Situbondo, (Pesantren.Id) – Pesan spiritual menjadi salah satu bagian penting dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-35 Program Diploma, Sarjana, dan Magister Universitas Ibrahimy (UNIB) Sumberejo, Banyuputih, Situbondo. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., menitipkan pesan kepada para wisudawan agar tidak meninggalkan hubungan batin dengan guru dan orang tua setelah memasuki kehidupan pengabdian di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dalam amanat sekaligus pembacaan doa pada rangkaian Wisuda ke-35 UNIB yang berlangsung di Auditorium Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Senin-Selasa, 21-22 September 2026.
Wisuda tahun ini diikuti sebanyak 1.053 wisudawan dan wisudawati dari 25 program studi pada berbagai jenjang pendidikan. Pelaksanaan wisuda berlangsung dalam dua tahap selama dua hari.
Dalam amanatnya, KHR. Azaim mengaitkan pesan kepada para lulusan dengan konsep “segitiga emas” yang ditekankan oleh almaghfurlah K.H.R. Ahmad Fawaid As'ad. Konsep tersebut, menurutnya, berkaitan dengan relasi spiritual keilmuan antara guru, orang tua, dan anak didik.
“Mengapa almaghfurlah K.H.R. Ahmad Fawaid As'ad menekankan konsep segitiga emas, karena pada konsep hubungan relasi spiritual keilmuan, keberkahan ada pada tiga unsur terpenting: guru, orang tua, dan anak didik. Dimana pun kelak kalian akan berkhidmah, mengamalkan ilmu kalian, diberbagai bidang profesi, maka saya titipkan jangan tinggalkan tawassul batin sebagai kekuatan ruhaniah kita terhubung untuk mengawal perjalanan hidup kita selanjutnya”.
Pesan tersebut disampaikan di tengah momentum para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan formal dan bersiap memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Bagi KHR. Azaim, perpindahan dari lingkungan kampus menuju dunia profesi dan masyarakat tidak berarti terputusnya hubungan spiritual dengan sumber ilmu dan orang-orang yang menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan.
Konsep “segitiga emas” yang disampaikan KHR. Azaim menempatkan guru, orang tua, dan anak didik sebagai tiga unsur yang memiliki keterkaitan dalam perjalanan keilmuan. Relasi tersebut tidak hanya dipahami dalam konteks pendidikan formal, tetapi juga menyangkut keberkahan dan kesinambungan pengabdian setelah seseorang menyelesaikan pendidikannya.
Karena itu, para lulusan UNIB tidak hanya diharapkan membawa ijazah sebagai bukti akademik, tetapi juga membawa nilai dan ikatan spiritual yang telah terbentuk selama menjalani proses pendidikan.
Pesan tersebut menjadi bagian dari rangkaian wisuda yang turut menghadirkan sejumlah tokoh dan pejabat. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Dr. (HC) KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag., Nyai Hj. Nur Sari As’adiyah, Kabid Dikti Dr. Minhaji, M.Pd.I., Rektor UNIB Dr. H. Khoirul Anwar, M.H.I., jajaran wakil rektor, serta guru besar UNIB.
Selain itu, hadir pula Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi, SH.I., Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, S.Sos., M.SM., dan Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I.
Rangkaian wisuda sebelumnya, pada Senin (21/9/2026), menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Hj. Arifah Fauzi sebagai pemberi orasi ilmiah. Sementara pada Selasa (22/9/2026), orasi ilmiah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Dr. (HC). H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si.
Dalam kesempatan tersebut, Muhaimin juga menyampaikan pesan kepada para lulusan agar mempersiapkan diri menghadapi perjuangan baru dengan kesungguhan, keseriusan, disiplin, istikamah dan konsistensi, serta tetap berpijak pada nilai dan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menjadi mahasiswa di Universitas Ibrahimy.
Sementara itu, Rektor UNIB Dr. H. Khoirul Anwar menegaskan bahwa pendidikan di Universitas Ibrahimy tumbuh dari tradisi pesantren yang berakar pada khidmah, kejujuran, keikhlasan, kedisiplinan dan kedalaman spiritual.
“Universitas Ibrahimy lahir dari rahim tradisi pesantren yang kokoh, berakar pada khidmah, kejujuran, keikhlasan, kedisiplinan dan kedalaman spiritual para kiai dan ulama, kiai Syamsul Arifin, kiai As'ad, kiai Ahmad Fawaid As'ad. Dari bilik-bilik pesantren sederhana inilah spirit keilmuan ditanamkan dan dirawat dari generasi ke generasi menjadi paku bumi yang kokoh dan tidak goyah oleh perubahan zaman.”
Ketua Panitia Wisuda ke-35 Zainuddin, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Kehadiran dua menteri yang memberikan orasi ilmiah pada dua hari pelaksanaan disebut turut melengkapi momentum wisuda tahun ini.
"Alhamdulillah, kami bersyukur karena pelaksanaan wisuda ke-35 ini berjalan sukses dan lancar. Dua menteri yang diundang untuk orasi ilmiah dapat hadir dan tak berhalangan, menambah kesempurnaan wisuda saat ini”.
Melalui amanat tersebut, KHR. Ahmad Azaim kembali menempatkan perjalanan pendidikan para lulusan dalam bingkai pengabdian. Di mana pun mereka kelak berkhidmah dan apa pun profesi yang dijalani, hubungan dengan guru dan orang tua tetap menjadi bagian dari perjalanan batin yang menyertai pengamalan ilmu.