muslimatnu

Sebagai bagian perempuan nahdliyin yang hidup di era digital, sudah saatnya memiliki peran untuk bersinergi dan memberikan perubahan, khususnya di bidang literasi. Fakta ini tentu mengacu pada semangat didirkannya organisa-organisasi keperempuanan dibawah naungan NU, sebagai organisasi otonom yang terus menyemarakkan spirit dan perjuangan atas peran perempuan untuk memberikan perubahan kepada masyarakat.

Organisasi keperempuanan di kalangan nahdiyin yang terus menggelorakan semangat literasinya melalui sepak terjanga sejarah didirikan. Mulai dari Muslimat NU di Puwokerto 29 Maret 1946 bertepatan dengan muktamar NU ke-16 Fatayat didirikan di Surabaya pada 24 April 1950, IPPNU pada 2 Maret 1955, dan KOPRI yang berada di naungan PMII diresmikan 25 November 1967.

Seluruh organisasi perempuan nahdiyin diatas didirikan atas kesadaran bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk bergerak, memberikan perubahan kepada masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Meski demikian, perjuangan sebelum organisasi perempuan tersebut ada sudah dimulai dan semangat yang bergelora ditunjukkan dari kalangan perempuan nahdiyin.

Kita bisa melihat bagaimana perjuangan Nyai Khoiriyah Hasyim yang dikenal pelopor pendidikan para santri perempuan dengan adanya pesantren Seblak khusus santri perempuan. Semangat yang dibawa olehnya ketika mendirikan pendidikan perempuan di Mekkah yang disebut Kuttabul Bannat menjadi awal mula pengabdian dirinya kepada para perempuan agar bisa memperoleh hak yang sama di bidang pendidikan. Keberadaan pesantren Seblak, sepeninggal suaminya justru semakin maju seiring dengan kesadaran pentingnya pendidikan bagi perempuan dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam persoalan pendidikan.

Sosok Nyai Khoiriyah tentu bukanlah satu-satunya alasan mengapa keterlibatan perempuan nahdiyin sangat dibutuhkan dalam masyarakat. Fakta sejarah tersebut menjadi spirit perjuangan para perempuan untuk terus berdikari dan eksis ditengah perkembangan zaman yang semakin canggih.

Mengapa literasi digital  penting bagi perempuan?

Perempuan dalam sejarah perjalanan panjang perjuangan Indonesia dengan berbagai gerakan yang dilakukan yang berbeda. Kini menghadapi tantangan baru dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat dengan akses informasi yang mudah. Hal ini membutuhkan kemampuan literasi digital yang harus dimiliki oleh perempuan.

Perkembangan teknologi yang semakin cepat, informasi yang mudah diakses dengan berbagai kemudahan tersebut, memungkinkan informasi dengan sumber yang tidak jelas serta kebenaran informasi tersebut diragukkan. Sehingga kemamouan literasi digital sangatlah penting.

Rendahnya literasi, terutama literasi digital, akan membuat perempuan cenderung jadi penyebar berita bohong. Ketidakmampuan membedakan mana berita bohong dan mana yang mencerdaskan termasuk akan membuat perempuan lebih rentan jadi penyebar hoaks. Meski sebenarnya, kecenderungan untuk menyebar hoaks tidaklah hanya terjadi pada perempuan, akan tetapi aktifitas membaca dan menulis menjadi stimulus untuk meningkatkan kesadaran akan perempuan dalam ranah publik.

Tidak hanya itu, dalam menyuarakan kasus krimininalisasi terhadap perempuan, kasus kekerasan seksual bahkan kekerasan berbasis gender online yang selalu menjadi perbincangan para perempuan, kemampuan literasi ini menjadi modal utama perempuan untuk menggunakan media sosial sebagai media yang bisa memberikan kebermanfaatan terhadap sesama perempuan, mendukung sesama perempuan dalam keberlangsungan hidup.

Kesadaran literasi menjadi titik tumpu para perempuan masa kini dalam menghadapi tantangan demi tantangan mulai dari yang bersifat nyata ataupun yang bersifat maya melalui media sosial/ Aktivitas membaca dan menulis merupakan stimulus dan modal untuk mendobrak zaman yang dirasa tidak adil.

Kiranya, spirit/ghirah terhadap literasi tetap selalu diaktualisasikan hingga generasi perempuan saat ini. Para mahasiswi yang bertekun di perpustakaan serta fenomena para ibu rumah tangga milenial yang menulis blog (ngeblog), ataupun menulis pengalaman perempuan dalam dunia digital menjadi salah satu ikhtiar perempuan nahdLiyin dalam bergerak dan melakukan perubahan secara digital. (IZ)

Muallifa Muallifa
Mahasiswi IAIN Madura, penulis buku “ Mahasiswa Baper No! Produktif Yes!”

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini