Press ESC to close

Tips Menjadi Zuhud Menurut Ihya’ Ulumuddin: Begini Penjelasan dari Gus Ulil

Dalam pengajian sebelumnya, episode ke-429, Gus Ulil menyampaikan bahwa ada lima prinsip yang harus dijalankan dalam mengelola tanggung jawab kekayaan, dan ini wajib dipatuhi oleh yang memiliki harta.

Pertama, memahami tujuan dari harta. Sebagai contoh, untuk apa harta itu diciptakan? Dengan memahami tujuannya, kita tidak akan mengumpulkannya secara berlebihan. Kedua, sumber harta. Penting untuk memastikan bahwa kekayaan diperoleh melalui cara yang halal. Gus Ulil memberikan contoh bagaimana para ulama dahulu menjauhi harta dari penguasa (raja) karena khawatir harta tersebut berasal dari penindasan terhadap rakyat. Ketiga, ukuran harta. Artinya, mengambil hanya yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari (tempat tinggal, pakaian, makanan) tanpa berlebihan. Keempat, ​bijaksana. Seseorang perlu berhemat dan menggunakan harta hanya untuk hal-hal yang memang menjadi haknya. Kelima, memperbaiki niat. Ketika mengambil atau memberikan harta, niatkan untuk ibadah. Jika sudah merasa cukup, salurkan kelebihan harta kepada mereka yang memerlukan.

Hakikat Makna Zuhud

قال علي رضيَ اللهُ عنهُ : لو أنَّ رجلاً أخذ جميع ما في الأرض وأراد به وجه الله تعالى .. فهو زاهدٌ ، ولو أنه ترك الجميع ولم يرد به وجه الله تعالى .. فليس بزاهد

Sayyidina Ali ra. Pernah berkata, “Jika seseorang memperoleh banyak harta dan memiliki seluruh kekayaan di dunia, tetapi tujuannya hanya untuk kebaikan, maka dia akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zuhud.”

Inilah yang diteladankan oleh Nabi Sulaiman a.s. meskipun dikelilingi oleh kekuasaan yang sangat besar dan bergelimang harta, ia tetap zuhud. Dari Nabi Sulaiman a.s. kita belajar bahwa zuhud berarti tidak memiliki harta dunia, melainkan kesucian hati dari kecintaan terhadap harta dunia.

Secara jelas, zuhud adalah suatu konsep di mana seseorang menjauh dari kesenangan duniawi. Dengan kata lain, mengasingkan diri dari keramaian hidup, menjalani kehidupan soliter, dan fokus beribadah sebagai persiapan untuk akhirat. Ia tidak terjebak dalam kebahagiaan mengenai apa yang dimilikinya dan tidak terlalu berduka atas apa yang hilang darinya.

Gus Ulil juga menegaskan agar kita tidak terjebak dalam keinginan menjadi kaya tanpa memahami hakikatnya. Misalnya, beranggapan, “Oh, sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf selain alim dan shaleh, ia juga sangat kaya raya. Aku juga ingin jadi kaya.”

Tentu saja, pandangan ini sangat salah, ungkap Gus Ulil. Karena jika alasannya seperti itu, ia hanya dapat meniru aspek luarnya saja dan tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Lebih jauh lagi, ia juga tidak dapat mengelola hartanya dengan baik.

Maka orang-orang seperti ini sangat mirip dengan anak kecil yang mencoba menjadi pawang ular berpengalaman ketika bermain dengan ular. Apa yang terjadi? Dia akan digigit oleh ularnya secara mati-matian. Seperti yang diceritakan Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ ulumuddin”, bunyinya:

هي دنيا كحية تنفث السم * وإن كانت المجسة لانت

Artinya: “Dunia ini bagaikan ular yang menyemburkan bisa, meskipun sentuhannya lembut.”

Syahdan. Jika ditanya, mana yang lebih penting (utama) antara orang kaya yang selalu bersyukur dan orang fakir yang sabar? Ulama tentunya tidak setuju satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa orang kaya yang selalu bersyukur lebih penting daripada orang fakir yang sabar.

Sebab jika kaya dan bersyukur, maka hartanya bisa bermanfaat bagi orang lain. Berbeda dengan fakir yang sabar, yang akan mendapatkan pahalanya adalah dirinya sendiri, dan orang lain tidak mendapatkan apa-apa.

Namun, ulama yang lain berkata, lebih utama fakir yang sabar daripada orang kaya yang selalu bersyukur. Kenapa demikian? Karena orang kaya yang selalu bersyukur, pada suatu waktu hartanya bisa menggoda, dan akhirnya dia akan terlena dengan gemerlapnya harta.

Begitulah dunia. Ia merupakan sumber kelalaian yang bisa menjauhkan manusia dari segala kebaikan, terutama dari Tuhannya. Oleh karena itu, sikapilah dunia sewajarnya saja, jangan berlebihan. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf

Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.