Pesantren.id-Pengurus Pusat Ikatan Siswa Abiturien TBS Kudus (PP IKSAB TBS Kudus) menyelenggarakan webinar dengan tema “Teologi Vaksinasi Covid-19; antara Keyakinan dan Keraguan”. Acara tersebut diselenggarakan dengan maksud mengupas tuntas perihal vaksinasi Covid-19 mulai dari aspek kesehatan, pendidikan sosial dan keagamaan.

M. Rikza Muqtada menjelaskan bahwa tujuan dari webinar tersebut adalah untuk menjelaskan secara komprehensif terkait vaksin Covid-19. Selain itu, webinar di atas inging memberikan rasa yakin kepada masyarakat tentang program vaksinasi Covid-19 serta menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam edukasi dan sosialisasi vaksin Covid-19. “Alhamdulillah peserta yang mendaftar melalui Google Form sebanyak 140 peserta terdiri dari 9 provinsi dan 35 Kabupaten Kota. Acara ini juga disiarkan secara live streaming melalui TBS Kudus TV dan TV NU. Laman TV NU via FB live sudah ditonton 1000 orang lebih” tutur Rikza.

Dalam webinar tersebut, M.Haidar Ulinnuha mengapresiasi kepada panitia khususnya divisi penguatan aswaja IKSAB TBS yang telah menyelenggarakan acara ini sebagai wujud kehadiran IKSAB dalam konteks edukasi dan sosialisasi vaksin Covid-19 kepada masyakarakat. Tak lupa Haidar menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama semua pihak sehingga acara berjalan dengan lancar dan sukses dan berharap selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan acara-acara webinar lain baik dari Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ), Forum Silaturahaim Keluarga Madrasah Banat NU Kudus (FORSIKABANU) dan Keluarga Himpunan Madrasah Mua’llimat Kudus (HIMMAHKU).

Prof. Ahmad Rofiq sebagai keynote Speaker menyampaikan bahwa MUI dalam penetapan fatwa MUI Nomor: 2/2021 tentang Vaksin Sinovac menggunakan standar yang sangat hati-hati, baik dari khasiat keamanan dan thayyib bagi manusia, baru ditetapkan kehalalannya. Sebelumnya, Tim MUI melakukan audit lapangan ke China di mana tempat vaksin tersebut diproduksi.

Baca Juga:  Indahnya Berbagi, PP IKSAB TBS Bagikan Ribuan Takjil

Selain itu, para ahli yang memiliki kompetensi dalam bidang vaksin juga dilibatkan dalam proses dan pembahasan fatwa tersebut. Karena itu, umat Islam dan bangsa Indonesia ini, dalam rangka melakukan ikhtiar untuk menghadang dan bersifat preventif, maka tidak perlu ragu lagi mengikuti program vaksinasi Covid-19.

Ahmad Syafii sebagai pembicara menjelaskan vaksin dari aspek khasiat dan keamananya. Ada 2 standar yang digunakan untuk mengukur manfaat vaksin yaitu efikasi dan efektivitas. Efikasi atau kemampuan vaksin dalam mencegah penyakit dan menekan penularan pada individu pada skala uji klinis fase ketiga. Syafii menjelaskan data efikasi 65,3% artinya dengan adanya kelompok yang divaksin misalnya 1 juta penduduk maka dapat menurunkan angka kasus Covid-19 sebesar 653.000.

Lebih lanjut lagi, dengan efikasi 65,3% Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberikan persetujuan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dan jaminan keamanan (safety), mutu (quality) serta kemanjuran (efficacy) bagi vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co.Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero). Artinya vaksin tersebut telah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh WHO yaitu di atas 50%.

Falihatul Ibriza menyampaikan urgensi vaksinasi yaitu vaksinasi memberikan kekebalan spesifik terhadap suatu penyakit tertentu sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut maka tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Yang kedua yaitu proteksi silang artinya orang yang tidak divaksin akan mendapatkan manfaat perlindungan melalui kekebalan kelompok (herd immunity) yang ditimbulkan dari cakupan vaksin yang tinggi tadi dan merata standarnya 70% penduduk Indonesia sudah divaksin (182 juta).

Alai’i Najib menuturkan bahwa sebuah survey Jeanet Bentzen di 95 negara hingga akhir Maret 2020 pencarian kata doa (prayer ) dengan google search menunjukkan bahwa mereka berdoa agar wabah ini segera selesai. 95 negara adalah angka yang menunjukkan lebih dari separuh penduduk bumi.

Baca Juga:  Indahnya Berbagi, PP IKSAB TBS Bagikan Ribuan Takjil

Penerimaan vaksinasi pun beragam; ada yang menerima ada yang menolak. Pihak yang menolak menyatakanvaksin sebagai konspirasi. Tetapi diakui atau tidak bahwa virus ini ada dan semua orang terkena dampaknya. Fenomena ini menjadikan manusia merefleksikan diri bahwa dibalik pandemi ada kuasa Tuhan sehingga cara ampuh adalah dengan berdoa agar pandemi segera berakhir, selain tentunya ikhtiar lahiriyah dengan vaksinasi dan menjaga protokol kesehatan.

Dr.KH. Shunhaji, MA menambahkan dengan adanya pandemi Covid-19 ini merubah tatanan pendidikan dari awalnya luring (offline) menjadi daring(online). Harapan wali murid pun ingin agar tatap muka diperbolehkan karena online tentu ada kelebihan dan kekuranganya. Ia juga menambahkan, vaksin menjadi bagian yang harus dipenuhi agar terwujud pembelajaran offline. “Dosen, tenaga pengajar termasuk prioritas memperoleh vaksin”, ucap pria pengurus IKAQ Jabodetabek.(HNZ)

Redaksi
Redaksi PesantrenID

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Berita