Bondowoso, (Pesantren.Id) – Perpustakaan perguruan tinggi bukan sekadar ruang yang dipenuhi rak dan buku. Di tangan pengelola yang memiliki semangat inovasi, perpustakaan dapat menjadi salah satu pusat kehidupan akademik mahasiswa. Semangat tersebut mulai dibawa Fatik Lutviana Anggraini, M.Pd, Kepala UPT Perpustakaan Universitas At-Taqwa Bondowoso yang baru.
Sebagai seorang dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fatik hadir dengan perspektif akademik sekaligus energi baru dalam mengenalkan perpustakaan kepada mahasiswa. Hal itu terlihat ketika dirinya menyampaikan materi Program Perpustakaan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) Universitas At-Taqwa Bondowoso, 5 September 2026.
Di hadapan mahasiswa baru, Fatik tidak hanya memperkenalkan perpustakaan sebagai tempat membaca dan meminjam buku. Ia mendorong mahasiswa agar sejak awal menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari perjalanan akademik mereka.
Menurutnya, memasuki perguruan tinggi berarti mahasiswa harus mulai membangun kemampuan belajar secara mandiri. Salah satu kemampuan penting tersebut adalah bagaimana menemukan, memilih dan memanfaatkan referensi yang relevan.
“Mahasiswa perlu mengetahui sejak awal bahwa perpustakaan merupakan salah satu fasilitas yang dapat mendukung proses akademik. Berbagai koleksi dan layanan yang tersedia bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan mahasiswa,” ujar Fatik.
Di bawah pengelolaan barunya, UPT Perpustakaan Universitas At-Taqwa Bondowoso memperkenalkan berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan mahasiswa. Koleksi tersebut meliputi textbooks, reference books, novel, kitab hingga e-book.
Tidak hanya koleksi fisik, mahasiswa juga dapat memanfaatkan ruang baca serta layanan perpustakaan berbasis digital melalui laman perpustakaan Universitas At-Taqwa Bondowoso.
Fatik menilai akses terhadap referensi harus dikenalkan sejak mahasiswa berada di semester awal. Sebab, kebutuhan terhadap sumber bacaan akan terus berkembang seiring meningkatnya tuntutan akademik.
Mahasiswa nantinya akan berhadapan dengan berbagai tugas, penelitian, penyusunan makalah hingga karya ilmiah. Karena itu, kemampuan mencari sumber referensi bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan bagian dari kompetensi akademik.
“Kami ingin mahasiswa tidak kesulitan ketika membutuhkan referensi. Karena itu, alur pencarian dan peminjaman buku juga perlu diketahui sejak awal agar fasilitas perpustakaan bisa digunakan secara maksimal,” jelasnya.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan mekanisme pencarian koleksi melalui OPAC. Mahasiswa dapat mencari buku yang dibutuhkan melalui sistem tersebut, kemudian mencatat nomor klasifikasi untuk menemukan koleksi pada rak yang sesuai.
Setelah menemukan buku, mahasiswa dapat membawanya kepada staf perpustakaan bersama KTM untuk diproses melalui layanan sirkulasi.
Layanan perpustakaan juga tidak berhenti pada peminjaman buku. UPT Perpustakaan menyediakan sejumlah layanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan akademik mahasiswa, termasuk pengumpulan laporan KKN dan PPL, pengumpulan tugas akhir, serta repository.
“Layanan perpustakaan kami tidak hanya berkaitan dengan peminjaman buku. Ada layanan yang berkaitan dengan kebutuhan akademik mahasiswa, termasuk pengumpulan laporan dan tugas akhir serta repository,” ungkap Fatik.
Sebagai dosen yang juga berkecimpung dalam dunia pendidikan, Fatik tampak menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya menerima materi dari dosen di ruang kelas, tetapi perlu memiliki kebiasaan mencari pengetahuan dari berbagai sumber.
Semangat tersebut menjadi penting di tengah perubahan pola belajar mahasiswa yang semakin dekat dengan teknologi digital.
Karena itu, layanan digital juga diperkenalkan kepada mahasiswa baru. Selain mengakses perpustakaan secara langsung, mahasiswa dapat memanfaatkan layanan digital dan aplikasi perpustakaan yang tersedia melalui Google Play.
Menurut Fatik, kemudahan akses harus diimbangi dengan kemauan mahasiswa untuk memanfaatkannya. Fasilitas yang tersedia tidak akan memberikan dampak maksimal apabila mahasiswa tidak memiliki kebiasaan membaca dan mencari referensi.
“Kenali fasilitasnya, pahami alurnya dan manfaatkan layanan yang tersedia. Semakin mahasiswa mengenal perpustakaan, semakin mudah pula mereka memanfaatkan sumber referensi untuk mendukung proses akademiknya,” tutur Fatik.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Fatik membangun kedekatan antara perpustakaan dengan mahasiswa. Perpustakaan diharapkan tidak dipandang sebagai tempat yang hanya dikunjungi ketika mahasiswa mendapatkan tugas dari dosen.
Lebih dari itu, perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang akrab dengan keseharian mahasiswa, tempat mereka membaca, mencari referensi, mengembangkan gagasan dan memperluas wawasan.
Sebagai kepala UPT Perpustakaan yang baru, Fatik memiliki ruang untuk membawa pendekatan baru dalam pengelolaan layanan perpustakaan. Latar belakangnya sebagai dosen PGMI juga menjadi modal akademik untuk memahami kebutuhan mahasiswa sekaligus bagaimana sumber belajar dapat dimanfaatkan secara efektif.
Kehadiran Fatik memberikan warna tersendiri dalam pengenalan perpustakaan pada PK2MB 2026. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan penuh energi, mahasiswa baru diajak melihat perpustakaan bukan sebagai fasilitas pelengkap, melainkan sebagai salah satu bagian penting dalam membangun budaya akademik.
Bagi mahasiswa baru Universitas At-Taqwa Bondowoso, pengenalan tersebut menjadi langkah awal untuk memahami bahwa perjalanan akademik tidak hanya berlangsung ketika dosen memberikan materi di kelas.
Ada buku yang harus dibaca, referensi yang harus dicari, gagasan yang harus dikembangkan dan pengetahuan yang harus terus dikejar.
Karena itu, perpustakaan memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan akademik mahasiswa. Semakin dekat mahasiswa dengan perpustakaan, semakin terbuka pula ruang mereka untuk menemukan pengetahuan baru.
Melalui kepemimpinan baru Fatik Lutviana Anggraini, M.Pd, UPT Perpustakaan Universitas At-Taqwa Bondowoso diharapkan mampu terus berkembang sebagai ruang akademik yang lebih hidup, mudah diakses dan dekat dengan kebutuhan mahasiswa.
Sebab kampus yang ingin melahirkan mahasiswa berpengetahuan tidak cukup hanya menyediakan ruang kuliah. Ia juga membutuhkan perpustakaan yang hidup, koleksi yang dimanfaatkan, serta mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus membaca.
Dan dari perpustakaan itulah, energi baru akademik Universitas At-Taqwa Bondowoso diharapkan terus tumbuh. (Rif)