Kisah

Mengenang KH. A. Wachid Hasyim: Perjalanan Terakhir menuju Sumedang 18 April 1953

Gambar:nuntb

Terhadap sosok almagfurlah KH. A. Wachid Hasjim, seharusnya kita katakan “Kitab Mu’tabar yang Belum Khatam”. Ini meminjam istilah Arif Mudatsir Mandan yang menyebut Subhan ZE sebagai “Buku Menarik yang Belum Selesai”.  

Begitu kesimpulan penulis seusai berdiskusi singkat dengan penggerak Komunitas Pegon Banyuwangi Ayung Notonegoro. “Nyaris semua sisinya telah ditulis,” jelasnya ketika penulis tanya apa lagi yang bisa ditulis tentang Kiai Wachid.

Mungkin kita bisa mulai dengan mengupas orang-orang yang terakhir kali “bersentuhan” dengan Kiai Wachid. Ada Argo Sutjipto, A. A. Achsien, KH. Izuddin, KH Ahmad Falah, atau tentang sopirnya yang bernama Djuhari. Argo Sutjipto adalah wartawan yang menyertai perjalanan Kiai Wachid dan ikut wafat. 

Alwi Abubakar Achsien adalah Pengurus Besar Partai NU, yang tinggal di Bandung. Ia yang mengurus Kiai Wachid dan Argo sejak masuk ke Rumah Sakit Boromeus hingga dibawa ke Jakarta. Rumahnya di Bandung jadi tempat aktivis muda NU kongkow dan berdiskusi. Ia wartawan dan penulis dan pernah menjai Duta Besar RI di Iran.

KH Izzuddin adalah pengasuh pesantren Cibeureum Kidul yang menghibur Gus Dur dengan mengajaknya singgah ke pesantren, saat ayahnya dirawat sementara di RS Cibabat, Cimahi. Pesantrennya salah satu yang tertua di Priangan, yang berdiri sejak abad ke-17.

Ahmad Falah adalah Ketua NU Sumedang yang mengundang langsung Kiai Wachid ke Kantor PBNU di Jakarta. Setelah menunggu dua hari dua malam, akhirnya ia bersua Kiai Wachid yang baru kembali dari Palembang. Falah sempat dibawa ke kediaman Kiai Wachid dan diberi seperangkat pakaian. Saat mesantren di Sukamiskin tahun 1932, Falah membantu Mama Gedong menyiapkan Muktamar NU 1932. Ketika mengaji di Menes 1938, ia juga ikut jadi panitia Muktamar Menes 1938.

Baca Juga:  PMII, NU dan Peta Gerakan Islam Pascareformasi

Namun, melalui tulisan singkat ini, penulis masih ingin kembali ke Jalan Raya Cibeureum, Kota Cimahi, Sabtu, 18 April 1953. Ingin coba mencari detail mengenai peristiwa tragis itu.  Karena tidak memungkinkan untuk melacak data koran berbahasa Indonesia ke Perpustakaan Nasional, dalam kondisi work from home, penulis hanya bersandar pada data dari delpher.nl. Sejumlah media berbahasa Belanda yang masih terbit pada tahun 1950-an, ternyata menurunkan berita tentang peristiwa itu.

Wahid Hasjim overledenBij auto-ongeluk Tjimahi Bandung, demikian  judul dalam Java-bode  nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-04-1953. Wahid Hasjim wafat. Kecelakaan mobil di Cimahi Bandung.

Koran yang sama pada 22-04-1953 menurunkan judul, Auto-ongeluk K. Wachid Hasjim Mede-passagier Argo Sutjipto ook om het leven gekomen. Kecelakaan mobil K. Wachid Hasjim, sesama penumpang Argo Sutjipto juga tewas. Dalam berita ini disertakan pengakuan sopir yang bernama Djuhari.

Sementara judul Het auto ongeluk van W. Hasjim, diturunkan oleh Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-04-1953. Kecelakaan mobil Wachid Hasjim.

Dari sejumlah berita itu diperoleh keterangan bahwa kecelakaan terjadi di Cibeureum, Cimahi, pada hari Sabtu, sekitar jam 11.30 siang. Sementara menurut keterangan A. A. Achsien dalam informasi resmi PBNU, peristiwa terjadi jam 13.00.

Menurut Djuhari, saat itu jalanan licin akibat hujan. Tiba-tiba dari arah berlawanan terlihat sebuah truk. Djuhari panik sehingga mobil agak oleng. Pada saat itulah Kiai Wachid dan Argo secara refleks melompat dari kendaraan. Rupanya kedua tokoh ini menduga mobil Chevrolet Cabriolet yang mereka naiki akan menabrak truk.  Keduanya mendapatkan benturan keras yang mengakibatkan luka dalam di bagian kepala. Sesaat kemudian Djuhari berhasil menguasai kembali mobilnya dan hanya “berciuman” dengan truk itu, mengakibatkan goresan kecil dan sedikit penyok. Djuhari dan putra sulung Kiai Wachid yang bernama Abdurrachman atau Gus Dur yang duduk di depan, tak kurang suatu apa.

Baca Juga:  Pidato Pembukaan Rangkaian Hari Lahir Nahdlatul Ulama

Lokasi kecelakaan itu, menurut H. Dadang Nawawi, putra KH Izuddin, tepat di depan kantor BPKP Jawa Barat saat ini. Tepatnya di Jalan Raya Cibeureum atau Jl. Amir Machmud No. 50 Cimahi. Kontur jalannya lurus. Selain karena jalan licin, ada kemungkinan juga sopir sudah mulai kurang konsentrasi karena perjalanan jauh dari Jakarta. Pada masa itu, belum berlaku keharusan menggunakan seatbelt untuk sopir dan penumpang di bagian depan, apalagi untuk penumpang di kursi belakang.

Menurut Zainaldi Zainal, aktivis NU di Bandung, kedua korban segera dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu RS Cibabat Cimahi.  Pada saat yang sama, Gus Dur kecil dibawa singgah ke Pesantren Cibeureum Kidul oleh KH Izuddin. Setelah terhubung dengan A. A. Achsien, kemudian diatur pemindahan perawatan ke RS Boromeus di Kota Bandung, tak jauh dari kampus ITB.

Nahdliyin Sumedang yang sudah berkumpul sejak pagi untuk memperingati Harlah NU, dibuat bertanya-tanya. Kiai Wachid yang sudah berjanji untuk hadir, tak kunjung tiba. Baru sore hari mereka mendapat kabar tentang kecelakaan itu.

Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih 24 jam, Kiai Wachid wafat pada jam 14.00 WIB. Tak seberapa lama, Argo pun menghembuskan nafas terakhirnya. Dari RS Boromeus kedua jenazah dibawa ke Jakarta dengan dikawal oleh Brigade Mobil.

Jenazah KH. A. Wachid Hasjim kemudian disemayamkan di kediaman di Jalan Jawa dan keesokan harinya dibawa dengan pesawat ke Surabaya untuk kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Tebuireng, Jombang. Ungkapan duka cita pemerintah, disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Prawoto Mangkusamito.

A. Achsien atas nama PBNU menyampaikan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak yang telah membantu proses pengurusan jenazah KH. A. Wachid Hasjim dan Argosutjipto. Sejak dari Bandung dan pengawalan ke Jakarta. Ucapan terima kasih (Dankbetuiging) itu dimuat dalam Preangerbode, 21 April 1953.

Baca Juga:  Siasat Pembubaran Banser, NU Dibidik?

30 April 1953, Java Bode menurunkan berita duka cita resmi dari keluarga Kiai Wachid.

Telah meninggal suami, ayah, anak kami tercinta:

A. Wachid Hasjim

Pada tanggal 19 April 1953 di rumah Sakit Boromeus Bandung akibat kecelakaan mobil dan dimakamkan di Tebuireng Jombang.

Atas bantuan pembesar-pembesar Pemerintah sipil, militer, moril maupun materil, dan kepada segenap masyarakat yang telah memberikan penghormatan dari Bandung, Jakarta sampai Surabaya kami menyatakan terima kasih.

Yang berduka cita:

Ny. Wachid Hasjim, KH. Bisry, Abdurrachman, Solachoeddin, ‘Aisah, Umar, dan Lili Chodidjah.

Belum tercantum nama si bungsu Hasjim, karena ia masih dalam kandungan ibunya. Saat Kiai Wachid wafat, Ibu Solechah sedang mengandung tiga bulan anak bungsunya itu. 

Kiai Wachid sudah 67 tahun meninggalkan kita, dalam perjalanannya menuju Sumedang, untuk menghadiri peringatan Harlah NU. Sebagai Kitab Mu’tabar rujukan untuk bidang pengembangan pesantren, ukhuwwah islamiyah, kementrian agama, perguruan tinggi Islam, politik kebangsaan, dan lain-lain, penulis yakin masih ada cukup celah untuk dijadikan penelitian dan kajian. Wallahu a’lam.

Artikel ini sebelumnya juga tayang di http://alif.id

Iip D Yahya
Penulis Buku "Biografi Oto Iskandar Di Nata: The Untold Story" dan "Ajengan Cipasung: Biografi KH. Moh. Ilyas Ruhiat".

Rekomendasi

Murid Itu Rezeki
Hikmah

Murid Itu Rezeki

Pada awal tahun ajaran seperti ini, pasti banyak santri baru yang mendaftar mondok. ...

Tinggalkan Komentar

More in Kisah