalu diproyeksikan, misalnya untuk mengganti Negara, dan atau membunuh karakter publik figur tertentu” demikian kira-kira fenomena medsos yang diilustrasikan oleh Gurunda Kiai Ach Dhofir Zuhry.

Nah, pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara kita melawan kegilaan ini? Pada tahun (±) 1961 ada sebuah pandangan yang dikemukakan oleh Edward Norton Lorenz yang mengatakan bahwa “satu kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian”.

Pandangan ini kemudian dinamai dengan efek kupu-kupu (butterfly effect), yang sekaligus menjadi landasan teori kekacauan (chaos). Dalam konteks sains, khususnya fisika dan matematika, chaos berarti suatu sistem yang sangat sensitif terhadap kondisi awal (sensitivity to initial condition). Gangguan sedikit saja terhadap sistem chaos ini dapat menghasilkan perubahan yang besar.

Baca Juga:  Para Penggerak

Teori chaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap yang akan datang. Kita selalu menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Chaos menunjukkan ketidakberaturan, kekacauan, keacakan atau kebetulan, yaitu: gerakan acak tanpa tujuan, kegunaan atau prinsip tertentu.

Perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem nonlinear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Sistem chatoik juga dapat ditemukan pada berbagai sistem umum yang sederhana seperti gerak pendulum sampai sistem yang kompleks seperti: irama detak jantung, aktivitas listrik pada otak, dan lain sebagainya. Bahkan sistem ekonomi seperti: pergerakan harga di bursa saham, kurs mata uang sampai harga minyak mentah.

Hanya saja, karena sifatnya yang tidak teratur maka ia dilihat sebagai sesuatu yang sama sekali acak. Padahal, ia memiliki pola-pola tersendiri yang justru sebenarnya teratur. Jadi, tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang bahwa chaos hanya melulu tentang ketidakteraturan. Pendek kata, teori chaos sebenarnya bicara tentang keteraturan, bukan ketidakteraturan.

Well, apa kaitannya butterfly effect dalam teori chaos dengan fenomena medsos di Indonesia? Kita bisa bawa teori ini dalam konteks bermedsos yang sehat.

Caranya? (1) Bedakan antara fakta (yang benar-benar terjadi di realitas) dengan opini tentang fakta, sebab opini hanyalah tafsir tentang fakta. Lalu (2) jika Anda mendapati seseorang menyebarkan berita hoaks, ujaran kebencian, dan atau kegilaan lainnya, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tidak menjadi seperti mereka. (3) Jangan mudah percaya dengan berita atau isu sensitif yang berbau SARA sembari mencari validitasnya. Jika berita atau isu tersebut tidak valid, maka sudah tugas Anda (dan tentu saya juga) untuk mencari klarifikasi dan jangan lupa sebarkan.

Baca Juga:  Gus Dur dan Islam Nusantara

Sederhananya, terhadap apa yang bernama kebaikan, Anda hanya butuh 1 dan lakukan 1, sebarkan 1 dan berikan 1, pancarkan 1 ikhlaskan 1, hasilnya? Biar kehidupan yang mengurus dan menyebarkan kebaikan itu secara alami. Memang kedengarannya sederhana, tetapi jika Anda mengamini dampak dari butterfly effect, maka tak dapat diragukan lagi bahwa sekecil apapun perbuatan kita pasti memiliki dampak.

Terakhir, saya ingin mengutip pernyataan Kiai Ach Dhofir Zuhry yang agaknya dalam konteks ini sangat relevan. Beliau mengatakan bahwa “teknologi pendaur-ulang sampah dunia maya ini belum dimiliki banyak orang, ia masih barang langka, belum diproduksi masal. Satu-satunya “sapu” untuk banjir sampah hoax adalah akal sehat.” Semoga Tuhan senantiasa menjaga akal sehat kita.

Adnan Faqih
Santri Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Mahasiswa STF Al-Farabi Kepanjen Malang & Penikmat Musik

    Rekomendasi

    Historisasi Khittah NU
    Opini

    Historisasi Khittah NU

    Berawal dari teman-teman Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid) yang banyak mengatasnamakan diri sebagai pencinta ...
    Cerpen

    Tertunda (3)

    “Assalamualaikum.” Ayla dan Arika sudah sampai di rumahnya. Namun ketika mereka membuka pintu ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Berita