Ingatlah, ada segumpal daging di dalam tubuh manusia. Manakala daging itu baik, maka seluruh raganya juga akan baik. Sebaliknya, kalau ia rusak akan rusak pula seluruh raganya. Ketahuilah, segumpal daging yang dimaksud adalah hati (kalbu).” Lebih kurang demikian sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari seorang sahabat bernama Nu’man bin Basyir.

Melalui hadis ini seolah Rasul hendak menegaskan eksistensi kalbu manusia sebagai determinan atas setiap ucapan dan perbuatannya. Hati yang baik, bersih, dan bercahaya, menuntun manusia kepada tingkah laku terpuji. Sedangkan hati yang rusak, kotor, dan gelap gulita, mengarahkan manusia bertindak buruk.

Berkenaan dengan itu, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi (w. 1892 M) dalam Hasyiah I’anat al-Thalibin mengutip kalam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M). Bahwa salah satu perkara yang dapat menghidupkan cahaya hati ialah salat. Bukan sembarang salat, tetapi salat yang dilakukan secara sempurna, ikhlas karena Allah swt, dan terpenuhi syarat-syaratnya, baik lahir maupun batin.

Tentu tak mudah melaksanakan salat seperti itu. Karena itu, para ‘arif billah (orang-orang yang telah mencapai derajat ma’rifatullah atau mengenal Allah), memberikan beberapa resep menggapai salat yang sempurna.

Pertama, mempersiapkan diri dengan berwudu sebelum waktu salat tiba. Kedua, setelah masuk waktu salat, melaksanakan salat sunah rawatib terlebih dahulu. Salat sunah ini berfaedah menghilangkan kuduroh, yakni bercak hati akibat berbagai urusan dan kesibukan duniawi. Ketiga, memperbarui tobat atas semua dosa yang telah diperbuat. Keempat, jasmani menghadap kiblat sembari memposisikan rohani menghadap ke hadirat Allah.

Kelima, membaca surah an-Nas sesaat sebelum memulai salat. Keenam, mengawali salat dengan bertakbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan. Momen ini menjadi medium pengakuan seorang hamba akan keagungan dan ke-Mahabesar-an Tuhannya.

Baca Juga:  Tiga Hal yang Membersihkan Hati

Adapun kata akbar dalam lafal takbir, Allahu akbar (Allah Maha Besar), bukanlah bermakna Allah Maha Besar dibandingkan sekalian makhluk-Nya. Sebab, tidak ada sedikit pun ruang keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya, sehingga sama sekali tidaklah layak untuk memperbandingkan Allah dengan makhluk. Akan tetapi, kata akbar dalam lafal takbir bermakna keagungan Allah sejatinya jauh lebih agung daripada pengagungan yang dinyatakan dalam takbir.

Sebagai tambahan, di dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif karya Syekh Syihab al-Din Abu Hafs ‘Umar al-Suhrawardi (w. 1191 M), terentang kisah Syekh Abu Sa’id al-Kharraz (w. 1899 M). Sewaktu sufi asal Baghdad ini ditanya tentang bagaimana kaifiah salat yang sempurna. Al-Kharraz yang bernama asli Ahmad bin ‘Isa, lantas menjabarkan jawabannya sebagai berikut.

Pertama, hendaknya orang yang salat menghadap Allah seperti ihwalnya kelak menghadap-Nya pada hari kiamat. Kedua, hendaklah orang yang salat berdiri di hadapan Allah tanpa merasa ada sekat. Seakan-akan dia dapat merasakan Allah sedang mengawasi dirinya. Dengan begitu dia akan memaknai salatnya dengan kesungguhan bermunajat kepada Allah.

Lebih lanjut, dalam salah satu karyanya berjudul, al-Arba’in fi Ushul al-Din, Imam al-Ghazali menjelaskan makna salat yang sesungguhnya. Pertama, makna ucapan takbir (Allahu akbar atau Allah Mahabesar). Itu berarti orang yang salat mengakui benar-benar di dalam hatinya, bahwasanya tidak ada keagungan yang melebihi keagungan Allah yang Maha Besar.

Kedua, makna doa iftitah wajjahtu wajhiya (saya hadapkan wajah saya, dst.). Hal itu menunjukkan keutuhan hati orang yang salat dalam menghadap ke hadirat Allah, serta memalingkan perhatiannya dari apapun selain Allah. Ketiga, makna bacaan alhamdulillah (segala puji bagi Allah, dst.) dalam surah Alfatihah yang dibaca ketika salat. Adalah pemaknaan hati orang yang salat dengan penuh kesyukuran dan rasa bahagia atas aneka nikmat Allah yang telah dia peroleh selama ini.

Baca Juga:  Jangan Menunda Salatmu Karena Kesibukanmu

Keempat, ayat berikutnya dari surah Alfatihah, yakni iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, dimaknai oleh orang yang salat sebagai bentuk kesadaran diri atas segala kelemahan dan ke-tidakberdaya-annya selaku hamba. Selebihnya, makna bacaan ataupun gerakan salat yang lain diuraikan selengkapnya oleh Sang Hujjatul Islam dalam magnum opus-nya, yaitu kitab Ihya` ‘Ulum al-Din, jilid pertama.

Wal akhir, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Ankabut [29]: 45,

اتْلُ مَاأُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَاتَصْنَعُونَ

Bacalah Kitab (Alquran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Menurut Ibnu ‘Abbas (w. 687 M), tafsiran wa aqimish-sholaah adalah perintah Allah untuk menyempurnakan salat yang lima waktu. Sebab itu, di sini Allah memberikan garansi terhadap salat yang sempurna mampu mencegah manusia dari berlaku keji dan mungkar. Adapun yang dimaksud dengan perbuatan keji adalah tindakan durhaka kepada perintah Allah dan rasul-Nya, atau kemaksiatan. Sementara perbuatan mungkar merupakan segala apa yang tidak sesuai dengan Alquran dan Assunah.

Meski demikian, di penghujung ayat di atas, Allah menandaskan wa ladzikrullohu akbar. Ungkapan ini sebagai sebuah maklumat bagi kita, bahwa ingatnya Allah kepada kita berupa anugerah pahala dan ampunan-Nya, sungguh masih lebih besar daripada ingatnya kita kepada Allah melalui salat. Demikian penafsiran Ibnu ‘Abbas yang terdapat pada kitab Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Wa Allahu a’lam bis showab. [HW]

Ahmad Rijalul Fikri
Santri Ma'had Aly Situbondo dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibrahimy Situbondo Jawa Timur

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini