Press ESC to close

Ngaji Adabu Sulukil Murid: Cara Menjaga Tekad Menuju Tuhan dan Implementasinya

Langkah awal untuk menuju Tuhan adalah memiliki motivasi kuat untuk menapaki jalan menuju Tuhan yang kemudian diimplementasikan menjadi tekad yang kuat. Hanya saja tidak semua orang juga memiliki kemamuan untuk menjaga konsistensi tekad ini.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Beliau mengatakan bahwa seseorang yang menapaki jalan menuju Allah harus bersungguh-sungguh menjaga dan bahkan menguatkan motivasi dan tekad ini.

Cara menguatkan tekad ini adalah dengan senantiasa mengingat Allah Swt dan berpikir positif atas segala yang telah Allah berikan. Ingat kepada Allah ini adalah satu dari sekian banyak cara yang bisa kita lakukan supaya tetap konsisten. Jiwa yang selalu ingat kepada Allah Swt. akan menjadi stimulus awal seseorang untuk rajin beribadah.

Begitu juga dengan berpikir positif atas segala yang telah Allah berikan. Banyak dari kita adakalanya ketika berhadapan dengan cobaan maka berpikir jika Tuhan tidak adil atau bahkan tidak sayang kepada hambanya. Padahal pikiran semacam ini bisa meruntuhkan dan menutup jalan untuk menuju Allah Swt.

Selanjutnya adalah mengimplementasikan tekad menuju Tuhun. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad memberikan contoh implemetasi yang sebaiknya harus dilakukan oleh seseorang yang ingin dekat denganTuhan-Nya. Beliau mengatakan:

وَإِجَابَتُهُ بِأَنْ يُبَادِرَ بِالإِنَابَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَيَصْدُقَ فِي الإقْبَالِ عَلَى اللَّهِ، وَلَا يَتَوَانَى وَلَا يُسَوِّفَ وَلَا يَتَبَاطأَ وَلَا يُؤَخِّرَ وَقَدْ أَمْكَنَتْهُ الفُرْصَةُ فَلْيَنْتَهِزْهَا، وَفُتِحَ لَهُ البَابُ فَلْيَدْخُلْ. وَدَعَاهُ الدَّاعِي فَلْيُسْرِعْ وَلْيَحْذَرْ مِنْ غَدٍ بَعْدَ غَدٍ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ، وَلْيُقْبِلْ وَلَا يَتَثَبّط وَلَا يَتَعَلَّل بِعَدَمِ الفَرَاغ وَعَدَمِ الصَّلَاحِيّةِ.

Beberapa contoh implementasi tekad menuju Allah adalah dengan cara segera kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan yang diperbuat. Lalu tidak kendor, tidak lambat, dan tidak menunda-nunda waktu. Mengapa demikian? Sebab sangat mungkin seseorang hanya memiliki satu kali kesempatan. Oleh karena itu segera berjalan menuju Allah sebelum pintu rahmat tertutup untuknya.

Contoh sederhananya adalah ibadah puasa di bulan Ramadan yang kita laksanakan saat ini. Kita berpuasa di bulan Ramadan tidak perlu memikirkan apa dampak dan seberapa besar pahala yang akan kita dapat. Kita cukup memahami bahwa puasa adalah kewajiban dan memaksimalkan bulan Ramadan sebagai kesempatan akhir seakan-akan kita tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Tidak berhenti disitu, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menekankan jangan sampai bermalas-malasan ketika memiliki waktu luang dan jangan selalu mencari berbagai macam alasan ketika diajak untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya adalah ketika memiliki kesempatan untuk beribadah maka lakukanlah jangan menunda dan bermalas malasan.

Ibnu Atha’illah dalam Kitab al-Hikam menyatakan:

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

“Menunda amal menantikan datangnya waktu luang adalah kebodohan diri”

Orang yang menunda-nunda untuk beramal merasa telah menggunakan akalnya padahal ia mengabaikannya. Seorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah tidak pantas menunda-nunda amal. Ia harus memanfaatkan setiap waktu yang dimilikinya untuk beramal, tanpa menunggu datangnya waktu luang.

Mohammad Fauzan Ni'ami

Akrab dipanggil Amik. Seorang santri abadi pegiat hukum keluarga, gender, dan disabilitas.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.