Ada nama-nama yang tak pernah lekang oleh waktu karena pemiliknya telah menanamkan karya abadi melebihi usia mereka sendiri. Imam Muhammad bin Isma'il al-Bukhari adalah salah satunya. Sebelas abad lebih sejak wafatnya, kitab al-Jami' al-Shahih karyanya masih terus dibaca dimana-mana di seantero penjuru dunia, termasuk juga di pesantren-pesantren Nusantara, dan ditempatkan sebagai rujukan paling otoritatif setelah al-Qur'an. Namun, di balik keagungan kitab itu, tersembunyi kisah hidup yang sangat menyentuh: tumbuh sebagai anak yatim, sempat kehilangan penglihatan, mengembara ribuan kilometer, hingga akhirnya wafat dalam kesunyian di sebuah desa kecil dekat Samarkand.
Table of contents [Show]
A. Nasab dan Kelahiran
Nama lengkap beliau adalah Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari. Kakek buyutnya, Bardizbah, adalah seorang Persia yang wafat dalam agama Majusi. Putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al-Ju'fi, Gubernur Bukhara. Dari sinilah nisbah al-Ju'fi melekat pada keturunannya sebagai bentuk ikatan wala'.
Al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad dan al-Dzahabi dalam Siyar A'lam al-Nubala' mencatat bahwa Imam al-Bukhari lahir di Bukhara selepas shalat Jumat pada 13 Syawal 194 H (sekitar Juli 810 M). Kala itu, Bukhara merupakan permata di wilayah Ma Wara' an-Nahr—negeri di seberang Sungai Jihun (Amu Darya)—yang kelak melahirkan banyak ulama besar di bidang hadits, fikih, dan tasawuf.
B. Sosok Ayah yang Menjaga Kehalalan Rizqi
Sang ayah, Isma'il bin Ibrahim, bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang ahli hadits yang pernah berguru kepada Imam Malik bin Anas dan Hammad bin Zaid, serta sempat berjabat tangan dengan 'Abdullah bin al-Mubarak. Ibn Hibban bahkan mencantumkan namanya dalam al-Tsiqat. Isma'il wafat ketika Imam Bukhari masih kecil, tetapi ia meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta, yaitu sikap ketelitian yang begitu ketat dalam menjaga kehalalan rizqi. Ahmad bin Hafsh menuturkan bahwa menjelang wafatnya sang ayah, Imam Bukhari kecil datang untuk menjenguk dan mendengar sang ayah berkata:
لَا أَعْلَمُ فِي جَمِيعِ مَالِي دِرْهَمًا مِنْ حَرَامٍ، وَلَا دِرْهَمًا مِنْ شُبْهَةٍ
"Aku tidak mengetahui ada satu dirham pun yang haram dalam seluruh hartaku, tidak pula satu dirham yang syubhat."
Para ulama memandang penuturan ini sebagai kunci keberkahan hidup Imam Bukhari. Ilmu yang jernih tumbuh dari tubuh yang dirawat dengan rizki yang bersih. Harta warisan itu pula yang menopang perjalanan panjangnya menuntut ilmu tanpa harus bergantung pada belas kasih orang lain ataupun pemerintah.
C. Doa Ibu yang Menembus Langit
Sepeninggal ayahnya, sang ibu mengasuh Imam Bukhari kecil dan kakaknya, Ahmad, seorang diri. Saat masih kecil, Imam Bukhari pernah mengalami kemunduran penglihatan hingga buta kedua matanya. Tabib demi tabib didatangi, tetapi tak ada yang mampu menyembuhkannya. Sang ibu lantas menyerahkan semuanya dan berdoa meminta hanya kepada Gusti Allah.
Al-Lalika'i meriwayatkan, sebagaimana dikutip oleh al-Khathib dan al-Dzahabi, bahwa suatu malam sang ibu bermimpi bertemu Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang berkata kepadanya:
يَا هَذِهِ، قَدْ رَدَّ اللهُ عَلَى ابْنِكِ بَصَرَهُ لِكَثْرَةِ بُكَائِكِ، أَوْ كَثْرَةِ دُعَائِكِ
"Wahai ibu, Gusti Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena banyaknya tangisanmu, atau karena banyaknya doamu."
Keesokan harinya, Imam Bukhari kecil terbangun dengan mata yang kembali pulih. Penglihatan yang dikembalikan berkat air mata seorang ibu itulah yang kelak menelaah ratusan ribu sanad dan matan, menyaring hadits-hadits Nabi dengan ketelitian tanpa tanding. Peran sang ibu tidak berhenti di situ. Ketika Imam Bukhari berusia enam belas tahun, ibunya membawanya bersama kakaknya Ahmad untuk menunaikan haji ke Makkah, lalu merelakan putranya tetap tinggal di Tanah Suci demi menuntut ilmu.
D. Benih Hafalan di Bangku Kuttab
Kecerdasan Imam Bukhari sudah terlihat sejak belia. Muhammad bin Abi Hatim al-Warraq, juru tulisnya, pernah menanyakan awal mula perjalanan ilmunya. Beliau menjawab:
أُلْهِمْتُ حِفْظَ الْحَدِيثِ وَأَنَا فِي الْكُتَّابِ
"Aku diilhami untuk menghafal hadits ketika aku masih di kuttab (Semacam TPQ)."
Saat ditanya berapa usianya kala itu, beliau menjawab, "Sepuluh tahun atau kurang." Pada usia sebelas tahun, ia bahkan sudah berani mengoreksi kekeliruan sanad seorang guru bernama al-Dakhili, dan sang guru mengakui kebenaran koreksinya. Menjelang usia enam belas tahun, beliau telah menghafal karya-karya besar 'Abdullah bin al-Mubarak dan Waki' bin al-Jarrah.
Makkah menjadi gerbang awal pengembaraan mencari hadits Imam Bukhari. Di sana, pada usia delapan belas tahun, beliau mulai menyusun kitab Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi'in, lalu dilanjutkan dengan menyusun al-Tarikh al-Kabir di Madinah. Beliau mengenang masa-masa tersebut:
وَصَنَّفْتُ كِتَابَ التَّارِيخِ إِذْ ذَاكَ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيَالِي الْمُقْمِرَةِ
"Aku menyusun kitab al-Tarikh ketika itu di samping makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam-malam yang diterangi cahaya purnama."
Setelah itu, beliau menjelajahi hampir seluruh pusat keilmuan dunia Islam. Dengan penuh kerendahan hati, beliau merangkum perjalanan panjangnya:
دَخَلْتُ إِلَى الشَّامِ وَمِصْرَ وَالْجَزِيرَةِ مَرَّتَيْنِ، وَإِلَى الْبَصْرَةِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ، وَأَقَمْتُ بِالْحِجَازِ سِتَّ أَعْوَامٍ، وَلَا أُحْصِي كَمْ دَخَلْتُ إِلَى الْكُوفَةِ وَبَغْدَادَ مَعَ الْمُحَدِّثِينَ
"Aku memasuki Syam, Mesir, dan Jazirah Arab dua kali; ke Basrah empat kali; bermukim di Hijaz selama enam tahun; dan aku tidak dapat menghitung berapa kali aku masuk ke Kufah dan Baghdad bersama para ahli hadits."
Perjalanan ilmunya juga singgah di Balkh, Marw, Naisabur, Rayy, dan Wasith. Gurunya tercatat lebih dari seribu orang. Beliau menuturkan: "Aku menulis hadits dari seribu delapan puluh orang, dan tidak ada seorang pun di antara mereka melainkan ahli hadits." Di antara jajaran gurunya terdapat nama-nama besar seperti Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, 'Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma'in, dan al-Humaidi.
Kemasyhuran hafalannya pernah diuji di Baghdad. Dikutip dalam Siyar A'lam an-Nubalā', Al-Hafizh Abu Ahmad Ibn 'Adi meriwayatkan kisah itu dari sejumlah gurunya:
سَمِعْتُ عِدَّةَ مَشَايِخَ يَحْكُونَ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيَّ قَدِمَ بَغْدَادَ، فَسَمِعَ بِهِ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ، فَاجْتَمَعُوا وَعَمَدُوا إِلَى مِائَةِ حَدِيثٍ، فَقَلَبُوا مُتُونَهَا وَأَسَانِيدَهَا، وَجَعَلُوا مَتْنَ هَذَا الْإِسْنَادِ هَذَا، وَإِسْنَادَ هَذَا الْمَتْنِ هَذَا، وَدَفَعُوا إِلَى كُلِّ وَاحِدٍ عَشْرَةَ أَحَادِيثَ لِيُلْقُوهَا عَلَى الْبُخَارِيِّ فِي الْمَجْلِسِ. فَاجْتَمَعَ النَّاسُ، وَانْتُدِبَ أَحَدُهُمْ، فَسَأَلَ الْبُخَارِيَّ عَنْ حَدِيثٍ مِنْ عَشَرَتِهِ، فَقَالَ: لَا أَعْرِفُهُ. وَسَأَلَهُ عَنْ آخَرَ، فَقَالَ: لَا أَعْرِفُهُ. وَكَذَلِكَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ عَشَرَتِهِ. فَكَانَ الْفُقَهَاءُ يَلْتَفِتُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَيَقُولُونَ: الرَّجُلُ فَهِمَ. وَمَنْ كَانَ لَا يَدْرِي قَضَى عَلَى الْبُخَارِيِّ بِالْعَجْزِ. ثُمَّ انْتُدِبَ آخَرُ فَفَعَلَ كَمَا فَعَلَ الْأَوَّلُ، وَالْبُخَارِيُّ يَقُولُ: لَا أَعْرِفُهُ. ثُمَّ الثَّالِثُ، وَإِلَى تَمَامِ الْعَشْرَةِ أَنْفُسٍ، وَهُوَ لَا يَزِيدُهُمْ عَلَى: لَا أَعْرِفُهُ. فَلَمَّا عَلِمَ أَنَّهُمْ قَدْ فَرَغُوا، الْتَفَتَ إِلَى الْأَوَّلِ مِنْهُمْ فَقَالَ: أَمَّا حَدِيثُكَ الْأَوَّلُ فَكَذَا، وَالثَّانِي كَذَا، وَالثَّالِثُ كَذَا، إِلَى الْعَشْرَةِ، فَرَدَّ كُلَّ مَتْنٍ إِلَى إِسْنَادِهِ، وَفَعَلَ بِالْآخَرِينَ مِثْلَ ذَلِكَ. فَأَقَرَّ لَهُ النَّاسُ بِالْحِفْظِ. فَكَانَ ابْنُ صَاعِدٍ إِذَا ذَكَرَهُ يَقُولُ: الْكَبْشُ النَّطَّاحُ.
"Aku mendengar sejumlah guru bercerita bahwa Muhammad bin Isma'il al-Bukhari datang ke Baghdad. Para ahli hadits mendengar kedatangannya, lalu mereka berkumpul. Mereka mengambil seratus hadits dan memutarbalikkan matan serta sanadnya: matan sanad ini dipasang pada sanad itu, dan sanad matan ini dipasang pada matan itu. Kemudian hadits-hadits itu dibagikan kepada sepuluh orang, masing-masing sepuluh hadits, untuk diajukan kepada al-Bukhari di majelis."
"Orang-orang pun berkumpul. Salah seorang dari mereka maju dan menanyakan satu hadits dari bagiannya. Al-Bukhari menjawab, 'Aku tidak mengenalnya.' Ia menanyakan hadits lain, dan jawabannya tetap, 'Aku tidak mengenalnya,' begitu seterusnya hingga sepuluh haditsnya habis. Para fuqaha saling berpandangan dan berkata, 'Orang ini paham (apa yang sedang terjadi).' Adapun yang tidak mengerti menyimpulkan bahwa al-Bukhari tak mampu menjawab."
"Lalu orang kedua maju dan melakukan hal yang sama, dan al-Bukhari tetap berkata, 'Aku tidak mengenalnya.' Demikian pula orang ketiga, hingga genap sepuluh orang, dan ia tidak menambah jawaban selain 'Aku tidak mengenalnya.'
Setelah tahu mereka semua selesai, ia menoleh kepada orang pertama dan berkata, 'Adapun haditsmu yang pertama, (yang benar) begini; yang kedua begini; yang ketiga begini,' hingga kesepuluh. Setiap matan ia kembalikan kepada sanadnya, dan hal yang sama ia lakukan kepada yang lain. Orang-orang pun mengakui kekuatan hafalannya. Ibn Sha'id, setiap kali menyebut namanya, menjulukinya 'domba jantan penanduk'."
Imam Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani mengomentari kisah ini dengan tajam dalam Hady al-Sari:
قُلْتُ: هُنَا يَخْضَعُ لِلْبُخَارِيِّ، فَمَا الْعَجَبُ مِنْ رَدِّهِ الْخَطَأَ إِلَى الصَّوَابِ فَإِنَّهُ كَانَ حَافِظًا، بَلِ الْعَجَبُ مِنْ حِفْظِهِ لِلْخَطَأِ عَلَى تَرْتِيبِ مَا أَلْقَوْهُ عَلَيْهِ مِنْ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ
"Aku katakan: di sinilah orang harus tunduk kepada al-Bukhari. Yang mengagumkan bukanlah kemampuannya mengembalikan yang salah kepada yang benar, sebab ia memang seorang hafizh. Yang sungguh mengagumkan adalah hafalannya atas kekeliruan-kekeliruan itu, persis menurut urutan yang mereka sampaikan, hanya dengan sekali dengar."
F. Lahirnya al-Jami' al-Shahih
Terdorong oleh himbauan gurunya, Ishaq bin Rahawaih, tentang pentingnya menyusun kitab ringkas yang khusus memuat hadits-hadits shahih, Imam al-Bukhari memulai penyusunan karya agungnya. Beliau menceritakan:
صَنَّفْتُ الْجَامِعَ مِنْ سِتِّ مِائَةِ أَلْفِ حَدِيثٍ فِي سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً، وَجَعَلْتُهُ حُجَّةً فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّهِ
"Aku menyusun al-Jami' dari seleksi enam ratus ribu hadits selama enam belas tahun, dan aku menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Gusti Allah."
Kedalaman metodologi ilmiahnya berpadu erat dengan kesucian spiritual:
مَا وَضَعْتُ فِي كِتَابِ الصَّحِيحِ حَدِيثًا إِلَّا اغْتَسَلْتُ قَبْلَ ذَلِكَ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ
"Tidaklah aku memasukkan satu hadits pun ke dalam kitab al-Shahih melainkan aku mandi terlebih dahulu dan mendirikan shalat dua rakaat."
Pengakuan atas keagungan karyanya mengalir dari para ulama sezaman. Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan, "خُرَاسَانُ لَمْ تُخْرِجْ مِثْلَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ" (Khurasan tidak pernah melahirkan sosok seperti Muhammad bin Isma'il). Sementara itu, Imam Muslim bin al-Hajjaj, penyusun Shahih Muslim, pernah mencium kening beliau seraya berkata:
دَعْنِي أُقَبِّلْ رِجْلَيْكَ يَا أُسْتَاذَ الأُسْتَاذِينَ، وَسَيِّدَ الْمُحَدِّثِينَ، وَطَبِيبَ الْحَدِيثِ فِي عِلَلِهِ
"Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadits, dan tabib hadits dalam memahami cacat-cacatnya."
G. Ujian di Naisabur dan Kepulangan ke Bukhara
Keagungan kerap hadir beriringan dengan ujian. Di Naisabur, beliau awal mulanya disambut gegap gempita oleh ribuan orang, tetapi kemudian terseret dalam perselisihan terkait isu lafzh bil-Qur'an bersama Muhammad bin Yahya al-Dzuhli. Imam al-Bukhari memegang teguh prinsipnya: al-Qur'an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk. Namun, kesalah pahaman yang telanjur meluas membuat majelis ilmunya mulai ditinggalkan. Beliau memilih mengalah, keluar dari Naisabur, dan kembali ke tanah kelahirannya, Bukhara.
Masyarakat Bukhara menyambut kepulangannya dengan penuh kebanggaan, merias kubah-kubah kota dan menaburkan dirham. Namun, ujian berikutnya justru datang dari pihak penguasa. Gubernur Khalid bin Ahmad al-Dzuhli memintanya datang ke istana secara khusus untuk membacakan kitab al-Jami' dan al-Tarikh kepada anak-anaknya. Imam al-Bukhari menolak permintaan tersebut dengan kalimat yang menjadi warisan penegasan martabat ilmu:
إِنِّي لَا أُذِلُّ الْعِلْمَ، وَلَا أَحْمِلُهُ إِلَى أَبْوَابِ السَّلاَطِينِ، فَإِنْ كَانَتْ لَكِ إِلَى شَيْءٍ مِنْهُ حَاجَةٌ فَاحْضُرْنِي فِي مَسْجِدِي أَوْ فِي دَارِي
"Aku tidak akan merendahkan ilmu, dan tidak akan membawanya ke pintu-pintu penguasa. Jika engkau membutuhkan sesuatu darinya, datanglah kepadaku di masjidku atau di rumahku."
Sikap teguh itu harus dibayar mahal. Sang gubernur mencari-cari alasan hingga akhirnya mengasingkan Imam al-Bukhari dari kota kelahirannya sendiri.
H. Senja dan Wafat di Khartank
Beliau melangkah menuju Samarkand dan singgah di Khartank, sebuah desa yang berjarak sekitar 25 KM dari kota tersebut, tempat beberapa kerabatnya bermukim. Di sana, dalam kesunyian malam, 'Abdul Quddus bin 'Abdul Jabbar al-Samarqandi mendengar beliau bermunajat selepas shalat malam:
اللَّهُمَّ إِنَّهُ قَدْ ضَاقَتْ عَلَيَّ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ، فَاْقِبِضْنِي إِلَيْكِ
"Ya Allah, bumi yang luas ini sungguh telah terasa sempit bagiku, maka panggillah aku kembali kepada-Mu."
Tak sampai sebulan setelah doa itu dipanjatkan, Gusti Allah mengabulkannya. Imam al-Bukhari wafat pada malam Idul Fitri, malam Sabtu 1 Syawal 256 H (31 Agustus 870 M), pada usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas shalat Zhuhur di hari raya tersebut. Para perawi mengisahkan bahwa tanah dari makamnya merebakkan aroma harum melebihi kasturi selama berhari-hari, hingga banyak orang berdatangan.
Kini, kompleks makamnya di Khartank, Uzbekistan, berdiri megah dan menjadi salah satu simpul ziarah paling penting di Asia Tengah. Sosok yang dahulu sempat terasing dan terusir dari kampung halamannya, kini tak pernah sepi disandarkan doa oleh kaum muslimin dari seluruh penjuru bumi.
Kisah Imam Bukhari adalah kisah yang menyimpan begitu banyak keteladanan; tentang seorang ayah yang begitu ketat menjaga kehalalan rezeki, seorang ibu yang pantang menyerah mengetuk pintu langit dan mengusahakan pendidikan terbaik bagi anaknya, dan seorang penuntut ilmu yang rela melintasi benua demi menjaga kesucian hadits Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kisah hidup Imam Bukhari juga merupakan teladan tentang kehormatan ilmu yang tak sudi membungkuk dan menjilat di hadapan kekuasaan. Boleh jadi, karena keikhlasan dan keteguhan itulah karyanya tetap hidup dan menuntun umat hingga hari ini.
Kagem Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari, al Fatihah.
📸 Kompleks Pemakaman Imam Bukhari di Khartank — Samarkand
Ditulis di Samarkand, 26 September 2026
Daftar Referensi:
- al-Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, jilid 2;
- al-Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala', jilid 12;
- Ibn Hajar al-'Asqalani, Hady al-Sari Muqaddimah Fath al-Bari;
- al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal;
- Taj al-Din al-Subki, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, jilid 2;
- Muhammad Muhammad Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah;
- 'Abd al-Ghani 'Abd al-Khaliq, al-Imam al-Bukhari wa Shahihuh;
- Taqiyuddin al-Nadwi, al-Imam al-Bukhari;
- Jonathan A.C. Brown, The Canonization of al-Bukhari and Muslim (Brill, 2007).
#Ziarah #ImamBukhari #Riset #Samarkand #Uzbekistan