Kelebihan Dibalik Kekurangan

Kekurangan atau kecacatan yang bersifat kondisional pada seorang anak Adam sering kali menghadirkan ketidakberdayaan baik yang bersangkutan maupun orangtua. Tidak jarang menyebabkan adanya stigma. Orang-orang yang ada di sekitar hanya bisa mencacat dan menghina. Boleh jadi seorang anak dan orangtua merasa tak memiliki harga diri. Padahal Allah swt, Sang Maha Pencipta lebih tahu rahasia di balik itu. Dengan husnudzdzan kepada Allah, menjadi tugas kita mencari potensi apa yang dimiliki anak di balik kekurangan atau kecacatan.

Kecacatan atau kekurangan bisa bersifat permanen atau temporal. Bersifat permanen, karena kecacatan itu akan terus dimiliki, dihadapi, dan atau dirasakan anak hingga dewasa, bisa lebih berat atau ringan. Yang jelas tidak akan pernah hilang hingga akhir hayat. Bersifat temporal, karena kecacatan yang diidentifikasi dan dikenali sejak dini atau selama pertumbuhan dan perkembangan secara berangsur-angsur hilang, hingga dalam perkembangan selanjutnya bisa berkurang secara berarti atau bisa hilang sama sekali

Kecacatan pada hakekatnya bisa dibawa sejak lahir, yang bersifat genetik atau didapatkan selama pertumbuhan dan perkembangan. Kecacatan bersifat genetik, karena diperoleh dari kedua orangtua yang kadangkala bisa muncul pada waktu kelahiran, bisa juga muncul secara perlahan-lahan selama proses kehidupan selanjutnya. Kecacatan bisa juga disebabkan oleh tindakan dalam mengonsumsi makanan atau obat-obatan. Bisa jadi karena mengalami kecelakaan yang serius, sehingga berdampak pada kecacatan fisik, fungsi indera, atau fungsi otak yang sangat signifikan. Begitulah ragam kecacatan yang ada, bisa serius dan bisa ringan.

Secara fitrah bahwa setiap insan pada umumnya dianugerahi suatu potensi. Termasuk juga anak yang cacat. Potensi anak bisa juga mudah dikenali oleh siapapun, termasuk anak sendiri. Sebaliknya bahwa potensi yang cacat, hanya bisa dikenali dan diidentifikasi oleh ahlinya. Orangtua dan pendidikan memiliki tanggung jawab untuk bisa mengembangkan potensi yang optimal untuk bisa mengkompensasi kelemahan anak. Potensi anak cacat yang mendapat pembinaan dan pelatihan yang profesional, tidak jarang mampu mencapai prestasi yang gemilang, sehingga menimbulkan ketakjuban. Jika mampu raih posisi puncak, maka dapat kita rasakan kelebihan dan kebanggaan yang tak ternilai.

Baca Juga:  Kitab Mafatih Al-'Ulum: Al-Khawarizmi (2)

Untuk menjadikan anak cacat mampu hadirkan kelebihan dan keunggulan, strategi yang efektif adalah kita perlu melakukan assessment dan talent scouting sedini mungkin, sehingga dapat diperoleh info dan data tentang talenta yang dimilikinya. Jika pembinaan dan pelatihan dapat dilakukan secara profesional dan berkelanjutan, insya Allah potensi akan actualized dan berwujud prestasi yang bisa menjadi kebanggaan diri dan keluarga serta sekolah. Bahkan dalam batas tertentu bisa menjadi kebanggaan masyarakat dan bangsa.

Memang tidak mudah menemukan dan mengembangkan potensi di balik kecacatan seorang anak. Sangat dibutuhkan keahlian, keseriusan dan kesabaran. Kita bisa melihat sejumlah tampilan di ajang talent scouting di berbagai negara. Anak buta bisa dancing dengan gerakan sempurna. Anak cacat tubuh bisa melakukan senam dan dancing dengan penampilan yang sangat indah. Perenang yang tanpa kaki dan tangan mampu kalahkan perenang dengan tangan lengkap. Seorang tunanetra yang mampu mainkan musik dan menyanyi dengan tampilan yang mencengangkan. Masih banyak lagi contoh prestasi yang bisa diukir oleh anak dan orang tang menyandang kecacatan.

Akhirnya bahwa orang yang menyandang kecacatan dan kekurangan tidak seharusnya kita biarkan dalam ketakberdayaan. Menjadi tanggung jawab moral kita untuk bisa mengentaskan mereka, sehingga bisa keluar menuju kehidupan yang prospektif. Kecacatan harus menjadi starting untuk mengembangkan potensi yang tersimpan. Berangkat dari inferiority feeling menuju ke superiority feeling. Dari kelemahan menuju ke kelebihan yang gemilang. Dari ketakberdayaan menuju kedigdayaan. Dari kesedihan menuju ke keceriaan. Dari konsumtif menuju ke produktif. Dari pesimis menuju ke optimis. Dari mengkufuri menuju ke mensyukuri. Dari menjauh dari Allah menuju ke Taqarrub ilallah. Begitulah arah hidup yang wajib dibangun. Semoga Allah swt meridlai. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah