Press ESC to close

Keseimbangan adalah Tujuan Hidup Seorang Muslim

Ada satu doa pendek yang diajarkan Allah Swt. melalui Al-Qur’an kepada kita semua. Doa pendek ini merefleksikan tujuan hidup kita sebagai seorang muslim. Anda tahu! Seseorang seringkali menyebut doa ini sebagai doa sapu jagat. Bunyinya:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Dunia dan seluruh isinya merupakan tujuan hidup jangka pendek dari setiap pribadi muslim. Ia adalah tujuan jangka pendek yang mengantarkan muslim untuk meraih tujuan jangka panjang yaitu, akhirat dan ridha Allah Swt.

Untuk kedua tujuan ini, Islam mengajarkan nilai keseimbangan yaitu, “Bekerjalah buat duniamu seolah kau akan hidup selamanya, tetapi bekerjalah buat akhiratmu seolah kau akan mati besok”.

Nilai keseimbangan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya, bagaimana si kaya harus membantu yang miskin? Demikian juga bagaimana si miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain.

Ini semua merefleksikan adanya nilai keseimbangan. Jadi seakan-akan, ini dunia ambil apa yang perlu, nikmati apa yang boleh. Kalau bisa jangan gagal kamu di dunia ini. Akan tetapi, kalaupun kau gagal di dunia, kamu masih punya akhirat. Inilah sumber optimisme kehidupan seorang muslim.

Kenapa harus akhirat? Sebab, jika mempunyai akhirat, caranya untuk mencapai dunia bisa diwarnai oleh keyakinan terhadap adanya akhirat nanti. Inilah yang menyebabkan seorang muslim berbeda dengan yang lain dan dia tidak terjebak menghalalkan sebuah cara untuk mencapai satu tujuan.

Tentu saja, keyakinan adanya akhirat bisa melahirkan etika dalam kehidupan seorang muslim pada cara bagaimana dia mencapai dunia ini. Dengan kata lain, seorang muslim tidak mudah terjebak untuk menghalalkan cara karena dunia ini sifatnya jangka pendek.

Sekali lagi, inilah yang membedakan muslim dengan yang lain. “Iya sih, saya kepengin kaya, tapi kalau korupsi akhirat saya bagaimana nanti?” sifat-sifat seperti ini akan melahirkan etika pada tata cara mencapai kehidupan dunia dan tidak terjebak menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan.

Mencapai dunia dan akhirat

Nah, seorang muslim yang baik tentu yang pandai meraih dua tujuan ini. Mencapai “fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah”. Sementara Rasul pernah mengajarkan bukan orang yang terbaik dari kamu orang yang hanya mengejar dunia dengan menyia-nyiakan akhiratnya.

Seperti juga bukan orang yang terbaik yang mengutamakan akhirat dengan menyia-nyakan dunianya. Akan tetapi, orang yang terbaik adalah orang yang pandai meng-combine antara keperluan dunia dan kepentingan akhirat nanti.

Untuk mencapai tujuan ini, tujuan dunia sebagai tujuan jangka pendek bisa dicapai dengan ilmu, sains, pengalaman dan nasib. Makin banyak ilmu, makin mudah meraih dunia.

Demikian juga, makin syarat dengan pengalaman makin mudah meraih dunia atau karena faktor nasib lalu kita bisa meraih dunia. Sementara akhirat hanya bisa diraih dengan prestasi ibadah kepada Allah Swt.

Jadi, dunia kita capai dengan prestasi ilmu, pengalaman atau karena faktor nasib. Sementara, akhirat kita capai hanya dengan prestasi ibadah kepada Allah Swt. Kalaupun ada efek dunianya dari shalat, puasa, haji dan zakat kita itu hanyalah sekedar “side effect”, akan tetapi sasaran utama adalah akhirat dan ridha Allah Swt.

Untuk mencapai dua tujuan fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah Allah Swt. memberikan alat. Dalam surah At-Taubah ayat 111 Allah Swt. berfirman:

۞ اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١١١

Artinya:Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 111).

Ayat ini merupakan transaksi yang sangat transparan. Pembeli adalah Allah Swt.  dan penjual adalah orang-orang beriman. Dagangannya adalah amwal dan anfus, harta dan diri. Harganya adalah surga. Sekali harta dan diri sudah kita jual kepada Allah Swt., tentu tidak akan kita jual lagi kepada yang lain.

Dengan kata lain, harta itu adalah semua bentuk materi yang kita kuasai seperti, uang, tanah, kebun, pabrik dan sebagainya. Lalu yang dimaksud dengan anfus adalah semua kekayaan yang ada dalam pribadi kita seperti, konsep, pikiran, ide, wewenang, jabatan, kemampuan dan skill.

Untuk tujuan jangka pendek, harta dan diri harus jadi rahmah bagi lingkungan. Sementara untuk tujuan jangka panjang, harta dan diri harus menunjang jalan menuju ridha Allah Swt. Itulah jalan kalau kita ingin mencapai fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah.

Lebih dari itu, yang alat jadikan dia sebagai alat. Jangan dia dijadikan sebagai tujuan. Sekali alat kita jadikan tujuan, maka kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya.

Begitulah sang waktu sering menggeser alat menjadi tujuan. Tujuan kita adalah kekuasaan, kekayaan, popularitas dan menghimpun segala macam kekuatan. Padahal, hal itu hanya cuma sekedar alat untuk mencapai fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah.

Sekali lagi, kalau alat kita jadikan tujuan, maka kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya, dan akhirnya kita akan terjerat kepada fatamorgana. Kita sangka dan mengira itulah tujuannya serta merasa sudah sampai kepada titik yang kita tuju, akan tetapi ia cuma pandangan yang menipu saja. Akhirnya, kita terjerat dalam arus siklus yang berkali-kali diperingatkan oleh Al-Qur’an. Dikatakan:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ۝١ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ ۝٢ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ ۝٣ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ۝٤ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ ۝٥

Artinya: “Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya)”. (QS. At-Takatsur [102]: 1-5).

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa kamu (muslim) telah celaka lantaran berlomba-lomba menjadikan alat sebagai tujuan. Karena itu, gunakanlah alat sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan bukan malah alat yang dijadikan tujuan.

Berapa banyak pun harta kita miliki, dia hanyalah alat. Begitu juga setinggi apapun kedudukan yang kita capai, dia juga hanyalah alat. Dan sebanyak apapun ilmu pengetahuan yang kita kuasai, dia hanyalah sekedar alat untuk mencapai fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah.

Syahdan. Disinilah pentingnya keseimbangan. Sebab, kalau tidak ada nilai keseimbangannya, maka seorang muslim akan mengalami kepincangan gaya hidup. Bahkan, tidak mustahil akan terjebak pada materialisme, hedonisme yang pada akhirnya mengantarkannya kepada fatamorgana. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf

Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.