Press ESC to close

Salat Lima Waktu

Dalam tafsir al-Bahr al-madid, Syaikh Ibn ‘Ajibah menceritakan perihal riwayat para nabi terdahulu yang pertama kali melakukan salat pada waktu tertentu dan dikenal sebagai “salat wajib” bagi umat nabi Muhammad Saw.

Adalah nabi Adam As, ketika diturunkan dari surga ke dunia ini di waktu malam hari, dengan rasa takut akibat gulita yang menyelimuti sekujur pandangannya. Saat mendapati fajar, beliau pun salat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt. Inilah yang kita kenal sebagai salat Subuh.

Salat Zuhur, mulanya dilakukan oleh nabi Ibrahim As, sebagai ungkapan syukur karena telah menyelamatkan beliau dari galau akut: perintah penyembelihan, kekhawatiran terhadap putranya, rasa takut manakala istri beliau tidak menghendaki perintah tersebut dan kecemasan bila beliau tak sanggup menunaikan perintah Allah. Setelah ujian tersebut berakhir, waktu sudah menunjukkan tengah hari, beliau pun salat empat rakaat.

Nabi Sulaiman As adalah yang pertama salat Asyar, sebagai bentuk syukur atas anugerah kerajaan yang Allah anugerahkan kepadanya dari sang ayah, nabi Daud As.

Mendapat tuduhan sebagai salah satu dari tiga tuhan oleh sebagian kaumnya, nabi Isa As pun salat tiga rakaat di waktu matahari terbenam, untuk menunjukkan kehambaan beliau kepada Allah Swt dan melepaskan diri dari tuduhan tak bertanggung jawab yang dibuat oleh kaumnya. Di kemudian hari, salat ini kita kenal sebagai salat Magrib.

Sementara salat Isya' mula-mula dilakukan oleh nabi Yunus As, ketika beliau berhasil keluar dengan selamat dari ikan Nun yang telah menelannya.

Lalu, tambah Syaikh Ibn ‘Ajibah, nabi Adam juga orang yang berwudu pertama kali, sebagai bentuk penebusan kesalahan beliau ketika melanggar perintah dan makan buah dari pohon yang terlarang untuknya.

Ini semua merupakan rekam jejak para nabi yang disatukan dalam syariat nabi Muhammad Saw.

Wallahu A'lam. [HW]

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Samudra Rahmat Kasih Sang Pencipta
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.