Mbah Abdullah Ulama' Pejuang Melawan Penjajah dan Penggerak NU Pancur Mayong Jepara

KH. Abdullah Abdul Ghoni begitu nama lengkapnya, Abdul Ghoni adalah ayahnya. Lahir sekitar tahun 1890-an di desa Pancur Kecamatan Mayong Jepara, salah satu ulama yang ikut berjuang dalam rangka melawan penjajah dan juga penggerak jam’iyyah Nahdlatul Ulama di desa Pancur.

Menurut keterangan dari KH. Muhammad Tahrir Nawawi, salah satu cucu dari Mbah Abdulloh Abdul Ghoni, Mbah Dullah begitu sapaan akrabnya, dulunya ikut berperang melawan penjajah, ini dibuktikan dengan bergabungnya Mbah Dullah ke Hizbullah dan PETA. Bahkan seringkali akan diculik dan ditangkap oleh antek-antek penjajah selalu lolos dan selamat.

1. Prajurit Belanda Dililit Ular dan Ditangkap Tapi Diloloskan Komandannya

Di kisahkan oleh putra-putra Mbah Dullah dan beliau sendiri juga pernah cerita ke cucunya juga, suatu waktu Mbah Dullah di datangi antek-antek penjajah dan akandi tangkap, tapi karena Mbah Dullah sudah tau, akhir beliau mengasingkan diri ke rumah Mbah Ngaripan di dukuh Serut, singgah beberapa hari di rumah Mbah Ngaripan, tak lama kemudian antek-antek pejajah itu mencium keberadaan Mbah Dullah kalau ada di rumah Mbah Ngaripan, akhirnya antek-antek penjajah tadi menyerbu rumah Mbah Ngaripan.

Sudah bersiap siaga mau menangkap Mbah Dullah, tapi saat mau ditangkap tiba-tiba para penjajah Belanda tersebut dililit ular dan akhirnya Mbah Dullah meloloskan diri dan melanjutkan perjalanan menuju ke Serni.

Di Serni di daerah pegunungan lereng Gunung Muria, untuk bersinggah beberapa hari di Makam Mbah Surgi Malik yang masih kakek buyutnya, Serni merupakan salah satu dukuh yang ada di desa Bategede kecamatan Nalumsari Jepara. Setelah dari Serni kemudian meneruskan perjalanannya menuju ke Kota Kudus.

Namun baru sampai di desa Gebog, Mbah Dullah tertangkap oleh penjajah kemudian ditahan beberapa hari. Tapi ada kejadian aneh, salah satu komandan (pimpinan tentara) yang baru datang dari perjalanan dinasnya malah memerintahkan anak buahnya supaya Mbah Dullah dibebaskan.

Baca Juga:  Jamaluddin al-Afghani: Pejuang Islam yang Tak Kenal Lelah

Setelah di bebaskan Mbah Dullah meneruskan perjalanan ke Kota Kudus, namun ketika di tengah perjalanan sudah mendekati kota Kudus, Mbah Dullah akan melaksanakan sholat di sebuah tempat, ada tentara lagi sehingga akhirnya di tangkap lagi oleh orang yang tidak dikenal.

Pada saat Mbah Dulloh akan di masukkan ke sel penjara, atas berkat pertolongan Allah, tentara yang telah menangkap Mbah Dullah tadi di datangi oleh orang yang sangat besar (gagah dan kekar badannya) yang tidak di ketahui datangnya dari mana, dan tentara tadi di buang sejauh-jauhnya (di uncalno sak adoh-adohe.redjawa) oleh orang besar tadi sehingga akhirnya Mbah Dullah bisa lolos dan melanjutkan ke Kota Kudus.

Demi menyelamatkan diri dari kejaran tentara penjajah, Mbah Dullah rela untuk naik turun gunung tanpa pengawalan dan seorang diri, jalan kaki dan tanpa bekal yang saat itu masih sangat sepi, “Gung Liwang Liwung” istilah Jawanya dan belum banyak kampung.

2. Bertemu Mbah KH. R. Asnawi dan Mbah Irsyad

Mbah Dullah singgah di Kudus kulon tepatnya di desa Damaran sampai berbulan-bulan (kurang lebih 5 bulan). Kesempatan itu di manfaatkan oleh Mbah Dullah untuk menemui para ulama di Kudus, bertemu dengan KH.R.Asnawi (Pendiri dan Penggerak NU). Bertemu dengan KH.Irsyad Kudus dan sesepuh ulama lainnya, ini sekaligus dalam rangka untuk menambah ilmu agama dan ngaji kepada ulama tersebut.

3. Mendirikan dan Menggerakkan Jam’iyyah NU di Pancur

Sekitar tahun 1934 Pengurus Ranting NU Pancur didirikan, setelah saran dari para ulama dan Kiai, khususnya atas saran dari KH. M.Fauzan Jepara yang saat itu menjadi pengurus NU Jepara, ditunjuklah waktu itu KH. Abdullah Abdul Ghoni sebagai Rois Syuriah Ranting Pancur dan KH. Ridwan sebagai Ketua Tanfidziyahnya.

Baca Juga:  Kisruh Kamus Sejarah Kemendikbud, Nahdlatul Ulama Harapkan Revisi

Ketika mendirikan Ranting NU Pancur, KH. Abdulloh selalu berkonsultasi dengan KH. Sholeh (ayah KH.Muhtadi, KH.Yasin) yang pada waktu itu KH.Sholeh masih berdomisili di Desa Pule sampai akhirnya pindah di desa Gleget Mayong. Saat itu KH. Sholeh memegang NU Mayong.

KH.Abdulloh sampai wafat, selalu ikut eksis di organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ini dibuktikan, bahwa putra putrinya dipondokkan ke Tebuireng Jombang, asuhan Hadrotussyeh KH. Hasyim Asy’ari dan di Bendan Kudus asuhan KH. R. Asnawi Kudus. K. Ahmad Rodli di Pondokan di Tebuireng Jombang dan K. Ahmad Hambali di Bendan Kudus.

Seperti yang dipesankan oleh beliau KH. Abdullah Abdul Ghoni, “Nek Awakmu Pernah Ngerasaake Kepiye Larane Lan Rekasane Dijajah Deneng Bongso Liyo (Asing), Mesti Awakmu Biso Menghargai Setiap Getih Seng Diteteske Deneng Poro Pejuang Kemerdekaan Indonesia” KH. Abdullah Abdul Ghoni

(Jika Kamu Pernah Merasakan Sakit dan Sulitnya Dijajah Oleh Bangsa Lain (Asing), Pasti Kamu Akan Bisa Menghargai Setiap Darah Yang Diteteskan Oleh Para Penjuang Kemerdekaan Indonesia)

Mbah Dullah wafat pada tanggal 21 Muharram 1396 H sekitar tahun 1974 Masehi. Tahun ini haul ke 48 di hauli pada hari Jum’at Pahing 21 Muharram 1444 atau bertepatan dengan 19 Agustus 2022.

Semoga kita bisa meniru dan meneladani jejak perjuangan para ulama kita sehingga kita mendapatkan keberkahan dari beliau-beliau, berkah dunia dan akhirat nanti amin. []

Ditulis oleh Miqdad Sya’roni
Disadur dari cerita KH. Muhammad Tahrir Nawawi

Muhammad Miqdad Syaroni
Sekretaris II PC Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari NU) Kabupaten Jepara 2015-2020.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Ulama