berpikir out of the box

The beginning of greatness is to be different, and the beginning of failure is to be the same.” – Roy Whittier

Pada umumnya orang dalam menjalani pekerjaan dan hidup itu lebih menyukai jalan yang sudah mapan dan nyaman. Tidak banyak trouble yang harus dihadapi. Tidak memandang orang biasa maupun orang yang terdidik menyikapi hidup dalam zona aman. Namun ada juga sejumlah orang yang selalu ingin keluar dari zona aman. Berpikir berbeda dan berpikir divergen atau berpikir kreatif. Berpikir dan bertindak di luar kebiasaan, yang sering disebut sebagai berpikir out of the box.

Berpikir out of the box adalah kemampuan membuat pemikiran yang tidak biasa atau pemikiran yang mengandung inovasi. Karena itu pemikiran yang terjadi dan hasil pemikiran tidak hanya sekedar berbeda atau melainkan harus memberikan manfaat dan berguna baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Di sini tidak cukup hanya mengembangkan berpikir logis saja, tetapi juga berpikir lateral dan holistik. Dengan begitu hasilnya diharapkan memunculkan alternatif dan solusi yang memiliki nilai kebaruan dan kemanfaatan.

Kalau kita tidak terbiasa berpikir out of the box, artinya kita diam-diam terjebak dalam kungkungan pikiran, teori, dan atau kekuasaan. Kita menjadi statik, stagnan, mandeg, dan berjalan atau berlari di tempat. Tidak ada perubahan dan kemajuan. Wasting time. Adanya seperti tidak adanya, “wujuduhu ka-adamihi”. Bisa-bisa kehilangan momentum. Mendapat perpanjangan usia atau usia lebih tidak termanfaatkan secara baik dan produktif.

Untuk menjadikan hidup kita berubah dan bermakna, kita butuh untuk berbeda dan sekaligus maju, sehingga kita bisa merespon secara proaktif dan produktif terhadap persoalan yang kita hadapi dan kebutuhan yang kuat untuk lahirkan inovasi. Timothy Sykes (2019) menjelaskan bahwa ada beberapa alasan tentang pentingnya berpikir out of the box. Pertama, mempertanyakan status quo adalah sesuatu yang baik. Jika seseorang menerima sesuatu apa adanya, tanpa ada keingintahuan yang lebih jauh tentang sesuatu itu, maka tidak akan pernah bisa dijumpai perbaikan atau inovasi. Jika Thomas Edison tidak pernah menyoal tentang gas, bola lampu dan elektrik, maka tidak ada temuan baru. Di sinilah sangat dihargai munculnya berpikir out of the box.

Kedua, adanya perspektif yang lebih besar. Dunia bisa menjadi lebih kecil jika kita memiliki jiwa tertutup. Berpikir out of the box dapat memperkuat cakrawala, memungkinkan kita memiliki perspektif yang lebih besar terhadap kejadian dalam hidup. Ketika kita ingin mempertimbangkan dalam memilih alternatif solusi terhadap persoalan yang kita hadapi, maka kita bisa menunjukkan lebih banyak pandangan yang berbeda yang memiliki potensi solusi yang lebih baik.

Baca Juga:  Imam Syafi'i Memberikan Kebebasan Berpikir Kepada Santrinya

Ketiga, mampu menghasilkan karya yang berkualitas lebih baik. Perubahan yang sangat sukses cenderung memiliki suatu pendekatan yang berbeda terhadap budaya perusahaan. Kita bisa lihat, sejarah produk suatu perusahaan Mobil Toyota, untuk bisa terus produksinya lalu keras, maka model desain selalu mengalami inovasi yang selalu diawali dengan berpikir out of the box.

Keempat, berpikir out of the box menunjukkan pemecahan masalah yang lebih kreatif. Ketika kita berpikir in the box yang dilawankan dengan berpikir out of the box, maka pertumbuhan karir kita mengalami stunting. Ketika hanya ada sejumlah cara yang dapat dilakukan maka itu berarti bahwa hanya ada sejumlah hal yang bisa dicapai. Jika ini terbiarkan, maka kita mengalami kemandegan. Sebaliknya jika kita bisa mengembangkan berpikir out of the box, berarti kita memiliki peluang alternatif solusi yang lebih banyak. Kita bisa mampu menunjukkan cara-cara yang lebih kreatif dalam memecahkan masalah.

Kelima, berpikir out of the box membantu kita untuk bisa menonjol. Jika kita mampu membiasakan diri untuk tampil out of the box, maka pada esensinya kita mampu berpikir secara berbeda. Kemampuan berpikir out of the box itu bisa menjadi aset sebagai individu atau sebagai institusi/perusahaan. Pemimpin yang profesional atau perusahaan yang unggul mengetahui betul soal ini. Mari kita perhatikan perusahaan Apple, yang bisa dipetik dari Apple adalah prinsip “Think Different

Keenam, berpikir out of the box membantu kita untuk tetap tinggal secara adaptif. Apapun posisi kita, karir akan berubah sepanjang waktu. Jika kita mau survive, maka kita harus bisa merubah diri untuk menyesuaikan dengan tuntutan di luar. Beradaptasi secara produktif menjadi kebutuhan. Untuk mewujudkan itu perlu terus dijaga kemampuan berpikir out of the box.

Memperhatikan akan pentingnya berpikir out of the box, maka di antara kita perlu mengembangkan cara berpikir out of the box dengan cara, (1) keluar dari zona nyaman, (2) tinggalkan keraguan, (3) dengarkan orang lain, terbuka dan menerima, (4) Keterbukaan untuk melakukan hal yang berbeda dan melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda, (5) berani mengambil resiko, dan (6) komitmen berbuat yang berbeda untuk mengharapkan rahmat.

Baca Juga:  Kebebasan dan Sikap Kita

Demikian beberapa hal penting terkait dengan berpikir out of the box. Kita sekarang sedang menghadapi ketidakpastian, ketidakmenentukan (uncertainty). Untuk bisa survive kita tidak cukup berpikir standar, normal. Kita harus ada keberanian kreatif atau keberanian moral untuk berpikir out of the box. Jika kita hanya menunjukkan berpikir as usual, ya kita terjebak dalam kemandegan. Kita bisa mati berdiri. Adalah sangat wajar jika kita harus cari way out terhadap persoalan pandemi yang berat ini. Apalagi sampai menggerus tidak hanya kehidupan kesehatan saja, melainkan kehidupan ekonomi, pendidikan, sosial, agama dan lainnya bahkan bisa potensial mendorong terjadinya krisis multidimensi. Semoga semakin banyak orang yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan berpikir out of the box secara produktif. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] Baca Juga:  Berpikir Out Of The Box […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini