Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh seseorang yang mendekatkan diri kepada Tuhan adalah menjaga hati. Mengapa demikian? Karena hati layaknya seperti pintu yang harus dijaga khususnya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan. Jika ada perkara berbahaya yang mendobrak pintu, maka kemungkinan rusaklah segala apa yang ada di balik pintu. Begitulah gambaran hati.
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan bahwa hati sebagai pintu harus dijaga dan dikunci. Caranya adalah dengan menyucikan hati dari perkara yang membahayakan. Adapun perkara yang membahayakan hati adalah dendam, iri, dengki, sombong. Sedangkan perkara yang mampu menyucikan hati adalah saling menyayangi, lemah lembut, berakhlak yang baik, dan selalu melakukan perbuatan yang baik.
Akan tetapi kita juga harus pahami, bahwasanya hati memiliki potensi berbuat dosa. Bahkan potensi ini lebih besar, lebih buruk, dan lebih keji dibanding dengan dosa yang dilakukan oleh anggota badan (tangan, kaki, kemaluan, mata, dll). Karena itulah kita harus waspada terhadap potensi dosa yang dilakukan oleh hati.
Tiga Dosa yang Berbahaya
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan ada tiga dosa hati yang dianggap paling buruk dan keji, yaitu sombong, riya, dan hasud. Pertama, sombong. Orang yang sombong merupakan orang yang paling buruk, orang yang paling bodoh, dan dungu. Mengapa? Sebab tidaklah pantas untuk bersikap sombong bagi seorang manusia yang diciptakan dari setetes mani yang menjijikkan, lalu kemudian ketika meninggal dunia menjadi bangkai.
Kesombongan tidaklah pantas bagi manusia, meskipun ia memiliki kedudukan, dan kemuliaan. Sebab kedudukan dan kemuliaan yang ia dapatkan adalah pemberian dan anugerah dari Allah Swt. Contohnya, seorang presiden yang berkedudukan sebagai orang nomor satu dan memiliki pengaruh. Maka tidaklah pantas baginya bersikap sombong karena kedudukannya, sebab itu hanyalah anugerah yang telah Allah berikan kepadanya yang bisa kapan saja dicabut kembali. Masa iya kita mau menyombongkan sesuatu dari hasil pemberian Allah Swt.? sebab kesombongan hanya pantas disandingkan kepada Allah yang Maha Sombong (al-mutakabbir).
Kedua, riya. Adapun riya menjadi dosa besar karena menunjukkan sifat manipulatif dan rekayasa supaya yang ia lakukan dipandang baik dan mendapatkan pujian dari orang lain. Oleh karena itu, orang yang manipulatif dan suka merekayasa kebaikan demi mendapatkan validasi orang lain dan dianggap baik adalah perbuatan orang bodoh.
Contohnya saja saat ini di media sosial, tidak sedikit orang memamerkan sesuatu di media sosial, baik pamer harta, bahkan pamer ibadahnya. Dengan harapan supaya orang lain paham kalau ia adalah orang yang punya harta banyak, atau bahkan supaya mendapatkan validasi dan dianggap orang yang ahli ibadah (alim). Padahal kenyataannya dia buka orang yang kaya atau bukan orang yang ahli ibadah. Sebagaimana yang dicupakan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, yaitu mana orang yang lebih bodoh dari orang yang seperti ini -riya-?
Ketiga, hasud. Sifat hasud atau iri ini adalah perasaan tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain, dan menginginkan kebahagiaan tersebut hilang. Sifat hasud ini sama halnya memusuhi Allah Swt. secara terang-terangan dan merebut kekuasaan-Nya. Karena Allah lah Tuhan yang memberikan nikmat kepada hamba-Nya. Karena itulah sifat hasud sama halnya dia menentang kehendak Allah Swt.
Contohnya seperti ada dua pegawai kantoran, yaitu si A dan si B, yang sudah bekerja selama 5 tahun. Ketika perusahaan membuka promosi posisi jabatan tertentu, ternyata yang dipilih adalah si B. Lalu si A merasa dirinya lebih rajin, lebih giat, lebih pintar, dan lebih pantas mendapatkan promosi tersebut. Sejak saat itu, si A mulai memjauhi si B. Berdasarkan contoh ini, si B mendapatkan nikmat karena kehendak Tuhan. Apabila seorang hamba menentang kehendak Tuhan bahkan sampai berburuk sangka terhadap Tuhan, maka sejatinya orang tersebut adalah orang yang hina.
Larangan terhadap hasud ini karena umumnya kecenderungan hasud adalah kepada perkara yang duniawi. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengemukakan:
ثُمَّ إِنَّ الحَسَدَ قَدْ يَكُونُ عَلَى أمُور الدُّنْيَا كَالجَاهِ وَالمَالِ، وَهِيَ أَصْغَر ُمِنْ أَنْ يُحْسَدَ عَلَيْهَا بَلْ يَنْبَغِيْ لَكَ أَنْ تَرْحَمَ مَنْ إِبْتُلِي بِهَا وَتَحْمَدَ اللَّهَ الَّذِي عَافَاكَ مِنْهَا
kedengkian adakalanya terkait dengan persoalan dunia, seperti jabatan atau kekayaan, padahal nilainya sangat rendah dibanding efek buruk dari kedengkian. Namun yang harus kkta lakukan adalah merasa kasihan kepada orang yang dibebani dengan dunia, dan kita harus memuji Allah yang menyelamatkanmu dari cobaan itu. Dalam kata lain, berpikir positif dan bersukur atas apa yang telah Allah Swt. tentukan.
Oleh karena itu, penting untuk kita semua menjaga hati dari tiga dosa di atas. Hati harus selalu dijaga kesuciannya dari berbagai macam sifat yang tercela, supaya hati menjadi bersih dan bercahaya, sehingga mampu menerima setiap anugerah yang telah Allah berikan.