Press ESC to close

Gus Rozin: Yang Saya Kenal

"Catatan Kecil di Usia 50 Tahun: Tentang Seorang Santri yang Ditempa Pesantren dan Kehidupan*

Hari ini, KH. Abdul Ghaffar Rozin, atau yang akrab saya panggil Gus Rozin, genap berusia 50 tahun.

Bagi sebagian orang, usia hanyalah angka. Tetapi bagi saya, usia 50 tahun Gus Rozin adalah penanda sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita.

Kami lahir di tahun yang sama, 1976. Hampir tiga dekade saya mengenal beliau. Saya mengenalnya ketika beliau masih seorang santri, jauh sebelum nama beliau dikenal sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah, Ketua Majelis Masyayikh, atau salah satu tokoh penting dalam dinamika Nahdlatul Ulama.

Saya mengenalnya bukan hanya sebagai seorang tokoh. Saya mengenalnya sebagai santri.

Sebagai seorang sahabat yang pernah berdiskusi, berbeda pandangan, berbagi kegelisahan, dan menyaksikan banyak potongan kecil perjalanan hidupnya yang mungkin tidak banyak diketahui orang.

Putra Kiai Besar yang Tetap Harus Menjadi Santri

Pertama kali saya mengenal Gus Rozin ketika sama-sama berada dalam lingkungan Pesantren Maslakul Huda Kajen. Beliau adalah putra KH. MA Sahal Mahfudh, sementara saya santri dan adik kelasnya di Mathali'ul Falah.

Maslakul Huda bukan hanya tempat belajar kitab. Ia adalah ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.

Di bawah bimbingan Kiai Sahal, kami belajar bahwa seorang santri tidak cukup hanya memahami teks agama. Santri harus mampu membaca kehidupan. Harus mampu menjawab persoalan zaman. Ilmu harus berubah menjadi amal, dan gagasan harus bermuara pada kemaslahatan.

Dari Kiai Sahal kami belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kedudukan, tetapi tentang pengabdian.

Dan nilai itu yang saya lihat perlahan tumbuh dan hidup dalam diri Gus Rozin.

Banyak orang mengenal beliau sebagai putra KH. MA Sahal Mahfudh, seorang ulama besar yang memiliki tempat penting dalam sejarah NU dan bangsa ini.

Tetapi bagi saya, yang menarik bukanlah nama besar yang beliau warisi.

Yang menarik adalah bagaimana Kiai Sahal mendidiknya.

Kiai Sahal tidak membentuk Gus Rozin menjadi seseorang yang hidup dengan fasilitas dan kemudahan. Beliau justru mendidiknya untuk memiliki ketahanan dan kemandirian sejak dini. 

Gus Rozin tetap harus menjalani kehidupan sebagai santri, mengikuti aturan pondok, berinteraksi dengan banyak orang. Menerima tamu mulai dari masyarakat sampai pejabat, dari bupati sampai menteri, beliau diajar bagaimana menghadapi berbagai situasi dan kondisi. 

Bahkan sebagai putra pengasuh pesantren, beliau juga menjalani proses kaderisasi kepemimpinan di Maslakul Huda seperti santri lain dengan menjadi ketua Presidium. Sebuah sistem pendidikan komprehensif yang membentuk santri untuk belajar mengelola organisasi, menjadi pemimpin, sekretaris, bendahara, sekaligus menjalankan tanggung jawab pondok.

Di situ saya melihat satu hal, Gus Rozin tidak dibentuk oleh nama besar keluarganya. Beliau dibentuk oleh proses dan didikan karakter yang panjang. 

Ditempa Kemandirian dan Keberanian Berijtihad

Salah satu hal yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana Kiai Sahal menanamkan kemandirian kepada Gus Rozin.

Beliau tidak ingin putranya menjadi orang yang selalu bergantung pada keadaan. Beliau ingin Gus Rozin memiliki daya juang, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan mencari jalan keluar.

Karena itu perjalanan Gus Rozin bukan hanya perjalanan akademik, tetapi perjalanan membangun karakter.

Saya melihat bagaimana beliau pernah menjalani masa-masa sederhana. Pernah memelihara kambing ketika di Pesantren Kewagean. Pernah mencoba berbagai usaha. Pernah mengalami fase jatuh bangun dalam kehidupan.

Ketika kemudian hidup di Jakarta, beliau tetap melewati proses sebagai orang biasa lainnya, berusaha, mencari pengalaman, dan bertahan dalam keadaan yang tidak selalu mudah.

Beliau pernah berjualan kain meteran, pernah menjadi makelar mobil untuk bertahan hidup di Jakarta. 

Bagi sebagian orang mungkin itu bukan cerita besar. Tetapi bagi saya, justru di situlah karakter seseorang ditempa, padahal bisa saja Kiai Sahal memberikan fasilitas dan akses yang dengan mudah didapatkannya.

Karena pribadi yang kuat tidak dibentuk oleh fasilitas dan sekian kemudahan, namun sering kali justru dibentuk oleh masa-masa sulit ketika ia harus berjuang.

Ada satu pesan Kiai Sahal yang selalu saya ingat dari cerita Gus Rozin.

Menjelang wafat, Kiai Sahal memanggil beliau dan berpesan:

"Ijtihato."

"Ijtihato."

"Ijtihato."

Tiga kali.

Bagi saya, pesan itu sangat dalam, Kiai Sahal tidak hanya meminta Gus Rozin untuk berpikir. Beliau meminta putranya untuk berani membaca zaman, mencari jalan baru dan menghadirkan jawaban atas setiap persoalan kehidupan.

Sahabat yang Hadir Ketika Saya Hampir Menyerah

Ada banyak cerita kecil yang hanya diketahui dan dirasakan oleh orang-orang dekat.

Salah satunya adalah ketika saya berada dalam fase penuh keraguan tentang jalan hidup saya.

Saat itu saya baru menikah. Saya mulai berpikir untuk mengambil jalan yang lebih aman dengan mendaftar menjadi pegawai negeri, meninggalkan cita-cita yang selama ini saya yakini.

Tetapi Gus Rozin justru menguatkan saya.

Beliau mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh terlalu cepat menyerah terhadap jalan yang diyakininya.

Yang paling saya ingat, beliau tidak hanya memberikan nasihat. Beliau memberikan dukungan nyata agar saya berani memulai usaha.

Bagi saya, yang beliau berikan bukan sekadar bantuan materi.

Beliau mengembalikan keyakinan saya kepada diri sendiri.

Mengajarkan bahwa dalam hidup, ada nilai yang harus tetap dijaga dan ada jalan yang harus diperjuangkan.

Melihat Pribadi di Balik Seorang Tokoh

Ketika masih muda, terutama saat saya kuliah di Jogja, Gus Rozin sering mengajak saya menemani berbagai agenda.

Kami banyak berdiskusi tentang pesantren, organisasi, kehidupan, dan masa depan.

Saya masih ingat, bukan tempat-tempat yang kami datangi yang paling membekas.

Tetapi percakapan-percakapan kami.

Dari situlah saya melihat cara beliau berpikir. Cara beliau membaca keadaan. Cara beliau menghargai orang lain.

Semakin lama mengenal seseorang, kita akan melihat karakter sejatinya.

Dan satu hal yang saya rasakan dari Gus Rozin, beliau adalah orang yang sangat menghargai orang lain.

Beliau tidak mudah memaksakan kehendak. Tidak mau mengambil hak orang lain. Tidak terburu-buru menghakimi tanpa data dan alasan yang jelas. 

Bahkan ketika menghadapi perbedaan atau kekecewaan, beliau selalu mencoba mencari jalan yang paling manusiawi terlebih dahulu.

Bagi saya, itu bukan kelemahan, itu adalah kedewasaan.

Karena tetap menjaga rasa kemanusiaan ketika memiliki kewenangan adalah sesuatu yang tidak mudah.

Pesantren sebagai Jalan Pengabdian

Bagi Gus Rozin, pesantren bukan sekadar identitas, pesantren adalah jalan hidupnya. 

Beliau bukan hanya lahir dari pesantren, tetapi tumbuh, besar dan bekerja, serta mengabdikan diri sepenuhnya untuk pesantren.

Bagi beliau, pesantren bukan hanya masa lalu yang harus dikenang, tetapi masa depan yang harus diperjuangkan.

Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu dan akhlak, pesantren adalah ruang untuk membangun masa depan umat dan peradaban.

Karena menjadi santri sejati bukan hanya tentang dari mana seseorang berasal.

Tetapi tentang bagaimana ia membawa nilai-nilai pesantren dalam kehidupan.

Selamat Ulang Tahun, Gus

Hari ini, ketika Gus Rozin memasuki usia 50 tahun, saya tidak hanya ingin mengucapkan selamat kepada seorang tokoh.

Saya ingin mengucapkan selamat kepada seorang guru, mentor, teman, sahabat perjalanan.

Seseorang yang saya kenal ketika masih menjadi santri. Seseorang yang saya lihat tumbuh melalui proses dan dinamika yang panjang. Seseorang yang saya saksikan berjuang melewati berbagai fase tantangan kehidupan.

Bagi saya, Gus Rozin adalah bukti bahwa seseorang tidak dibentuk hanya oleh nama besar keluarga atau jabatan yang pernah diemban.

Seseorang dibentuk oleh perjalanan panjang. Oleh nilai yang ia pegang dan ugemi. Oleh cara ia memperlakukan sesama. Oleh keberanian menghadapi kehidupan.

Beliau bukan hanya putra seorang kiai besar.

Beliau adalah seorang santri yang ditempa pesantren dan kehidupan.

Seorang murid yang menerima pesan:

"Ijtihato."

Teruslah berusaha. Teruslah mencari jalan. Teruslah menghadirkan manfaat.

Pada akhirnya, manusia tidak dikenang hanya karena jabatan yang pernah diduduki.

Tetapi sejauhmana orang akan tumbuh menjadi lebih baik, karena pernah berjalan bersamanya.

Sugeng ambal warsa Gus.

Sehat, panjang umur, dan selalu dalam limpahan keberkahan. []

 

Oleh: M. Alfun Niam*

*Santri Kiai Sahal & PCNU Sleman

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Libatkan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy Sebagai Pemeran, Film SATRIA Siap Tayang di KCM Roxy
Mengenal Sosok KH Badrud Tamam, M.H.I.: Jejak Seorang Guru, Ulama Pesantren, dan Pendidik Generasi Nahdliyin
Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.