Polemik Tradisi Masyarakat Nusantara antara Hubbul Wathan dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

يا للوطن يا للوطن يا للوطن #حب الوطن من الايمان

ولا تكن من الحرمان # انهضوا اهل الوطن

اندونيسيا بلادى # انت عنوان الفخاما

كل من يأتيك يوما # طامحا يلق حماما

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu Dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Wahai Bangsaku

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu Dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Wahai Bangsaku

Indonesia Negeriku

Engkau Panji Martabatku

Siapa Datang Mengancammu

Kan Binasa Dibawah Durimu

Mendengar Kata Nusantara, akan langsung terbayang di benak kita ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Beragam budaya, etnis, bahasa dan tradisi tersebar diseluruh nusantara, mulai dari tradisi yang sifatnya duniawi sampai yang sifatnya ukhrowi seakan menjadi ruh dari bumi nusantara. Kita patut bersyukur kepada Allah karena telah diberikan anugerah untuk menghirup udara di tanah yang menjadi untaian zamrud khatulistiwa ini. Dan menjadi keharusan bagi kita untuk mempertahankan dan mencintai tanah air sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Diriwayatkan oleh Anas Bin Malik RA,

عن انس ان النبي صلى الله عليه وسلم كان اذا قدم من سفر فنظر الى جدران المدينة اوضع راحلته وان كان على  دابة حركها من حبها

Dari Anas RA bahwaNabi Saw. apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah,maka lantas mempercepat ontanya. Jika beliau di atas kendaraan lain maka beliau menggerak-gerakkannya karena kecintaannya kepada Madinah”.(HR.Bukhori)

Di dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqolani dijelaskan bahwa hadis tersebut merupakan dalil tentang disyariatkannya mencintai tanah air (hubbul wathan).

وفي الحديث دلالة علي فضل المدينة وعلى مشروعية حب الوطن والحنين اليه

Baca Juga:  Kondisi Masyarakat Arab di Masa Jahiliyyah

“Di dalam hadis ttersebut mengandung dalil tentang keutamaanMadinah dan disyariatkannya mencintai tanah air dan merindukannya”.

Salah satu cara mencintai tanah air adalah dengan melestarikan tradisi-tradisi yang ada dikalangan masyarakat. Karena tradisi menjadi ikon penting dari makmurnya sekelompok masyarakat. Namun sangat disayangkan dan tak dapat dipungkiri sebagian besar dari tradisi tradisi masyarakat nusantara mengandung hal-hal yang bertolak belakang dengan syariat islam. Adanya perjudian, sesajen dan campur aduk antara laki-laki dan perempuan seakan menjadi bumbu penyedap dari sebagian besar tradisi tersebut, bahkan ada juga tradisi yang sampai ke arah mensyirikkan Allah Swt.

Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam. Rasulullah sebagai panutan umat telah mengajarkan kepada umatnya agar supaya senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar pada sesama. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah At-taubah

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِوَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِاللهِ وَبَشِّرِالْمُؤْمِنِينَ [التوبة:112-113]

Rasulullah juga bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudry

رواه عنه أبو سعيد الخدري رضي الله عنه قال: “من رأى منكم منكراً فليغيِّره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Diriwayatkan oleh Abu said Al Khudry, Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran,maka hendaklah dia merubahnya menggunakan tangan, jika ia tidak mampu maka hendaknya ia merubahnya menggunakan lisan/ucapan, jika ia tidak mampu maka hendaknya ia merubahnya menggunakan hati dan hal itu (menggunakan hati) adalah paling lemahnya iman”.

Dari sini tentu kita sudah bisa melihat bahwa amar ma’ruf nahi munkar menjadi prioritas utama dalam islam. Lantas bagaimanakah kita menyikapi tradisi-tradisi tersebut? haruskah kita meninggalkan tradisi tradisi yang sudah menjadi ikon penting dalam masyarakat?. Tentu saja itu adalah hal yang tak perlu dilakukan karena kita masih bisa mengompromikannya, artinya kita masih bisa untuk melestarikan tradisi tradisi tersebut tanpa harus mengesampingkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam.

Baca Juga:  Ashabus Shuffah Sebagai Inspirator Tradisi Santri dan Dilematik Sistem Pendidikan ala Pesantren

Namun setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pelestarian tradisi-tradisi itu. Pertama; Niat, niat kita dalam melestarikan tradisi harus baik, semisal niat sebagai bentuk cinta tanah air. KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo tak pernah bosan dalam mengingatkan santrinya betapa pentingnya memperbaiki niat sebelum memulai semua aktivitas, karena niat merupakan inti dari semua pekerjaan, baik buruknya pekerjaan tergantung dari niat orang yang mengerjakan. Rasulullah bersabda

انما الاعمال بالنيات

“Semua amal perbuatan itu tergantung dari niat”

Beliau juga bersabda

كم عمل من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

Kedua, Unsur-unsur maksiat yang ada di dalam tradisi itu harus dihilangkan, tanpa harus menghilangkan tradisinya itu sendiri. Dr. ’Aidh al-Qarni, seorang doctor dalam bidang hadis dan juga menjadi penulis paling produktif di Saudi Arabia didalam karya fenomenalnya yang bejudul La Tahzan berkata

Ambil madunya, tapi jangan hancurkan sarangnya

Kesimpulannya, tradisi yang ada dalam masyarakat harus tetap kita lestarikan, tapi harus tetap berpegang kepada syariat islam, kita sebagai seorang santri yang sebagai pilar penting dalam masyarakat harus bisa menjadi starter utama dalam berdakwah menyerukan amar ma’ruf nahi munkar dan juga berpartisipasi dalam melestarikan tradisi tradisi yang ada di dalam mayarakat. WallahuA’lam. []

Muhammad Ihyaul Fikro
Mahasantri Ma'had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini