Humanitarian dan Halal Bihalal; Pesan Damai Nusantara kepada Islam Dunia

Hidup itu tidak melulu dengan regulatif rasional, tetapi hidup itu ternyata ada kolusi-kolusi dengan Allah. Sebenarnya kita itu mengalami kekalahan, tetapi juga karena ada Allah kita mempunyai alasan untuk meyakini tidak kalah. Alasan itu tidak bersifat militeristik dan tidak rasional, tetapi alasan itu adalah kasih sayang (rahmat rahimnya Allah). Disebut tidak kalah atau kemenangan itu ternyata ada cara untuk mendapatkan ridho atau kemenangan itu, bukan dengan transaksi rasional atau transaksi militeris, tetapi dengan transaksi cinta.

Buktinya tanggal 17 Ramadhan, Nabi SAW pulang sekitar 213 km dari Madinah yakni ketika perang Badar yang dahsyat di mana pasukan Islam yang hanya 313 prajurit seadanya oleh Allah diberikan kemenangan melawan sekitar 1100 pasukan sekutu dari Makkah. Secara maintenance perangnya, ukuran peperangan umat Islam pasti kalah, tetapi Nabi SAW memberi optimisme kepada prajurit bahwa kalian akan ditolong Allah, diberi kemenangan oleh Allah dan diberi rezeki oleh Allah dengan syarat hatinya membela orang yang lemah. Dijelaskan dalam hadist riwayat Abu Darda’ yang mendengar Nabi SAW bersabda:

انما تنصرون وترحمون وترزقون بضعفائكم

Sesungguhnya jikalau kita mempunyai niat membela orang yang lemah, membela orang-orang yang teraniaya yang tidak bisa berbuat apa-apa maka Allah akan merubah keadaan dari rasionalitas perang menjadi keajaiban dunia. Perkataan ini Nabi SAW tujukan kepada para prajurit yang secara militer tidak bisa dinalar tetapi Nabi SAW menanamkan iman dan cintanya kepada Allah.

Lantaran menang di perang Badar, Nabi SAW pulang menjelang hari raya dan mengatakan:

نحن نعود من العائدين والفائزين

“Kita sekarang menjadi orang yang kembali dan beruntung” yang sampai sekarang kita pakai. Maksud dari perkataan Nabi Saw tersebut adalah kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang yang besar yaitu jihad melawan hawa nafsu kita sendiri.

Baca Juga:  Neoplatonisme (4)

Di Indonesia, ada banyak tradisi di waktu hari raya sampai kita bisa mengibaratkan puasa itu benih padi, idul fitrinya padi itu sendiri, kita masak menjadi halal bihalal, dan hari rayanya adalah nasinya. Halal bihalal hanya ada di Indonesia merupakan prestasi orang nusantara menjadikan Islam lebih indah karena mengharmonisasikan humanitarian (kemanusiaan) dirangkai dalam tradisi dengan amalan baik ajaran Islam. Bermula dari era Soekarno setelah Indonesia merdeka tepatnya 1948, para elit politik saling berperang dan tidak mau duduk dalam satu forum sementara pemberontakan terjadi di mana-mana. Terkait hal tersebut Bung Karno sowan kepada K.H. Wahab Hasbullah selaku ulama dan tokoh besar Nahdlatul Ulama untuk dimintai saran mengatasi situasi politik Indonesia yang telah carut marut. Saran Kyai adalah menyelenggarakan silaturrahim bertepatan saat menyambut hari raya Idul Fitri. Namun Bung Karno berkomentar ingin istilah lain dengan maksud meminta penjelasan lebih detail kepada Kyai. “Para elit politik tidak mau bersatu dikarenakan mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu dosa, dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa maka harus dihalalkan, mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan juga saling menghalalkan. Bahwa silaturrahim nanti kita pakai istilah Halal Bihalal” perjelas K.H. Wahab Hasbullah. Atas saran dari Kyai, Bung Karno pun mengundang seluruh tokoh politik untuk datang ke istana negara menghadiri silaturrahim dalam acara Halal Bihalal. Sejak saat itu hingga saat ini, halal bihalal telah mengkultur tidak lain lagi karena prestasi ulama nusantara menjadikan Islam lebih indah.

Saling memaafkan dan saling menghalalkan dalam Halal Bihalal. Foto diambil ketika Majelis Haul dalam acara Haul Al-Maghfurlah KH. Muhammad Munawwir Bin Abdullah Rosyad ke-83 dan Khataman Al-Qur’an ke-16

Dalam dunia Islam sekarang banyak sekali kasus-kasus kemanusiaan lantaran mekanisme multilateral untuk menanggulangi kejahatan isu-isu kemanusiaan telah dilanggar. Perdagangan orang dan penyelundupan manusia, salah satu permasalahan kriminal lintas negara dan isu populer yang sekarang masih diperdebatkan. Banyak kejahatan dan isu seperti itu muncul karena sebagian sifat atau perilaku manusia yang masih dihantui dengan eksistensi (popularitas) dan sikap egoisme terhadap ketidakpercayaan kepada pemerintah yang terwadah dalam golongan. Dengan demikian, dalam hari-hari fitrah ini, pengadopsian saling memaafkan secara sadar terhadap orang lain harus kita canangkan guna melepaskan ikatan yang membelenggu agar terciptanya hubungan harmonis antar-sesama. []

Ahmad Kamal Assidiqi
Mahasantri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

    Rekomendasi

    Hikmah

    Al Quran Turun Berangsur-angsur

    وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا “Dan Al Quran itu ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini