Tahun 2015, saya lulus S2 dan saat itu pula saya telah memutuskan untuk membersamai anak anak di rumah. Keputusan ini adalah hasil diskusi antara saya dan suami. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan kedepan sehingga muncul keputusan yang menurut sebagian orang, keputusan ini adalah hal yang sanget aneh.

Sudah tentu banyak pertanyaan dari sekitar “Buat apa sekolah sampai S2 kalau ujung ujungnya momong anak di rumah?”
Ya, kami sadar jika keputusan yang kami buat akan menimbulkan banyak pertanyaan demikian. Namun, tak mungkin mereka semua kami jelaskan hasil pemikiran kami melalui lisan.

Sejak saat itu, saya termotivasi untuk menulis. Menulis ternyata membuat saya menjadi manusia yang tak memiliki beban. Karena isi hati dan otak telah saya tumpahkan semua dalam rangkaian aksara. Ketika anak anak tertidur, saya sempatkan membuka laptop dan melentikkan jemari untuk menghasilkan karya.

Menulis bagi saya adalah jurus yang ampuh untuk mengusir syndrom menyeramkan seperti baby blues.

Ya, saya telah menjawab semua pertanyaan di atas dengan karya. Ke-6 buku antologi saya merupakan bukti nyata hasil kontemplasi saya selama membersamai anak-anak di rumah. Saya membuktikan bahwa meskipun beraktifitas di rumah, justru semakin banyak buku yang saya hasilkan. Bahkan saya pun telah membentuk komunitas menulis online bagi ibu ibu yang punya hobi menulis.

Di tahun ini, saya kembali membuat orang sekitar saya terheran heran. Ya, mungkin ini keputusan yang “GILA” bagi mayoritas orang. Saya ibu rumah tangga yang sedang hamil 7 bulan, anak pertama masih 3,8 tahun dan anak kedua 14 bulan. Dalam kondisi demikian, saya didorong oleh suami untuk lanjut ke strata 3. Ya, keputusan untuk menjadi mahasiswa doktoral dalam kondisi ini sangat tak mudah.

Suasana Penulis ketika mengikuti perkuliahan jenjang S3nya.

Namun, kembali lagi. Saya dan suami menangkap peluang besar di 3 tahun mendatang, kualifikasi dosen akan diminta yang berpendidikan S3. Bukan hanya S2 lagi. Tentu, sambil kami mempersiapkan anak anak lulus masa golden age. Ketika anak anak sudah masuk usia sekolah formal, saat itulah saya bisa kembali mengamalkan ilmu dari kampus ke kampus. Entah dimana Allah menempatkan nantinya.

Baca Juga:  Dekolonisasi Feminisme

“Kenapa tidak saat ini?” Tidak, saat ini anak anak masih butuh saya dampingi full time. Sembari saya menjalani masa studi doktoral.

Kami pun memiliki pemikiran jauh kedepan dan banyak perhitungan sehingga kami memutuskan hal ini. Ya, hanya di tahun ini waktu yang pas buat saya menjadi mahasiswa yang ketiga kalinya.

Awal masuk kelas menjadi mahasiswa baru kemarin, banyak pertanyaan yang melayang ditelinga saya.

“Mbak ini mahasiswa S2 ya?” (mungkin melihat wajah saya yang masih imut, jadi selalu dikira mahasiswa S2)

“Alhamdulillah Bu, saya sudah lulus S2 tahun 2015 kemarin. Sekarang saya mahasiswa S3 MP.”

“Bu Hitta kerja dimana?” “mengajar dimana?”

“Saya mengajar anak anak saya di rumah. Dulu memang sempat membantu mengajar di almamater kampus saya. Namun setelah bertemu suami di sana, menikah, punya anak, kemudian saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pengabdian dan fokus ke anak-anak sambil menulis beberapa buku.”

“Ah masak? Bu Hitta ibu rumah tangga?”

“Yaa, betul… Saya ibu rumah tangga.”

“Suami Bu Hitta saja yang PNS dosen belum berangkat S3 kok malah membiayai istrinya yang ibu rumah tangga untuk sekolah S3?”

“Ya, banyak pertimbangan yang kami pikirkan. Suami saya mendorong saya tahun ini sekolah, karena beliau saat ini masih diberi amanah menjabat di jurusan, dan belum diizinkan oleh pimpinan universitas. sehingga saya tahun ini didorong untuk sekolah dulu. Harapannya, sambil menunggu saya lulus doktor, beliau telah mempersiapkan berangkat sekolah ke luar negeri.”

“Mengapa Bu Hitta mau sekolah S3 dengan kondisi anak-anak masih kecil dan lagi hamil tua? Apa ndak repot?”

“Kalau bicara repot, Ya jelas sangat repot. Bahkan ketika jam kuliah, saya harus mengajak anak anak ke kampus dan rela tidur di masjid selama menunggu saya kuliah pagi sampai malam. Suami saya rela menggantikan peran saya selama saya kuliah. Motivasi terbesar memang dari suami. Selain itu, yang paling penting adalah saya ingin membuka wawasan bagi ibu ibu rumah tangga, jangan puas hanya berpendidikan di jenjang SMA, Sarjana, bahkan Magister. Ibu rumah tangga harus berpendidikan setinggi tingginya. Tantangan mendidik anak semakin rumit. Karena tak mudah untuk menjadi IRT di era millenial seperti sekarang. Dulu mungkin cukup berbekal pendidikan SMA untuk menjadi IRT. tetapi era millenial seperti ini IRT harus berpendidikan tinggi, hingga Doktor jika perlu. Karena sangat butuh banyak pengetahuan, kemampuan mengatur emosi, kemampuan meneropong kebutuhan anak kita di masa 20th yang akan datang, menyiapkan strategi masa depan anak, dan yang paling penting mempersiapkan anak anak menjadi generasi Qur’ani.”

Baca Juga:  Agenda Islam terhadap Perempuan

Ketika kita berkontemplasi sejenak, akan menemukan jawaban bahwa sekolah bukan tujuan utama, sekolah hanya tujuan antara. Tujuan antara inilah yang akan menghantarkan kepada tujuan utama yaitu kembali pada Illahi Rabbi. Banyak cara manusia untuk meraih tujuan utamanya. Dan belajar seumur hidup adalah cara kami untuk meraih Ridho-Nya dan untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Hitta Alfi Muhimmah
Ibu Rumah Tangga, Penulis Buku Antologi Selang Kehidupan, 13 Pintu Rezeki, Skenario Langit Kehidupan, Lentera Perajut Asa, dan Literasi di Era Disrupsi, Founder Institut Talenta Pena, Mahasiswi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Perempuan