YOGYAKARTA — Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi diluncurkan dalam kegiatan Launching JPN DIY dan Seminar Kesehatan Mental yang digelar di Kantor DPD RI DIY, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Merawat Kesehatan Mental, Membangun Kemaslahatan: Pendekatan Sistem dalam Kesehatan Mental.”
Peluncuran JPN DIY menjadi langkah untuk memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental melalui pendekatan psikologi yang dialogis dengan nilai-nilai keislaman, tradisi Nahdlatul Ulama (NU), serta kehidupan keluarga, masyarakat, dan pesantren.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan pegiat kesehatan mental, di antaranya anggota DPD RI DIY Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A., Ketua PWNU DIY Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, serta Ketua JPN DIY Dr. Hj. Maya Fitria, S.Psi., M.A. Penasihat JPN, Alissa Wahid, M.Sc., Psikolog, turut menyampaikan sambutan melalui rekaman video karena sedang berada di Bangkok dalam agenda Partnership on Religion and Development.
Table of contents [Show]
- 1 Kesehatan Mental Tanggung Jawab Bersama
- 2 JPN DIY Perkuat Kepedulian Psikologis Berbasis Nilai Keislaman
- 3 Hilmy Muhammad Tekankan Martabat Manusia
- 4 Keluarga dan Pesantren Menjadi Ruang Penting Kesehatan Mental
- 5 Skrining, Pencegahan Kekerasan, dan Lingkungan yang Aman
- 6 Peluncuran Ditandai Pemotongan Tumpeng
Kesehatan Mental Tanggung Jawab Bersama
Seminar dipandu oleh Ahmad Faozi, S.Psi., M.Pd. Dalam pengantarnya, ia menekankan bahwa kesehatan mental bukan hanya urusan psikolog atau tenaga profesional, melainkan menjadi perhatian bersama. Berbagai profesi dan lingkungan sosial, mulai dari keluarga, pendidik, dosen, hingga pengasuh pesantren, memiliki keterkaitan dengan persoalan kesehatan mental.
Ahmad Faozi mengajak peserta membangun kebiasaan mendengarkan sebelum memberikan nasihat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali terburu-buru memberikan saran kepada orang yang sedang menghadapi masalah, tetapi belum tentu menyediakan ruang yang cukup untuk mendengarkan.
Kemampuan mendengarkan menjadi salah satu langkah awal untuk memahami kondisi dan kebutuhan seseorang. Kepedulian terhadap kesehatan mental tidak cukup diwujudkan melalui nasihat, tetapi juga melalui empati, penerimaan, dan kesediaan mendampingi.
Ia juga mengingatkan bahwa perhatian terhadap kondisi psikologis manusia bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru dalam tradisi Islam. Pengalaman kesedihan dan kehilangan, termasuk peristiwa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, dapat menjadi pintu refleksi tentang pentingnya memahami pengalaman emosional manusia.
JPN DIY Perkuat Kepedulian Psikologis Berbasis Nilai Keislaman
Ketua JPN DIY, Dr. Hj. Maya Fitria, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa gagasan pembentukan JPN telah tumbuh sejak masa pandemi COVID-19, sekitar empat tahun sebelumnya. Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang kolaborasi bagi kalangan psikologi Nahdliyin agar dapat berkontribusi terhadap persoalan kesehatan mental di masyarakat.
JPN juga pernah diperkenalkan secara awal dalam momentum Muktamar NU ke-35 di Jombang. Kini, melalui peluncuran di DIY, jejaring tersebut berupaya memperkuat peran dan kolaborasi lintas bidang dalam memberikan perhatian terhadap persoalan psikologis.
Maya menjelaskan bahwa kesehatan mental perlu dipahami melalui pendekatan sistem. Kondisi psikologis seseorang tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh berbagai lingkungan yang saling berhubungan, mulai dari individu, keluarga, komunitas, lembaga, hingga kebijakan publik.
Karena itu, penanganan persoalan kesehatan mental perlu mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Dalam lingkungan Nahdliyin, pendekatan psikologi dapat dikembangkan melalui dialog dengan nilai keislaman, tradisi pesantren, dan semangat kemaslahatan.
JPN DIY juga membuka ruang partisipasi bagi kalangan psikolog maupun individu berlatar pendidikan magister psikologi untuk berkontribusi sesuai kompetensi dan kapasitas masing-masing.
Hilmy Muhammad Tekankan Martabat Manusia
Anggota DPD RI DIY, Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A., menyampaikan pentingnya membangun perhatian terhadap kesehatan mental yang berpijak pada tradisi intelektual Islam dan NU.
Persoalan kesehatan mental perlu dilihat dengan tetap menjunjung tinggi martabat manusia. Orang yang mengalami persoalan psikososial tidak semestinya mendapatkan stigma, pengucilan, atau perlakuan yang merendahkan kemanusiaannya.
Dalam konteks tersebut, praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan psikososial menjadi persoalan yang harus ditolak. Pendekatan yang mengedepankan penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian, dan pendampingan perlu diperkuat agar masyarakat mampu memberikan dukungan yang lebih manusiawi.
Sementara itu, Ketua PWNU DIY, Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, menyambut baik kehadiran JPN DIY. Ia berharap jejaring ini dapat menjadi bagian dari penguatan khidmah Nahdliyin melalui pengembangan pengetahuan dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kehadiran JPN diharapkan turut menumbuhkan komunitas intelektual yang mampu menghubungkan keilmuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Keluarga dan Pesantren Menjadi Ruang Penting Kesehatan Mental
Seminar menghadirkan tiga pemateri dengan pembahasan yang saling melengkapi. Maya Fitria menyampaikan materi mengenai kesehatan mental secara umum dan pentingnya pendekatan sistem dalam memahami kondisi psikologis manusia.
Pemateri kedua, Nurmey Nurulchaq, S.Psi., M.A., Psikolog, membahas “Menjaga Kesehatan Mental Keluarga: Kesehatan Mental dari Perspektif Keluarga Maslahah.”
Dalam perspektif keluarga, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kondisi satu anggota keluarga, tetapi juga dengan hubungan dan pola interaksi antaranggota. Keluarga merupakan sebuah sistem yang saling memengaruhi. Karena itu, persoalan yang dialami seseorang perlu dipahami dengan memperhatikan dinamika keluarga secara keseluruhan.
Pendekatan keluarga maslahah menempatkan hubungan yang sehat, kepedulian, dan penerimaan sebagai bagian penting dalam membangun lingkungan keluarga yang mendukung kesejahteraan psikologis. Salah satu prinsip yang relevan adalah positive unconditional regard, yakni sikap menerima dan menghargai seseorang sebagai manusia tanpa menjadikan penerimaan tersebut semata-mata bergantung pada perilaku atau pencapaiannya.
Pemateri ketiga, Rosma Fiky Kamala, S.Psi., M.Sc., M.Psi., Psikolog, membahas “Skrining Kesehatan Mental dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental dalam Pesantren.”
Ia menekankan pentingnya skrining kesehatan mental sebagai langkah deteksi dini untuk mengenali kebutuhan dukungan psikologis. Skrining bukanlah diagnosis, melainkan salah satu cara awal untuk mengetahui apakah seseorang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Apabila ditemukan indikasi masalah, tindak lanjut perlu disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk pendampingan maupun rujukan kepada tenaga profesional yang kompeten.
Dalam lingkungan pesantren, perhatian terhadap kesehatan mental perlu mencakup seluruh unsur, baik santri, pengasuh, maupun pengelola. Upaya pencegahan, perlindungan, penciptaan lingkungan belajar yang aman, dan pengurangan stigma menjadi bagian penting dalam membangun pesantren yang mendukung kesejahteraan psikologis warganya.
Skrining, Pencegahan Kekerasan, dan Lingkungan yang Aman
Diskusi bersama peserta turut mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasan mencakup kebutuhan skrining bagi anak, remaja, santri, guru, dan pengasuh, serta pentingnya pencegahan kekerasan dan penguatan hubungan antara orang tua dengan anak.
Peserta juga menyoroti perlunya dukungan bagi para pengelola dan pendidik di pesantren. Mereka memiliki peran penting dalam mendampingi santri, tetapi juga membutuhkan lingkungan dan sistem pendukung agar dapat menjalankan tugas dengan baik.
Berbagai pembahasan tersebut menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan mental tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Keluarga, lembaga pendidikan, pesantren, komunitas, dan pemangku kebijakan perlu membangun kerja sama agar persoalan psikologis dapat dikenali dan ditangani secara tepat.
Skrining yang dilakukan dengan tepat perlu disertai tindak lanjut yang jelas. Demikian pula, edukasi kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan penciptaan lingkungan yang aman, pencegahan kekerasan, serta penguatan budaya saling mendengarkan dan menghargai.
Peluncuran Ditandai Pemotongan Tumpeng
Peluncuran JPN DIY ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol dimulainya langkah bersama dalam memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental.
Dalam prosesi tersebut, Maya Fitria menyerahkan tumpeng kepada Gus Hilmy, sedangkan tumpeng kedua diserahkan oleh Sekretaris JPN DIY kepada KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor.
Prosesi ini menjadi penanda harapan agar JPN DIY dapat tumbuh sebagai jejaring yang terbuka, kolaboratif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pada bagian penutup, Maya Fitria kembali menegaskan pentingnya pencegahan dan kolaborasi dalam menjaga kesehatan mental. JPN DIY membuka peluang kerja sama dengan berbagai organisasi, lembaga, komunitas, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental.
Melalui peluncuran ini, JPN DIY diharapkan menjadi ruang pertemuan antara keilmuan psikologi, nilai-nilai keislaman, tradisi Nahdliyin, dan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan yang menyeluruh, kepedulian terhadap kesehatan mental diharapkan tidak berhenti pada penanganan masalah, tetapi juga berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun keluarga, pesantren, dan masyarakat yang lebih sehat serta berdaya.
Penulis: Rimaya