Table of contents [Show]
-
1
"Khalwat dar Anjuman: Laku Tapa Ngramé Imam Khwaja Bahā'uddin Naqshabandi"
-
- 1. 0. 1 A. Khalwat dar Anjuman: Laku Tapa Ngramé
- 1. 0. 2 B. Dari Delapan Menjadi Sebelas Asas Tarekat
- 1. 0. 3 C. Pertemuan Bersejarah Imam Baha'uddin dengan Sultan Herat Malik Husayn
- 1. 0. 4 D. Dasar Ayat dan Hadits "Khalwat dar Anjuman"
- 1. 0. 5 E. "Khalwat dar Anjuman" dalam Perbuatan, Bukan Sekadar Perkataan
- 1. 0. 6 F. Laku Tapa Ngrame: Koneksi antara Bukhara dan Kajen
-
"Khalwat dar Anjuman: Laku Tapa Ngramé Imam Khwaja Bahā'uddin Naqshabandi"
[Catatan "Mā Warā' an-Nahr wa Mā Warā' al-Bahr: Membangun Koneksi antara Transoxiana & Nusantara" yang ke-5]
oleh: Sahal Japara
A. Khalwat dar Anjuman: Laku Tapa Ngramé
Ada sebuah kalimat pendek dalam bahasa Persia yang sangat masyhur dalam tradisi sufi di Transoxiana (Mā Warā' an-Nahār), yang dinisbatkan kepada al-Imam Khwaja Muhammad Baha'uddin Naqshband al-Bukhari (718–791 H/1318–1389 M), yaitu: "dil ba yār-u dast ba kār" — hati selalu bersama Sang Kekasih, meskipun tangan tetap bekerja. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah indah, melainkan sebuah potret rumusan dari sebuah revolusi (baca: Tajdīd) dalam sejarah tasawuf. Kalimat ini mengandung sebuah keyakinan bahwa puncak kedekatan dengan Gusti Allah itu tidak harus dilakukan dengan melarikan diri dari dunia, atau menepi dari kerumunan manusia, tetapi justru bisa diraih di tengah-tengah aktifitas manusia sebagai makhluk sosial.
Prinsip inilah yang dalam khazanah tarekat Khwajagan–Naqsyabandiyah dikenal sebagai "Khalwat dar Anjuman", yang artinya: menyendiri di dalam keramaian. Dan menariknya, ketika kita membaca tradisi sufistik Nusantara khususnya Jawa, terdapat istilah yang maknanya juga sepadan dengan "Khalwat dar Anjuman", yaitu "Laku Tapa Ngrame"— bertapa atau menjalani laku prihatin dan mengingat Gusti Allah di tengah keramaian.
B. Dari Delapan Menjadi Sebelas Asas Tarekat
Prinsip "Khalwat dar Anjuman" sebenarnya bukan temuan Imam Baha'uddin Naqshabandi, tetapi merupakan warisan dari Khwaja 'Abdul Khaliq al-Ghijduwani (w. 575 H/1179 M) —Sang Mursyid Kabir yang mengisyaratkan kepada Imam Baha'uddin untuk menempuh laku dzikir khafi— seorang tokoh besar dari kota Ghijduwan, Propinsi Bukhara. Khwaja Abdul Khaliq inilah yang meletakkan delapan asas jalan tarekat Khwajagan yang dikenal sebagai "Kalimāt-i Qudsiyya":
1. Hūsh dar Dam (sadar pada napas),
2. Nazar bar Qadam (awas pada langkah),
3. Safar dar Watan (mengembara di dalam diri),
4. Khalwat dar Anjuman (sunyi di tengah ramai),
5. Yād Kard (zikir yang dihadirkan),
6. Bāz Gasht (kembali dan menahan diri),
7. Nigāh Dāsht (menjaga hati dari lintasan), dan
8. Yād Dāsht (kelestarian musyahadah).
Imam Baha'uddin kemudian menambahkan tiga asas lagi, yaitu:
1. Wuqūf-i Zamānī (berhenti pada waktu). Waktu diisi dengan kesadaran (Zamānī). Selalu memeriksa waktu: apakah diisi dengan ingat Allah atau lalai?
2. Wuqūf-i 'Adadī (berhenti pada hitungan). Pikiran didisiplinkan lewat fokus hitungan ('Adadī). Menjaga hitungan ganjil saat zikir batin agar pikiran tidak melamun.
3. Wuqūf-i Qalbī (berhenti pada hati). Hati dikunci hanya untuk mengingat Tuhan (Qalbī). Menjaga hati selalu fokus kepada Gusfi Allah, walau raga sedang sibuk beraktivitas.
Sehingga jadilah sebelas asas yang hingga kini menjadi prinsip dasar tarekat ini.
(Algar, Studia Islamica 44, 1976; Tosun, Bahaeddin Nakşbend, İnsan Yayınları, 2002).
Syekh Muhammad Parsa (w. 822 H/1420 M), khalifah utama Imam Baha'uddin, mensyarahi 11 kalimat itu dalam kitabnya "Risāla-yi Qudsiyya". Sementara sumber hagiografi —riwayat hidup orang-orang suci serta legenda yang menyertainya— tertua tentang sang Imam Khwaja Baha'uddin Naqshabandi berjudul "Anīs at-Thālibīn wa 'Uddat as-Sālikīn" yang dinisbatkan kepada Syekh Shalah bin Mubarak al-Bukhari, juga kitab "Maqāmāt-i Naqshband" karya Syekh Abul Muhsin Muhammad Baqir bin Ali; merekam bagaimana asas-asas itu hidup dalam keseharian beliau.
Yang dilakukan Imam Baha'uddin bukan menambahkan teori, melainkan menaikkan laku khalwat dar anjuman dari yang semula menjadi salah satu asas dalam daftar kalimat prinsip tarekat menjadi identitas seluruh tarekat.
C. Pertemuan Bersejarah Imam Baha'uddin dengan Sultan Herat Malik Husayn
Ada peristiwa penting terkait prinsip "Khalwat dar Anjuman" ini, yang terjadi di istana Herat, salah satu kota yang memiliki pusat spiritual utama di wilayah historis Khorasan Raya—sekarang masuk wilayah Afganistan. Penguasa Herat, Malik Husayn Kart, mengundang Imam Baha'uddin saat ia tahu bahwa beliau sedang berada di kota Herat.
Pertemuan ini terjadi ketika Imam Baha'uddin sedang dalam perjalanan pulang pasca-menunaikan ibadah haji untuk yang pertama kali. Saat kafilah spiritual beliau melintasi wilayah antara Tus dan Sarakhs, kabar kedatangan sang ulama besar itu terdengar oleh sultan dari Dinasti Kart tersebut. Terpikat oleh kemasyhuran dan pancaran spiritual sang imam, Malik Husayn segera mengirim utusan khusus untuk mengundang sang guru sufi singgah ke istananya di Herat. Demi menghormati tamu agungnya, sultan menggelar sebuah perjamuan mewah dengan mengundang para ulama terkemuka, para ahli fikih, serta para syekh dari seluruh penjuru negeri untuk duduk bersama menikmati hidangan istana.
Namun, ketika jamuan dimulai, sebuah pemandangan tak lazim terjadi. Imam Baha'uddin Naqshbandi ternyata hanya duduk tenang tanpa menyentuh satu pun makanan yang ada di hadapannya. Beliau pun dengan halus menolak seluruh hadiah yang dikirimkan Sultan Malik Husayn ke kamarnya. Di mata seorang zahid yang sangat berhati-hati terhadap hal syubhat, makanan di atas meja para penguasa kerap kali bercampur dengan harta yang diragukan kehalalannya, baik dari pajak yang memberatkan rakyat maupun cara perolehan lainnya. Sikap tegas Imam Baha'uddin ternyata tidak membuat Sultan Malik Husayn murka. Ia justru semakin kagum dan penasaran dengan prinsip hidup yang dipegang-teguh oleh Imam Baha'uddin.
Melihat jamuannya diabaikan dan hadiahnya ditolak, Sultan Malik Husayn membuka percakapan dengan bertanya kepada Imam Baha'uddin, "Lalu sekarang, kepada siapa makanan ini harus kami berikan?"
Imam Bahauddin menjawab:
"Шариатга кўра, агар бирор нарсада шубҳа бўлса, у фақирларга берилади. Аслида бу таомлар ҳалол. Ҳиротда мана шу таомларнинг бир луқмасига муҳтож бўла туриб қаноат қилаётган шундай фақирлар борки, ўшаларга берилса яхшироқ бўлади."
(Shariatga ko‘ra, agar biror narsada shubha bo‘lsa, u faqirlarga beriladi. Aslida bu taomlar halol. Hirotda mana shu taomlarning bir luqmasiga muhtoj bo‘la turib qanoat qilayotgan shunday faqirlar borki, o‘shalarga berilsa yaxshiroq bo‘ladi.)
"Menurut syariat, jika ada keraguan apakah suatu perkara itu halal atau syubhat, maka hendaknya diberikan kepada orang-orang fakir miskin. Sebenarnya makanan-makanan ini halal. Namun, di Herat ini, ada orang-orang fakir yang hidup dalam keterbatasan namun tetap qana'ah (merasa cukup). Mereka tentu jauh lebih membutuhkan, walaupun hanya sesuap dari makanan ini. Akan lebih baik jika makanan ini diberikan kepada mereka."
Sultan Malik menerima saran tersebut dengan penuh hormat, namun rasa penasarannya terhadap Sang Imam justru semakin mendalam. Ia kemudian mulai menyelidiki asal-usul ilmu dan kedudukan spiritual Imam Baha'uddin dengan bertanya untuk memastikan apakah jalan kedarwisan dan kesufian ini didapatkan sebagai sebuah warisan dari keluarga yang diwariskan secara turun temurun, "Apakah kedarwisan —laku sufi— ini Anda dapatkan sebagai warisan dari keluarga Anda?"
Imam Baha'uddin menjawab:
"Мерос эмас, инсонларнинг ва жинларнинг барча амалларига тенг келадиган даражада бир илоҳий жазба келди ва мени бу саодатга эриштирди."
(Meros emas, insonlarning va jinlarning barcha amallariga teng keladigan darajada bir ilohiy jazba keldi va meni bu saodatga erishtirdi.)
"Kesufian ini bukan merupakan warisan, melainkan sebuah tarikan Ilahi (jadzbah) yang karunianya setara dengan seluruh amal perbuatan manusia dan jin yang telah datang kepadaku, dan membawa diriku pada kebahagiaan (spiritual) ini."
Sultan Malik kemudian mencoba membandingkan ajaran Imam Bahauddin dengan tarekat-tarekat sufi lain yang lazim dijumpai pada masa itu, yang identik dengan ritual zikir keras atau tarian mistis. Sultan Malik Husayn bertanya, "Apakah dalam tarekat Anda terdapat zikir jahri (mengeraskan suara), sama' (mendengarkan musik sufistik hingga hanyut dalam perasaan spiritual), dan ritual khalwat (mengasingkan diri dari tengah-tengah kehidupan bermasyarakat)?"
Imam Bahauddin berkata:
"Йўқ."
(Yo‘q)
"Tidak."
Terkejut dengan jawaban yang tidak biasa dan berbeda dari mazhab sufi kebanyakan, sang sultan semakin penasaran dan mengejar dengan pertanyaan untuk mengetahui bagaimana bentuk asli dari jalan ketuhanan yang dianut oleh sang imam, "Lalu bagaimanakah bentuk dan suluk tarekat dan Anda?"
Imam Bahauddin berkata:
"Абдулхолиқ Ғиждувоний ҳазратларининг тавсияси бўлган хилват дар анжуман, яъни халқ орасида Ҳақ таоло билан бирга бўлишдир."
(Abdulxoliq G‘ijduvoniy hazratlarining tavsiyasi bo‘lgan xilvat dar anjuman, ya’ni xalq orasida Haq taolo bilan birga bo‘lishdir.)
"Sesuai dengan wasiat spiritual Yang Mulia Abdul Khaliq al-Ghijduwani, yaitu 'Khalwat dar Anjuman', yang artinya senantiasa bersama Allah Yang Mahakuasa di tengah-tengah keramaian makhluk."
Mendengar prinsip tarekat yang tampak kontradiktif tersebut, Sultan Malik Husayn kembali bertanya dengan penuh heran tentang bagaimana mungkin seseorang bisa menyendiri sekaligus berada di keramaian dalam waktu bersamaan, "Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?"
Imam Bahauddin menjawab:
"Бу зоҳир (кўриниш)да халқ билан бирга, ботинда (қалбан) эса Ҳақ таоло билан банд бўлиш. Халқ ичида бўлиши уларни Ҳақ таолони зикр ва фикр қилишдан чалғитмайдиган кишига муяссар бўлади."
(Bu zohir (ko‘rinish)da xalq bilan birga, botinda (qalban) esa Haq taolo bilan band bo‘lish. Xalq ichida bo‘lishi ularni Haq taolo ni zikr va fikr qilishdan chalg‘itmaydigan kishiga muyassar bo‘ladi.)
"Secara zahir (penampilan luar) raga kita berada bersama masyarakat, sedangkan di dalam batin (hati), ia senantiasa terikat erat dengan Allah Yang Mahakuasa. Berada di tengah-tengah masyarakat (tanpa kehilangan kedekatan dengan Tuhan) hanya dimungkinkan bagi orang yang jiwanya tidak terganggu oleh interaksi manusia dalam berzikir dan bertafakur kepada Allah Yang Mahakuasa."
Dalam riwayat lain yang masyhur, ketika ditanya apa asas pokok pendidikan ruhani beliau, jawabannya ringkas: "Khalwat dar Anjuman" — lahirnya bersama manusia, batinnya bersama Gusti Allah. Dan ukurannya begitu tinggi: seorang sālik dikatakan sampai apabila ia mampu melintasi pasar tanpa mendengar satu pun kegaduhan di dalamnya.
(Tosun, Bahaeddin Nakşbend, İnsan Yayınları, 2002).
D. Dasar Ayat dan Hadits "Khalwat dar Anjuman"
Prinsip "Khalwat dar Anjuman" bukan merupakan improvisasi kultural para sufi. Ia berakar pada ayat yang, sejak generasi awal sufi, menjadi potret ideal manusia ruhani, yaitu:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللهِ
"Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah." (QS an-Nūr [24]: 37)
Ayat ini tidak memuji orang yang meninggalkan perniagaan. Ia memuji orang yang mampu tetap bisa ingat kepada Gusti Allah walaupun ia berada di dalam mu'amalah, perniagaan, jual beli maupun kerumunan manusia. Inilah yang dimaksud dengan "Khalwat dar Anjuman"; bukan menolak mu'amalah atau pun pasar, melainkan menolak tunduk dan takluk kepadanya.
Sandaran kedua adalah hadis yang diriwayatkan Imam Ibn Majah, Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Imam Baihaqi, dari sahabat Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka, jauh lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak mampu bersabar atas mereka."
Dari hadis ini, dapat dipahami bahwa, pergaulan sosial dinaikkan statusnya menjadi ladang mujāhadah —medan latihan, bukan gangguan terhadap laku kehidupan.
Perdebatan ini sesungguhnya telah lama hidup dan dapat kita temukan dalam kajian turats. Imam al-Qusyairi (w. 465 H) dalam ar-Risālah al-Qusyairiyyah membahas bab khusus tentang al-khalwah wa al-'uzlah, dan menegaskan bahwa uzlah yang hakiki adalah uzlah sifat, bukan sekadar uzlah badan. Imam al-Ghazali (w. 505 H) bahkan mendedikasikan satu kitab penuh dalam Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn, yakni Kitāb Ādāb al-'Uzlah, untuk menimbang secara berimbang keutamaan menyendiri dan keutamaan bergaul — dan berkesimpulan bahwa hukumnya bergantung pada kondisi orang serta zamannya, bukan berlaku mutlak. Sementara Ibn 'Atha'illah as-Sakandari (w. 709 H) dalam al-Hikam memperingatkan agar seseorang "menanam wujudnya di bumi khumul (ketidakterkenalan)", sebab yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna buahnya. Bahkan, Hadhratu Syaikh KH M. Hasyim Asy'ari pun mengisahkan dalam karyanya "At-Tibyān fi an-Nahyi 'an Muqāth'at al-Arhām wa al-Aqārib wa al-Ikhwān", bahwa beliau pernah mengingatkan sahabat dekatnya yang sama-sama Kiai, tetapi memilih untuk terburu-buru uzlah dan meninggalkan khidmahnya kepada masyarakat.
E. "Khalwat dar Anjuman" dalam Perbuatan, Bukan Sekadar Perkataan
Yang membuat ajaran Khalwat dar Anjuman ini semakin kuat adalah bahwa sang Imam tidak hanya sekedar mengatakan, tetapi beliau juga menempuhnya dalam laku dan perbuatan.
Suatu ketika Kota Bukhara dikepung pasukan Tokhtamysh Khan pada 789 H (1387–1388 M). Imam Baha'uddin tidak menyingkir ke zawiyah untuk berzikir. Beliau justru memerintahkan murid-muridnya membersihkan kotoran di atap-atap tempat pengungsian rakyat —sembari mengenang masa mudanya ketika berkhidmat membersihkan tempat buang hajat di seluruh madrasah Bukhara demi meruntuhkan keangkuhan diri, sikap takabbur, ujub dan ananiyyah (rasa keakuan) dalam diri beliau.
Ketika ada seorang murid bernama Shodiy Ghadivatiy datang bertobat, sang Imam tidak menyuruhnya mengasingkan diri dari manusia. Setelah memisahkan satu keping emas hasil judi dari empat puluh delapan keping yang dibawanya, Imam Baha'uddin justru menyuruhnya pulang: "Belilah sapi, bertanilah, dan gunakan seluruh penghasilanmu untuk berkhidmat kepada sesama."
Di sisi lain, kelenturan sosial dalam laku "Khalwat dar Anjuman" ini sama sekali tidak berarti bahwa ia memberikan kelonggaran terhadap syariat. Imam Baha'uddin tetap memegang teguh Syari'at. Di Herat beliau menolak menyantap hidangan istana karena kekhawatiran akan sumbernya yang syubhat, dan menyarankan agar makanan itu diberikan kepada fakir miskin Herat yang menjaga kehormatan diri. Inilah yang oleh Hamid Algar dan Itzchak Weismann disebut sebagai ciri khas Naqsyabandiyah: keterlibatan sosial yang aktif justru karena berpegang ketat pada syariat.
(Algar, 1976; Weismann, The Naqshbandiyya, Routledge, 2007).
F. Laku Tapa Ngrame: Koneksi antara Bukhara dan Kajen
Dalam tradisi laku Jawa dikenal aneka ragam tapa: tapa mutih, tapa pati geni, tapa ngebleng, tapa kungkum, tapa ngeli, tapa mendhem (menyembunyikan kebaikan diri), dan —yang paling mirip dengan laku "Khalwat dar Anjuman"— tapa ngrame, yakni laku prihatin yang ditempuh dengan siap berkorban dan menolong siapa pun, kapan pun, tanpa pamrih (bandingkan Simuh, Sufisme Jawa, Bentang, 1995).
Dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV, tapa-tapa itu dimaknai secara etis, bukan magis: "Tapa Ngeli" berarti mengikuti kebenaran dan jalan takdir Tuhan, "Tapa Ngluwat" berarti memendam hati agar tidak memamerkan kebaikan sendiri. Sementara dalam lakon Dewa Ruci yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga dan juga Syekh Mutamakkin Kajen, Bima yang telah mencapai makrifat justru ditolak permohonannya untuk menetap selamanya di dalam Dewa Ruci. Ia harus kembali ke medan Kurusetra, sebab darma hidupnya di dunia belum selesai. Bima harus menempuh laku "Tapa Ngrame".
Dalam tradisi Kajen Pati, ada beberapa aqwāl dan ahwāl yang berkaitan erat dan selaras dengan prinsip "Khalwat dar Anjuman" ini, antara lain:
Pertama, dhawuh Mbah KH Abdullah Salam Kajen "aja mencil sakdurunge muncul", yang biasanya dipahami sebagai nasehat kepada murid-murid beliau, agar tidak terburu-buru memilih uzlah sebelum memberikan banyak manfaat dan khidmah kepada masyarakat. Dhawuh Mbah Kiai Abdullah Salam ini sejalan dengan nasehat guru beliau Hadhratusysyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari dalam Kitab "At-Tibyān fi an-Nahyi 'an Muqāth'at al-Arhām wa al-Aqārib wa al-Ikhwān".
Kedua, laku "Sarna: angger pasaran ana" yang ditempuh oleh Mbah KH Abdussalam. Sudah masyhur di kalangan tutur cerita sejarah Kajen, bahwa diantara laku yang ditempuh oleh Kiai Abdussalam —ayah Kiai Abdullah Salam, sahabat dekat Hadhratusysyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari— adalah setiap kali datang pasaran tertentu dimana pasar Bulumanis ramai dengan transaksi perdagangan dan merumunan manusia, beliau selalu berangkat ke Pasar Bulumanis untuk mengkhatamkan al-Qur'an. Ketika berangkat, beliau memulai khataman. Dan ketika pulang, beliau sudah mengkhatamkan satu kali khataman, di tengah ramainya transaksi jual beli dan kerumunan pasar. Selain menguji kelancaran hafalan al Qur'an, laku yang ditempuh Mbah Kiai Abdussalam ini juga selaras dengan prinsip "Khalwat dar Anjuman".
Ketiga, prinsip Fiqih Sosial Mbah KH MA Sahal Mahfudh, sebuah pemikiran yang dicetuskan oleh Kiai Sahal Kajen yang memposisikan ilmu fikih bukan sekadar hukum normatif-dogmatis, melainkan sebagai pedoman aktif-progresif untuk menjawab dan menyelesaikan berbagai problem dan persoalan nyata di masyarakat. Fiqih bukan sekedar aturan ibadah ansih yang mengatur tata cara beribadah serta hubungan antara seorang hamba dengan tuhan, melainkan juga hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi solusi dan jawaban atas beragam persoalan yang terjadi di masyarakat.
Kagem Imam Baha'uddin Naqshabandi dan para masyayikh yang disebut dalam tulisan ini, al Fatihah.
📸 Makam Imam Baha'uddin Naqshabandi di Kota Bukhara Uzbekistan.
Tashkent, Rabu 16 September 2026.
Daftar Referensi:
- Salah bin Mubarak al-Bukhari, Anīs at-Tālibīn wa 'Uddat as-Sālikīn.
- Abul Muhsin Muhammad Baqir ibn Ali, Maqāmāt-i Muhammad Bahā'uddīn Naqshband.
- Muhammad Parsa, Risāla-yi Qudsiyya.
- 'Abdurrahman Jami, Nafahāt al-Uns min Hadarāt al-Quds.
- Fakhruddin 'Ali bin Husain al-Wa'iz al-Kasyifi (Safi), Rasyahāt 'Ain al-Hayāt.
- 'Abdul Majid al-Khani, al-Hadā'iq al-Wardiyyah fī Haqā'iq Ajillā' an-Naqsyabandiyyah.
- Imam Al-Qusyairi, ar-Risālah al-Qusyairiyyah.
- Imam Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn.
- Imam Ibn 'Atha'illah as-Sakandari, al-Hikam al-'Athā'iyyah.
- Imam At-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, dan Imam Ibn Majah, Sunan Ibnu Majah.
- Pakubuwana IV, Serat Wulangreh.
- Necdet Tosun, Bahaeddin Nakşbend: Hayatı, Görüşleri, Tarikatı.
- Hamid Algar, The Naqshbandī Order: A Preliminary Survey of Its History and Significance.
- Hamid Algar, Bahāʾ-al-Dīn Naqšband.
- Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia.
- Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa.
- KH Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial.