Pada santri NU aku cemburu. Cemburu akan militansi dan kepercayaan diri. Itu yang bikin saya cemburu. Mereka tak takut menjadi Muhammadiyah meski ada ribuan anggota dan kader jamiyah NU belajar di perguruan Muhammadiyah, mereka tak takut menjadi Syiah atau menjadi Wahabi meski ratusan lainnya belajar di Yaman, Ummul Qura, Qoum atau Teheran bahkan di perguruan tinggi Wahabi. Santri NU mewaSantri NU Mewarisi Pikiran Maju KH Ahmad Dahlanrisi pikiran maju Kyai Dahlan saya bilang.

NU adalah kekecualian—tutur Robbin Bush dalam sebuah risetnya tentang kekecualian NU. Santri NU cepat sekali bangkit dari kalah. Cepat moveon dan gampang melupakan kesalahan, kemudian merebut kembali dengan tingkat adaptasi tinggi. Santri NU membuang yang buruk-buruk dan kembali pulang membawa yang baik-baik dari semua yang ada, khas pikiran maju KH Ahmad Dahlan di awal pergerakan.

Santri NU bisa belajar di mana pun, di sekolah dengan manhaj dan idelogi yang bisa saja berlawanan dengan tradisi NU, itu biasa. Santri NU tetap militan dan tidak menanggalkan watak kulturalnya meski mengambil semua nilai-nilai modernitas: terbuka, dinamis dan inklusif.

Meski sudah bergelar doktor atau guru besar sepulang dari peguruan tinggi Muhammadiyah, Wahabi atau Syiah, santri NU tetap saja yasinan, tahlilan, dibaan, manakiban, tetap saja rajin berziarah dan berta’dzim pada para kyai, satu hal yang membuat aku cemburu : militansi.

Jadi tak perlu kaget arau terkejut jika banyak santri NU belajar di Iran, Yaman, Mesir, Sudan, China, Amerika, Eropa bahkan di perguruan Wahabi di Saudi— tak mengapa, yang penting bisa belajar dan mendapat beasiswa.

Anda bisa cek, berapa ratus santri NU bergelar doktor, atau PhD pulang dari luar negeri dalam setahun. Berapa ratus lainnya yang mengakses beasiswa di perguruan tinggi pemerintah dan swasta dalam setahun. Ada puluhan guru besar yang lahir dari tradisi pesantren dalam setahun —dahsyatnya mereka tetap menjadi santri NU militan. Jadi siapa bilang kalau santri NU itu kolot atau tradisional— itu hanya stigma yang menyesatkan dibuat para orientalis kala itu.

Baca Juga:  Akibat Pikiran Cingkrang

Santri NU bisa belajar di mana pun dari manhaj apa pun dan pulang tetap menjadi santri NU. Mereka tak pilih-pilih sebab punya kepercayaan diri yang kokoh. Mereka bergaul dan hadir di semua komunitas antar iman, antar ideologi atau manhaj tanpa takut berubah. Mereka terbuka dalam semua urusan mu’amalah, tapi eksklusif dalam urusan iman: tetap ber-madzhab, bertarekat dan berdzikir di majelis-majelis para kyai tanpa menanggalkan gelar modernitasnya.

Berbeda dengan sebagian yang lain, berubah dan melawan. Berubah menjadi Wahabi, berubah menjadi Salafi, berubah menjadi liberal, berubah menjadi sekuler, berkawan dengan orang kafer di sesatkan, bergaul dengan lain iman di tasyabuhkan dan menganggap rumput tetangga tampak lebih hijau, kemudian melawan tradisi di mana pernah dibesarkan. Hal mana sangat jarang terjadi pada santri NU. Dan jujur, aku cemburu.

Nurbani Yusuf
Komunitas Padang Mahsyar

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini